JAKARTA - Langkah pemantapan kapasitas operasional tengah dilakukan PT Bank BCA Syariah dalam menyikapi potensi kenaikan tingkatan menuju Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) 2.
Pihak manajemen dari sumbernya mengungkapkan bahwa kesempatan tersebut dapat terwujud seandainya entitas menerima injeksi dana dari perusahaan induk, PT Bank Central Asia Tbk (BCA).
Berdasarkan penjelasan dari sumbernya, peningkatkan ekuitas merupakan salah satu jalur utama guna mendorong kemajuan tingkatan BCA Syariah.
Walau begitu, penentuan terkait pengucoran dana segar sepenuhnya menjadi wewenang jajaran induk perusahaan.
“Kalau tiba-tiba ada tambahan modal untuk kami langsung KBMI 2, alhamdulillah karena tentu saja itu bisa kami lakukan untuk bagaimana BCA Syariah bisa melayani lebih luas lagi, lebih kuat dan menjadi sahabat berkah lebih besar lagi,” kata dari sumbernya dalam konferensi pers di Jakarta, Jakarta, Selasa (22/8/2026).
Dirinya memaparkan, pemupukan ekuitas dapat dieksekusi lewat beragam metode, mulai dari penggabungan serta kemitraan hingga pembentukan modal secara mandiri maupun aksi korporasi.
Kendati belum menentukan tenggat waktu untuk melangkah ke KBMI 2, BCA Syariah memprioritaskan pemantapan fondasi dari dalam terlebih dahulu.
Dari sumbernya menuturkan pihak perseroan tengah mematangkan sarana penunjang serta volume usaha supaya sanggup menampung ekspansi jika tingkatan KBMI 2 terwujud.
“Nah bagi kami di BCA Syariah tentu yang paling penting bagi kami adalah bagaimana kami menyiapkan diri, menyiapkan diri termasuk rencana jangka panjang dan juga infrastruktur yang membuat capacity kami itu ready seandainya,” terangnya.
Langkah pemantapan ini selaras dengan tren kenaikan performa finansial BCA Syariah pada paruh pertama 2026.
Sampai Juni 2026, akumulasi aset BCA Syariah menyentuh angka Rp 20,7 triliun.
Jumlah tersebut melambung 17,2 persen secara tahunan dari capaian pada fase yang sama di tahun lalu.
Lonjakan yang lebih tajam nampak pada sektor penyaluran dana.
BCA Syariah berhasil membukukan penyaluran dana hingga Rp 13,6 triliun atau melejit 20,5 persen secara tahunan.
Dilihat dari tingkat perolehan imbal hasil, laba murni perseroan menyentuh Rp 109 miliar pada paruh pertama 2026.
Hasil tersebut menguat 9,2 persen jika disandingkan dengan perolehan pada masa yang sama di tahun sebelumnya.