Capaian Laba BCA Senilai Rp35,3 Triliun Per Juli 2026 Serta Analisis

Capaian Laba BCA Senilai Rp35,3 Triliun Per Juli 2026 Serta Analisis
Ilustrasi Gedung BCA (FOTO: NET)

JAKARTA - PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengamankan raihan laba bersih akumulatif di angka Rp35,3 triliun hingga Juli 2026 atau tumbuh 2 persen secara tahunan, dipicu oleh pertumbuhan penyaluran kredit korporasi dan kuatnya perolehan dana murah.

Total ekspansi pembiayaan BCA melampaui Rp1.035,6 triliun atau tumbuh 8 persen secara tahunan, di mana segmen korporasi menjadi motor pendorong utama setelah melonjak 13,6 persen mencapai Rp513,4 triliun.

Sektor pendukung pembiayaan ini mencakup teknologi informasi, tenaga listrik, serta mineral, sementara segmen konsumer terpantau stagnan.

Hasil pendapatan bunga bersih hingga Juli 2026 merangkak naik 0,3 persen secara kumulatif terimbas koreksi margin bunga bersih sebesar 20 basis poin menuju level 5,5 persen.

Namun, untuk kurun waktu Juli 2026 saja, perseroan berhasil mengumpulkan laba bersih Rp5,1 triliun atau tumbuh 5 persen jika dibandingkan periode serupa tahun lalu.

Hasil positif perseroan ini juga disokong oleh peningkatan pre-provision operating profit (PPOP) edisi Juli 2026 yang mencapai Rp6,5 triliun atau naik 9 persen secara bulanan.

Komposisi dana murah (CASA) terus tumbuh kokoh hingga menempati tingkat 85,4 persen pada Juli 2026 dengan jumlah Rp1.082,3 triliun.

Mutu aset emiten bank swasta ini senantiasa terjaga dengan rasio kredit macet (NPL gross) di posisi 1,8 persen sampai 1,9 persen, serta loan at risk (LAR) pada angka 4,9 persen.

Torehan kinerja keuangan lembaga ini menjadi fokus pencermatan kalangan pengamat pasar modal terkait ketahanan margin serta tata kelola pendanaan perseroan.

"Laba bersih BCA (BBCA) pada semester I-2026 masih resilien, dengan pertumbuhan 1,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya atau secara tahunan (year on year/yoy)," tulis dari sumbernya dalam risetnya.

Kenaikan pre-provision operating profit korporasi ini tercatat berada di angka 2,5 persen secara tahunan sampai medio tahun ini.

"Pendapatan non-bunga yang lebih kuat juga membantu BBCA menahan dampak pelemahan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) dan tekanan NIM," sebut dari sumbernya.

Analis dari sumbernya menganggap capaian perseroan sejauh ini tetap berada pada lajur yang sesuai.

Dari sumbernya mempertahankan rekomendasi beli saham BBCA pada target harga Rp8.700, lalu dari sumbernya menetapkan target harga Rp8.075 dan dari sumbernya mematok target Rp7.000.

Di pasar modal, investor luar negeri mencatatkan aksi beli bersih atas saham BBCA dengan nilai mencapai Rp259,73 miliar sejak 12 Agustus 2026.

Pergerakan saham BBCA dibuka datar pada kisaran Rp6.450 per lembar dalam sesi perdagangan Senin (24/8/2026).

Halaman

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index