JAKARTA - Industri penerbangan nasional mulai merasakan tekanan berat dari pelemahan nilai tukar rupiah dan tingginya biaya avtur.
Rupiah melemah hingga 7,78%, biaya maskapai makin tertekan.
Maskapai mulai kurangi penerbangan domestik dan internasional.
Fuel surcharge naik 40%, harga tiket diperkirakan terdampak 8%.
Dari sumbernya mengatakan, pengurangan frekuensi penerbangan menjadi salah satu pilihan yang harus ditempuh maskapai untuk mengendalikan biaya.
“Mau tidak mau seperti itu untuk melakukan efisiensi operasional perusahaan,” katanya.
Bukan hanya rupiah yang membuat maskapai ngos-ngosan.
Kenaikan harga avtur juga menjadi salah satu sumber tekanan terbesar terhadap biaya operasional.
Dari sumbernya menyebut terdapat dua faktor utama yang saat ini menekan biaya maskapai, yakni harga avtur dan pergerakan dollar AS.
“Faktor pertama avtur, kedua dollar AS.”
Salah satu bentuk efisiensi yang dilakukan adalah mengurangi frekuensi penerbangan.
Strategi ini memungkinkan maskapai menyesuaikan kapasitas dengan kondisi pasar sekaligus mengurangi beban operasional pada rute-rute tertentu.