BI Rate Naik 5,75 Persen Penyesuaian Bunga KPR Butuh Jeda Waktu Berdua

BI Rate Naik 5,75 Persen Penyesuaian Bunga KPR Butuh Jeda Waktu Berdua
Ilustrasi Bunga KPR (FOTO: NET)

JAKARTA - Langkah kebijakan BI yang menaikkan suku bunga acuan ke tingkatan 5,75% sempat memancing rasa cemas warga, terutama para debitur KPR aktif di Sumut.

Para debitur menilai keadaan itu akan memicu lonjakan suku bunga KPR secara tajam.

Guna merespons kecemasan tersebut, BI menjelaskan bahwa pengaruh dari kebijakan itu pada suku bunga kredit bank tidak akan berubah secara mendadak.

Pihak otoritas menyampaikan terdapat tenggat waktu sebelum industri perbankan menata ulang tingkat bunga KPR.

"Biasanya transmisi dari suku bunga kepada lending itu memiliki jeda waktu cukup lebar, biasanya 2-3 triwulan," ungkap dari sumbernya kepada detikSumut, Senin (10/8/2026).

Maksudnya, dampak kenaikan suku bunga acuan tidak langsung kentara pada masa awal penetapan melainkan memerlukan rentang waktu untuk mengamati imbasnya secara utuh pada ranah properti.

Pada saat bersamaan, dari sumbernya menerangkan bahwa BI telah merancang formula khusus supaya pihak bank tidak sangsi dalam mengucurkan KPR.

BI memperlebar rentang suku bunga simpanan (deposit facility) hingga menuju level 4,75% sedangkan lending facility ditempatkan pada posisi 6,50%.

Berdasarkan keterangan dari sumbernya, ketetapan itu diambil agar sektor perbankan tidak terdorong menyimpan dana simpanan menganggur di BI, tetapi memutar alokasi dananya ke publik dalam bentuk pinjaman perumahan maupun modal usaha.

"Bunga ke bawah sengaja dibuat lebih rendah agar minat perbankan untuk menaruh uang di Bank Indonesia berkurang," ujarnya.

Kendati sempat memicu rasa cemas para pemegang fasilitas KPR, dari sumbernya memastikan bahwa iklim perbankan senantiasa berada dalam batas aman.

Diutarakan olehnya bahwa potensi risiko kredit macet pada sektor properti masih terlampau jauh dari garis mengkhawatirkan.

Adapun porsi Non-Performing Lending (NPL) atau peta risiko pembiayaan macet berada pada angka 1,9%, berada jauh di bawah ambang batas riskan 5%.

Di samping itu, tingkat NPL net bertengger pada kisaran aman yakni 1,1%-1,2%.

"Bank memiliki tingkat keamanan yang tinggi, risiko NPLnya sangat rendah. Ruang untuk ekspansi kredit masih sangat besar guna menopang pertumbuhan ekonomi ke depan," ucapnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index