IHSG Melemah 1,53 Persen Tertekan Kurs Rupiah Dan Minyak Mentah Dunia

IHSG Melemah 1,53 Persen Tertekan Kurs Rupiah Dan Minyak Mentah Dunia
Nilai tukar rupiah kembali melemah 0,60% terhadap dolar AS, mengakhiri reli penguatan selama 4 hari. (FOTO: NET)

JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 1,53 persen atau berkurang 97,49 poin menuju posisi 6.267,88 pada sesi perdagangan Selasa (11/8), terimbas oleh depresi nilai tukar rupiah dan kenaikan harga minyak mentah.

Nilai akumulasi transaksi di bursa saham domestik menyentuh Rp14,51 triliun, yang mencakup perdagangan 35,4 miliar lembar saham dengan frekuensi transaksi sebanyak 2,20 juta kali.

Sejumlah 542 saham berada di zona merah hingga penutupan sesi, di mana cuma 141 saham yang mampu terangkat dan 108 saham lainnya tidak mengalami perubahan.

Hampir seluruh indeks sektoral ikut terseret, dengan penurunan tertajam dicatatkan oleh sektor industri sebesar 3,49 persen.

Di sisi lain, sektor kesehatan menjadi satu-satunya yang berhasil tumbuh, walau cuma 0,19 persen.

Pengamat dari sumbernya berpandangan beberapa faktor eksternal dan internal ikut menekan pergerakan bursa saham hari ini.

Faktor pendorongnya mencakup depresiasi rupiah, kenaikan harga komoditas minyak akibat ketidakpastian konflik di Timur Tengah, hingga merosotnya angka penjualan kendaraan roda empat di tanah air.

Dilihat dari analisis teknikal, pengamat dari sumbernya menyebutkan bahwa histogram positif pada indikator MACD IHSG kian menyempit.

Di saat bersamaan, Stochastic RSI bergerak melandai di area pivot.

“IHSG ditutup di bawah level MA10, namun masih bertahan di atas MA20,” terang pengamat dari sumbernya, seraya menggarisbawahi adanya potensi penurunan berlanjut pada sesi pasar berikutnya.

Penurunan di hari ini menempatkan IHSG kembali sebagai indeks dengan performa terendah di kawasan negara berkembang Asia Pasifik.

Indeks bursa kawasan Asia lainnya bergerak variatif, di mana KOSPI Korea Selatan memimpin zona hijau sebesar 0,73 persen dan PCOMP Filipina naik 0,60 persen.

Beralih ke pasar mata uang, rupiah tertekan 0,60 persen ke posisi Rp17.861 per dolar Amerika Serikat (AS).

Pelemahan ini memutus tren penguatan rupiah yang sempat terjadi selama empat hari berturut-turut.

Mata uang kawasan seperti peso Filipina turut tergerus 0,84 persen seiring menguatnya indeks dolar AS (DXY), serta baht Thailand yang terdepresiasi 0,49 persen.

Adapun harga minyak mentah varian WTI terangkat 2,26 persen hingga awal sesi London dan berada di posisi US$83,99 per barel.

Harga minyak tipe Brent juga terkerek 1,95 persen ke level US$89,43 per barel.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index