Kinerja Positif BCA Syariah Cetak Laba Rp 109 Miliar Di Semester I 2026

Kinerja Positif BCA Syariah Cetak Laba Rp 109 Miliar Di Semester I 2026
Ilustrasi BCA Syariah (FOTO: NET)

JAKARTA - Capaian positif diraih PT Bank BCA Syariah dengan membukukan laba bersih Rp 109,4 miliar hingga periode Juni 2026.

Angka laba tersebut mengalami kenaikan 9,2 persen bila dibandingkan perolehan periode sebelumnya yang sebesar Rp 100,1 miliar.

Pejabat perusahaan, Pranata, menyampaikan bahwa melesatnya keuntungan ini disokong oleh kenaikan perolehan pembiayaan, sejalan dengan ekspansi pembiayaan yang tumbuh 20,5 persen secara tahunan.

Merujuk pada keterbukaan informasi perseroan, perolehan pembiayaan melonjak 16,6 persen dari Rp 439,8 miliar pada Juni 2025 menjadi Rp 512,9 miliar pada pertengahan 2026.

Di sisi lain, perolehan dari divisi treasury mengalami koreksi 4,6 persen menjadi Rp 176,6 miliar.

“Kalau kami lihat financing income kami tumbuh 16,6 persen seiring dengan pertumbuhan pembiayaan,” kata pejabat perusahaan dari sumbernya.

Ia memaparkan bahwa landainya hasil treasury merupakan efek dari penurunan suku bunga acuan bank sentral.

Situasi ini memberikan imbas langsung bagi instrumen treasury berjangka pendek serta menengah.

Sementara itu, pengeluaran biaya dana perseroan mengalami kenaikan 5,8 persen mencapai Rp 267,3 miliar.

Faktor pendorongnya yaitu lonjakan volume simpanan nasabah, meskipun pihak manajemen telah mengupayakan efisiensi biaya dana.

“Funding-nya BCA syariah tumbuhnya di kisaran 10,7 ya. Tapi cost of fund kami bisa kami manage, kenaikannya hanya di kisaran 5,8,” ujarnya.

Atas hasil tersebut, margin keuntungan perseroan terdongkrak 13,4 persen menjadi Rp 422,3 miliar.

Hasil operasional turut naik 14,6 persen hingga mencapai angka Rp 460 miliar.

Peningkatan juga dialami oleh perolehan komisi dan pendapatan lain yang melonjak 30,4 persen menjadi Rp 37,7 miliar.

Menurut pejabat perusahaan, kenaikan ini berbanding lurus dengan melesatnya pembiayaan, pembukaan akun simpanan, serta aktivitas transaksi pelanggan.

“Transfer-transfer seperti RTGS, SKN itu tumbuh 74 persen. Kemudian QRIS, memang sekarang lagi primadona ya, ini tumbuh 280 persen. Dan tentunya transaksi BI-FAST pun juga cukup baik, tumbuhnya 135 persen,” katanya.

Di samping itu, lini KPR perseroan juga mencatatkan pertumbuhan 26,1 persen secara tahunan menjadi Rp 1,72 triliun pada Juni 2026, dari angka Rp 1,36 triliun pada periode lalu.

“Yang kami lakukan tentu saja kerja sama dengan developer juga kami tingkatkan. Kerja sama dengan broker juga terus kami tingkatkan,” ucapnya.

Perseroan turut menawarkan tingkat margin yang kompetitif karena menjamin skema cicilan tetap kepada pengguna hingga jangka waktu 15 tahun.

Menurut pejabat perusahaan, jaminan angsuran stabil ini menjadi magnet utama pembiayaan rumah syariah dibandingkan opsi konvensional yang dapat berubah.

“Tapi kalau di kami itu bisa 7,5 (EFR/suku bunga efektif)...sampai lunas 15 tahun nanti tetap 7,5. Kadi kepastian itu juga menarik bagi nasabah kami. Itu yang membuat produk KPR BCA syariah cukup mendapat inilah hati di nasabah-nasabah kami,” jelasnya.

Dilihat dari kualitas portofolio pembiayaan, tingkat NPF perseroan tercatat sedikit naik pada posisi Juni 2026 di angka 2,2 persen.

Meski demikian, manajemen memastikan tingkat risiko tersebut masih berada dalam cakupan yang aman dan terkendali.

“NPF kami di Juni agak sedikit naik dibandingkan dengan year-on-year, seiring dengan pertambahan pembiayaan yang kami salurkan. Namun masih di bawah, masih bisa kami kontrol. Karena memang masih di bawah yang target yang kami inginkan,” kata pimpinan perseroan, Ina Widjaja.

Ia mengungkapkan, tekanan terbesar utamanya dirasakan oleh nasabah dari sektor usaha kecil dan menengah.

“Kami akan melakukan hal-hal yang sebisa mungkin supaya nasabah-nasabah kami ini bisa menghadapi semua kesulitan-kesulitan yang ada di dalam ekonomi, di dalam semester kedua ini. Sehingga kami bisa menjaga NPF kami untuk bisa tetap di bawah 2 persen,” terangnya.

Perseroan juga sedang melakukan pembenahan internal untuk naik kelas dari kelompok KBMI 1 menuju KBMI 2 apabila terdapat penambahan modal.

Pimpinan perseroan lainnya, Eduard Guntoro Purba, menjelaskan hal ini selaras dengan imbauan OJK mengenai penguatan permodalan serta konsolidasi industri.

“Sifatnya berupa imbauan dan belum ditetapkan apakah KBMI 1 akan dihapus sehingga naik ke KBMI 2. Tapi yang pasti bahwa dalam himbauan itu juga agar bank-bank di KBMI 1 melakukan review menyeluruh terhadap kemampuan keuangannya, struktur dan rencana jangka panjangnya,” ujarnya.

Ia menguraikan bahwa penambahan permodalan dapat ditempuh lewat skema penggabungan bisnis, kemitraan, pemupukan modal mandiri, hingga langkah eksternal seperti injeksi modal atau akuisisi.

Selain pemenuhan modal, institusi bank diharuskan memperkuat infrastruktur, kapabilitas, serta tata kelola organisasi yang baik.

Ia menerangkan perseroan berfokus memantapkan perencanaan jangka panjang, sarana teknis, serta kapabilitas agar siap jika sewaktu-waktu mendapatkan dana segar.

Di sisi ekspansi bisnis, total aset perseroan per April 2026 tumbuh sebesar 18,1 persen.

Dari sisi penghimpunan dana, perseroan mencatatkan kenaikan sekitar 18 persen, melampaui rata-rata industri perbankan yang tumbuh 12 persen.

Di sisi lain, beban operasional perseroan membengkak 20,3 persen menjadi Rp 293,9 miliar.

Pejabat perusahaan menyampaikan bahwa kenaikan biaya ini didominasi oleh modernisasi sistem teknologi informasi, mencakup core banking, teknologi cloud, pembaruan aplikasi mobile, serta sistem keamanan data.

“Ini banyak disebabkan oleh penguatan di teknologi informasi. Tentunya core banking kami perkuat, lalu juga pengamanan terhadap penyimpanan dan data yang kami gunakan cloud. Lalu juga fitur-fitur dari mobile banking kami terus tambah,” jelas pejabat perusahaan.

Selain investasi teknologi, peningkatan beban operasional dipicu oleh pengeluaran pemasaran, sehingga perolehan laba sebelum pajak perseroan tetap naik 9,5 persen menjadi Rp 140,6 miliar pada Juni 2026.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index