Danantara Suntik VKTR hingga Rp 2 Triliun untuk Ekspansi Bisnis Bus dan Truk Listrik

Danantara Suntik VKTR hingga Rp 2 Triliun untuk Ekspansi Bisnis Bus dan Truk Listrik

MEDIAKEUANGAN.ID — VKTR tengah bersiap memperkuat fondasi bisnisnya setelah membukukan kinerja solid pada paruh pertama tahun ini. Pendapatan bersih perseroan melonjak 56,17% menjadi Rp 646,62 miliar, ditopang penjualan komponen suku cadang dan besi bekas yang mencapai Rp 533,53 miliar serta penjualan kendaraan bermotor listrik Rp 114,72 miliar.

Meski beban pokok penjualan ikut naik menjadi Rp 534,17 miliar dari Rp 334,90 miliar, perseroan tetap mampu mempertahankan profitabilitas. Laba bersih VKTR tumbuh 25% year on year dari Rp 8,05 miliar menjadi Rp 10,08 miliar. Danantara Masuk, Beri Opsi Konversi

Rencana pendanaan dari Danantara tertuang dalam indicative non-binding term sheet yang diteken VKTR bersama PT Danantara Investment Management (DIM). Dalam kesepakatan awal itu, induk usaha VKTR, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), bertindak sebagai penanggung.

Nilai pokok pendanaan direncanakan maksimal Rp 2 triliun dengan hak opsi konversi yang ketentuannya bakal diatur dalam dokumen definitif. DIM akan berperan sebagai investor dalam skema pembiayaan ini.

Direktur VKTR Indah Permatasari Saugi menegaskan bahwa penandatanganan term sheet merupakan bagian dari proses penjajakan awal para pihak.

"Penandatanganan Term Sheet tersebut merupakan bagian dari proses penjajakan dan pembahasan awal para pihak sehubungan dengan potensi kerja sama berupa pendanaan untuk mendukung pengembangan dan ekspansi kegiatan usaha," ujarnya dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI). Modal untuk Perbanyak Armada Bus dan Truk Listrik

Dana yang masuk nantinya diprioritaskan untuk pembiayaan pengadaan bus listrik dan truk listrik. Penggunaan lain akan disepakati lebih lanjut dalam dokumen definitif yang mengikat.

VKTR menyatakan rencana pendanaan ini tidak berdampak negatif material terhadap operasional maupun kondisi keuangan perseroan. Sebaliknya, langkah ini dipandang strategis untuk mendorong pertumbuhan pendapatan di masa mendatang.

Jika dokumen definitif diteken dan transaksi mengikat, VKTR akan tunduk pada aturan transaksi afiliasi, benturan kepentingan, dan transaksi material sesuai ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Porsi Laba Anak Usaha Masih Mendominasi

Struktur kepemilikan VKTR di sejumlah anak usaha menjadi catatan tersendiri. Sebesar 88,79% dari total laba bersih perseroan, atau Rp 8,95 miliar, dinikmati pemegang saham nonpengendali. Pemilik entitas induk hanya menerima porsi Rp 1,12 miliar.

Kondisi ini mencerminkan besarnya kontribusi anak usaha yang belum sepenuhnya dimiliki VKTR. Salah satunya, PT VKTR Sakti Industries (VSI) yang bergerak di bidang perakitan kendaraan bermotor, hanya 60% dimiliki VKTR. Sisanya 40% menjadi hak kepentingan nonpengendali.

Sepanjang 2025, VSI tercatat menerima tambahan modal Rp 100 miliar dari pemegang saham nonpengendali. Sementara itu, kepemilikan VKTR di PT Sarana Ekomobilitas Indonesia (SEI) meningkat signifikan dari 51% pada akhir 2025 menjadi 99,99% per 30 Juni 2026.

Di PT Braja Mukti Cakra (BMC), VKTR hanya memegang 50% secara tidak langsung melalui PT Bakrie Autoparts. Separuh laba BMC otomatis menjadi hak pemegang saham nonpengendali.

Dengan suntikan dana segar dari Danantara, VKTR berpeluang mempercepat ekspansi di segmen mobility-as-a-service (MaaS) yang menjadi pilar bisnis hijau Grup Bakrie. Namun, realisasi pendanaan masih menunggu penandatanganan dokumen definitif.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index