Inflasi Juli 2026 2,88%, Deflasi Bulanan 0,14% - BPS

Inflasi Juli 2026 2,88%, Deflasi Bulanan 0,14% - BPS

Harga Pangan Naik, Daya Beli Tetap Terjaga

MEDIAKEUANGAN.ID — Deflasi bulanan 0,14% pada Juli 2026 menunjukkan tekanan harga jangka pendek yang mereda. Namun, secara tahunan, kenaikan harga masih terjadi, terutama didorong oleh komponen makanan, minuman, dan tembakau.

Menariknya, harga emas perhiasan menjadi faktor ganda dalam data bulan ini. Dibandingkan Juli 2025, harga emas perhiasan jauh lebih tinggi sehingga menjadi pendorong utama inflasi tahunan. Namun, secara bulanan, harga emas perhiasan justru turun 3,58%, yang menahan laju inflasi bulan tersebut. Fenomena ini menggambarkan volatilitas harga komoditas jangka pendek yang bisa berlawanan arah dengan tren tahunannya.

Inflasi Tidak Merata: Papua Barat Tertinggi, Papua Selatan Terendah

Tekanan harga di Indonesia tidak seragam antardaerah. BPS mencatat inflasi tahunan tertinggi di tingkat provinsi terjadi di Papua Barat sebesar 5,47%, sementara terendah di Papua Selatan dengan 1,46%. Di tingkat kabupaten/kota, Aceh Tengah mencatat inflasi tertinggi mencapai 6,91%, sedangkan Minahasa Utara menjadi yang terendah dengan 1,00%.

Perbedaan ini dipengaruhi faktor lokal seperti ketersediaan pasokan pangan, biaya distribusi dan logistik, serta kondisi permintaan di masing-masing daerah. Wilayah dengan akses logistik sulit cenderung mengalami tekanan harga lebih tinggi.

Bagaimana BPS Menghitung Inflasi?

BPS menghitung inflasi berdasarkan Indeks Harga Konsumen (IHK), yang mengukur perubahan harga dari sekumpulan barang dan jasa yang umum dikonsumsi rumah tangga. Prosesnya dimulai dengan memilih paket komoditas yang mewakili pola konsumsi masyarakat, lalu melakukan survei harga secara berkala di berbagai kota di seluruh provinsi.

Setiap komoditas diberi bobot sesuai porsi pengeluarannya dalam paket konsumsi, kemudian digabungkan menjadi IHK. Inflasi tahunan dihitung dari perubahan IHK dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya, sementara inflasi bulanan dihitung dari perubahan dibanding bulan sebelumnya.

Proyeksi Agustus 2026: Konsensus Pasar di 3,13%

Terkait rilis data periode Agustus 2026, konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia pada 30 Agustus 2026 memperkirakan inflasi tahunan berada di kisaran 3,13%, dengan deflasi bulanan sekitar 0,2%. Namun, perlu digarisbawahi, angka ini hanyalah proyeksi pasar dan bukan data resmi.

BPS dijadwalkan merilis data resmi pada hari kerja pertama September 2026. Angka aktual bisa berbeda signifikan tergantung pergerakan harga pangan, energi, dan komoditas lain hingga akhir bulan.

Artinya bagi Masyarakat dan Investor

Data inflasi ini penting untuk memantau daya beli dan menyesuaikan anggaran rumah tangga. Bagi investor, angka ini menjadi salah satu indikator yang dipantau Bank Indonesia dalam menentukan suku bunga acuan (BI Rate), yang pada akhirnya memengaruhi biaya pinjaman dan imbal hasil instrumen keuangan.

Perlu diingat, inflasi headline dan inflasi inti bisa memberikan sinyal berbeda. Mengandalkan satu angka saja berisiko menyesatkan, karena faktor domestik dan global — termasuk kebijakan suku bunga bank sentral negara lain — dapat memengaruhi inflasi Indonesia secara bersamaan. Selalu tunggu rilis resmi BPS sebelum mengambil kesimpulan atau keputusan transaksi.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index