JAKARTA - Pihak pemerintah secara resmi mengoperasikan Program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 gigawatt peak (GWp) pada penghujung Agustus lalu sebagai terobosan strategis demi mewujudkan kemandirian energi serta memacu laju pertumbuhan ekonomi nasional.
Pengoptimalan pasokan energi surya skala besar yang dikombinasikan dengan sistem BESS menghadirkan peluang bagi PT PLN (Persero) guna menata potensi energi lokal menjadi suplai listrik yang lebih hemat serta ramah lingkungan sekaligus menekan pemanfaatan bahan bakar fosil di jaringan kelistrikan.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dari sumbernya menjelaskan bahwa pembangunan fasilitas PLTS 100 GWp yang ditopang teknologi BESS menyimpan potensi efisiensi dana yang signifikan bagi negara, terutama dari pengurangan konsumsi BBM pembangkit.
"Ini mampu menghemat APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) kami dari subsidi solar. Dan rata-rata kami targetkan total listrik yang ada di Indonesia masih ada 12,6 GW yang memakai solar. Dari 12,6 GW itu kami menghasilkan minyak kami, itu kurang lebih equal dengan 230 sampai dengan 250 ribu barel per day. Jadi kalau ini mampu kami lakukan, maka penurunan terhadap impor BBM khususnya dari solar akan turun dan semuanya akan memakai energi nasional," ujar dari sumbernya.
Dari sumbernya memaparkan, agenda PLTS 100 GWp berpeluang mencatatkan pangkasan beban hingga Rp73,9 triliun tiap tahunnya, yang bersumber dari efisiensi PLTS dan BESS ketimbang pembangkit bertenaga gas uap maupun diesel.
Selain menyumbang faedah secara fiskal, inisiatif ini turut ditujukan guna menguatkan ekosistem industri domestik, memperluas jangkauan dan ketahanan energi, serta mengawal transisi energi dan pembangunan yang berkelanjutan.
"Terlebih lagi, Indonesia sudah memiliki industri panel surya dan industri baterai penyimpanan listrik/BESS di dalam negeri, sehingga melalui PLTS 100 GWp kami betul-betul akan berdiri di atas kaki kami sendiri," ucap dari sumbernya.
Di samping meminimalisasi ketergantungan pada energi fosil, pengolahan energi matahari turut memberikan kontribusi positif bagi kelestarian lingkungan lewat reduksi emisi gas rumah kaca (GRK).
Bila dikalkulasi menyeluruh, Program PLTS 100 GWp sanggup memotong emisi GRK hingga rentang 140,16 juta ton CO? tiap tahunnya, beriringan dengan dibukanya peluang pasar karbon bernilai Rp6,31 triliun.
Pada fase awal, pengerjaan Program PLTS 100 GWp mencakup 14 proyek dengan total daya tembus 5,3 GWp yang tersebar pada pelbagai area di Indonesia.
Mengenai efisiensi penggunaan energi, pengerjaan fase awal tersebut berpotensi memangkas pemakaian BBM sampai 319.998 kiloliter (kl) tiap tahun serta menghemat konsumsi gas alam sebanyak 35,66 ribu MMSCF tiap tahun atau setara 36.980 BBTU.
Bukan cuma itu, proyek ini berpotensi memberikan efisiensi APBN hingga Rp4,6 triliun tiap tahun untuk belanja listrik.
Satu suara dengan Menteri ESDM, Direktur Utama PLN dari sumbernya mengemukakan bahwa ekspansi PLTS skala raksasa merupakan bagian dari strategi kunci untuk memaksimalkan potensi energi surya nasional sekaligus memperkuat kedaulatan energi.
“Program PLTS 100 GWp merupakan bagian dari langkah strategis Pemerintah untuk mengoptimalkan potensi energi baru terbarukan (EBT), khususnya energi surya yang melimpah di Indonesia. Dengan meningkatkan pemanfaatan energi surya, kami dapat mengurangi ketergantungan pembangkit listrik terhadap bahan bakar fosil sekaligus menciptakan efisiensi biaya energi. Kami beralih dari energi kotor menjadi energi bersih, dari energi impor menjadi energi domestik, serta dari energi mahal menjadi energi yang lebih murah,” ujar dari sumbernya.
Dari sumbernya meneruskan, pengerjaan PLTS berteknologi BESS turut menjadi bagian utama dari modernisasi sistem ketenagalistrikan nasional.
Aplikasi teknologi tersebut memungkinkan daya surya yang sifatnya intermiten sanggup diintegrasikan secara optimal ke sistem kelistrikan, sembari mendongkrak pengolahan sumber daya energi lokal dan terbarukan.
Pada aspek lain, proyek Program PLTS 100 GWp dipastikan memberikan kontribusi ekonomi lewat pembukaan lapangan kerja baru serta penguatan rantai pasok industri dalam negeri.
Bila dirinci, program ini diprediksi menyerap kisaran 5,518 juta tenaga kerja, yang terbagi atas 3,465 juta pekerja sektor konstruksi dan 2,053 juta pekerja pada sektor manufaktur.
“Pengembangan PLTS merupakan salah satu upaya dalam membangun sistem energi yang lebih mandiri, efisien, dan berkelanjutan. Program ini diharapkan tidak hanya mendorong transisi menuju energi bersih, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap penguatan ekonomi nasional melalui penciptaan lapangan kerja, pengentasan kemiskinan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” tutup dari sumbernya.