Jelang Pidato RUU APBN 2027 Prabowo Cek Target Realisasi Ekonomi Makro

Jelang Pidato RUU APBN 2027 Prabowo Cek Target Realisasi Ekonomi Makro
Presiden Prabowo Subianto (FOTO: NET)

JAKARTA - Presiden dari sumbernya dijadwalkan menyampaikan pidato keterangan pemerintah mengenai Rancangan Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RUU APBN) 2027 beserta Nota Keuangannya pada Jumat, 14 Agustus 2026.

Agenda resmi tersebut bakal dilaksanakan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.

Penyampaian pidato ini dilansir dari sumbernya menjadi momentum krusial bagi pemerintah dalam memaparkan arah kebijakan fiskal serta keberlanjutan program prioritas nasional.

Pemerintah juga akan menetapkan acuan baru untuk sasaran indikator ekonomi makro periode mendatang.

Sebelum memasuki pembahasan rancangan anggaran baru, capaian target ekonomi makro pada tahun 2026 mencatatkan hasil yang bervariasi.

Laju pertumbuhan ekonomi semester I-2026 berhasil terjaga di angka 5,45%, sesuai dengan target yang ditetapkan sebesar 5,4% atau lebih.

Tingkat inflasi tahunan hingga Juli 2026 berada pada posisi aman 2,28%, masih di dalam rentang sasaran 2,5±1%.

Indikator sosial seperti Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Mei 2026 sebesar 4,65% serta Rasio Gini Maret 2026 di level 0,368 juga tetap memenuhi target.

Kendati demikian, sejumlah variabel keuangan dan sosial masih mengalami tekanan signifikan.

Nilai tukar rupiah mengandaskan asumsi awal setelah melemah ke posisi Rp 17.755 per dolar AS per 10 Agustus 2026, lebih tinggi dari patokan Rp 16.500 per dolar AS.

Peningkatan juga terjadi pada imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun yang naik menjadi 7,19% dari asumsi awal 6,9%.

Sementara itu, angka kemiskinan per Maret 2026 tercatat 8,07%, belum mencapai target pemerintah di rentang 6,5% hingga 7,5%.

Dari sisi penyerapan dan pengelolaan anggaran, posisi defisit APBN hingga akhir Juni 2026 berada di angka Rp 196,5 triliun atau 0,76% terhadap PDB.

Angka ini relatif terkendali dibanding batas atas defisit tahunan sebesar 2,48% PDB yang diusulkan dari sumbernya atau 2,68% PDB dalam UU APBN 2026.

Realisasi pendapatan negara sampai Juni mencapai Rp 1.459,4 triliun, sedangkan serapan belanja negara menyentuh Rp 1.656 triliun.

Pemerintah terus mempercepat eksekusi belanja untuk menjaga daya beli masyarakat dan menggerakkan roda ekonomi.

Tantangan asumsi makro ke depan semakin berat akibat eskalasi ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Gejolak tersebut memicu kenaikan harga energi global, hambatan rantai pasok, serta potensi aliran modal keluar dari pasar domestik.

Kondisi eksternal ini berisiko menghadirkan ancaman stagflasi global sekaligus memperberat beban fiskal, terutama untuk alokasi subsidi energi akibat pelemahan rupiah.

Meski demikian, lembaga nasional dan internasional masih memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 5% pada 2027.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index