Triputra Agro Persada Kembangkan 52 BUMDes, Mitigasi Risiko Karhutla di Wilayah Operasional

Triputra Agro Persada Kembangkan 52 BUMDes, Mitigasi Risiko Karhutla di Wilayah Operasional

MEDIAKEUANGAN.ID — Upaya perusahaan perkebunan kelapa sawit ini berfokus pada dua tantangan utama: diversifikasi ekonomi masyarakat agar tidak bergantung pada sawit, serta menjaga lingkungan dari risiko Karhutla di sekitar area operasional. Berkat konsistensi program tersebut, TAPG baru saja menerima Anugerah Ekonomi Hijau dari detikcom untuk kategori Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Mitigasi Risiko Lingkungan.

Diversifikasi Usaha untuk Kurangi Ketergantungan pada Sawit

Melalui DMPA, TAPG mendorong pertumbuhan unit usaha lokal dengan pembentukan BUMDes sebagai mitra penggerak ekonomi. Perusahaan menyediakan modal usaha, pembinaan, dan pendampingan secara berkelanjutan. Pada 2025, fokus diversifikasi diarahkan pada sektor perikanan, pertanian, peternakan, serta usaha jasa.

Tidak hanya membentuk badan usaha, TAPG juga melakukan sosialisasi dan kajian potensi desa secara partisipatif. Pendekatan ini dirancang agar pengembangan ekonomi sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan masing-masing desa, bukan sekadar program seragam dari pusat.

Masyarakat Jadi Garda Terdepan Pencegahan Karhutla

Dari sisi mitigasi risiko lingkungan, perusahaan menempatkan masyarakat sebagai aktor utama pencegahan kebakaran melalui pendekatan edukatif. TAPG membentuk Kelompok Tani Peduli Api (KTPA) yang mendapat pelatihan rutin serta sarana prasarana penanganan kebakaran.

Sebanyak 52 desa telah menerima sosialisasi program DMPA dan KTPA pada tahun ini. Sebagai bentuk apresiasi, perusahaan memberikan penghargaan Desa Bebas Karhutla (DBK) bagi desa yang berhasil menjaga wilayahnya dari kebakaran. Langkah ini memperkuat koordinasi dengan para pemangku kepentingan di tingkat lokal.

Menyeimbangkan Bisnis dan Keberlanjutan Jangka Panjang

Bagi TAPG, program ini bukan sekadar tanggung jawab sosial, melainkan bagian dari strategi mitigasi risiko operasional. Kebakaran lahan sering kali menjadi sumber konflik dan kerugian ekonomi bagi perusahaan perkebunan maupun masyarakat sekitar.

"Praktik bisnis yang selaras dengan pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat adalah kunci untuk menciptakan nilai jangka panjang yang berkelanjutan," demikian pernyataan resmi perusahaan dalam keterangannya.

Anugerah Ekonomi Hijau sendiri diberikan kepada korporasi yang dinilai memiliki kepedulian tinggi terhadap aspek environmental, social, and governance (ESG). Penilaian dilakukan Komite Asesmen detikcom melalui analisis kualitatif terhadap dampak dan komitmen keberlanjutan dari setiap inisiatif yang dijalankan peserta.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index