MEDIAKEUANGAN.ID — Rencana ini muncul di tengah kabar bakal diresmikannya pabrik BYD di Indonesia. Setelah dua tahun hanya mendatangkan unit utuh dari China, pabrikan asal Shenzhen itu kini mulai menyiapkan lini produksi lokal. Namun dari seluruh lini produk yang dijual di Tanah Air, baru dua nama yang dipastikan masuk jalur perakitan.
Target Mei-Juni untuk Perakitan Perdana
Proses produksi disebut berjalan mundur dari target awal yang sempat dirancang pada kuartal pertama 2026. Kini indikasi terbaru mengarah pada kurun Mei-Juni tahun ini. Persiapan produksi dan pemenuhan komponen lokal menjadi alasan utama di balik penyesuaian jadwal tersebut.
Kabar ini tentu menjadi angin segar, tetapi juga menimbulkan pertanyaan besar soal masa depan model lain seperti Seal, Dolphin, dan Sealion 7 yang masih didatangkan secara utuh. Untuk saat ini, prioritas pabrik benar-benar dipusatkan pada model dengan permintaan tertinggi.
Mengapa M6 dan Atto 1 Jadi Prioritas
Keputusan menjadikan M6 dan Atto 1 sebagai model pertama rakitan lokal bukan tanpa alasan. Keduanya tercatat mampu bertengger di posisi teratas pasar mobil listrik murni (BEV) nasional selama dua tahun beruntun. Atto 1 menjadi andalan di segmen SUV kompak, sementara M6 menguasai ceruk MPV listrik dengan performa penjualan yang konsisten.
Bahkan untuk M6, varian terbaru yang mengusung teknologi PHEV langsung mencuri perhatian konsumen. Dalam dua bulan kehadirannya, versi ini disebut berhasil merebut posisi pertama di kelasnya. Popularitas itulah yang mendorong BYD mempercepat langkah perakitannya di dalam negeri.
Stok CBU Harus Habis Lebih Dulu
Menariknya, kenaikan penjualan Atto 1 beberapa bulan terakhir tidak serta-merta berasal dari unit produksi lokal. Pencapaian itu masih ditopang oleh sisa stok CBU yang harus dikuras habis sebelum lini perakitan beroperasi penuh. Pola yang sama juga berlaku untuk M6.
Strategi ini dilakukan agar transisi dari mobil impor ke mobil rakitan lokal berjalan mulus tanpa mengganggu pasokan ke diler. Begitu stok impor menipis, unit dari pabrik lokal akan langsung mengisi kekosongan tersebut.
Nasib Seal, Sealion 7, dan Denza D9
Pertanyaan terbesar kini mengarah pada model lain yang selama ini ikut meramaikan penjualan BYD di Indonesia. Sealion 7 misalnya, catatan penjualannya di segmen SUV terbilang lebih baik dibanding Atto 3. Lalu ada Seal yang berkompetisi di kelas sedan listrik hingga Denza D9 sebagai jagoan MPV premium.
Sayangnya, ketiganya masih harus bersabar. BYD tampak memilih menunggu waktu yang tepat sebelum memperluas jangkauan perakitan lokal. Faktor segmentasi pasar menjadi pertimbangan—sedan tidak selaris SUV atau MPV di Indonesia, sehingga opsi impor utuh dinilai lebih masuk akal untuk Seal.
Denza D9 punya situasi berbeda. Kelas MPV premium di Indonesia memang masih didominasi model impor utuh macam Toyota Alphard. Pengecualian ada pada XPeng X9 yang sudah lebih dulu dirakit lokal sejak tahun lalu, menjadikannya yang pertama di segmen ini.
Aturan TKDN Menanti
Percepatan perakitan lokal ini juga berkaitan erat dengan regulasi. Tahun depan, aturan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) untuk kendaraan ramah lingkungan akan semakin ketat. BYD perlu menyesuaikan diri agar model-modelnya tetap bisa dibanderol kompetitif.
Di sisi lain, tingginya komponen lokal justru menguntungkan konsumen. Harga jual berpotensi turun, dan daya tarik mobil listrik di pasar domestik bisa naik kelas. Semuanya bergantung pada kesiapan industri komponen dalam negeri serta fluktuasi permintaan pasar ke depan.