JAKARTA - PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) secara resmi dipimpin pengendali tunggal seusai meninggalnya Michael Bambang Hartono.
Melalui perubahan struktur tersebut, Robert Budi Hartono kini memegang kendali sepenuhnya atas BCA lewat PT Dwimuria Investama Andalan (DIA) sebagai pemegang saham pengendali perseroan.
Informasi penyesuaian pengendali itu disampaikan pihak BCA melalui keterbukaan informasi kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 30 Juli 2026.
Pada kurun sebelumnya, Robert Budi Hartono bersama mendiang Michael Bambang Hartono mengendalikan PT DIA secara bersama-sama.
"Dengan demikian pemegang saham pengendali PT DIA yang semula Bapak Bambang Hartono dan Bapak Robert Budi Hartono menjadi Bapak Robert Budi Hartono," tulis manajemen BCA dalam keterbukaan informasi, dikutip Jumat (7/8/2026).
Pihak manajemen BCA menjelaskan bahwa porsi kepemilikan saham Robert Budi Hartono pada PT DIA tidak berubah, yakni konsisten sebesar 51% dari modal ditempatkan dan disetor.
Namun demikian, berlandaskan pergeseran struktur kepemilikan tersebut, seluruh kewenangan pengendalian atas PT DIA saat ini dipegang penuh oleh Robert.
Penetapan pengendali baru ini telah mengantongi persetujuan OJK lewat Surat Nomor SR-21/PB.333/2026 tanggal 29 Juli 2026.
Melalui surat keputusan tersebut, Robert Budi Hartono resmi ditetapkan sebagai Pemegang Saham Pengendali Terakhir (PSPT) bagi BCA.
Pejabat perusahaan dari sumbernya menegaskan bahwa pergeseran pengendali ini tidak memberi pengaruh terhadap operasional maupun performa bisnis perseroan.
"Informasi atau fakta material yang diungkapkan tidak memiliki dampak material terhadap kegiatan operasional, aspek hukum, kondisi dan kinerja keuangan, maupun kelangsungan usaha perseroan," ujar dari sumbernya.
Di tengah rotasi kepemimpinan pengendali tersebut, pergerakan saham BBCA justru memperlihatkan sinyal pemulihan.
Seusai menyentuh titik terendah dalam kurun waktu sekitar 10 tahun pada angka Rp4.850 per saham pada 8 Juni 2026, nilai saham BCA merangkak ke Rp6.400 per saham saat penutupan bursa 6 Agustus 2026.
Dengan catatan itu, harga saham BBCA telah terangkat kurang lebih 31,96% atau naik sebesar Rp1.550 per lembar saham dari posisi terendahnya.
Pada sesi perdagangan Jumat (7/8/2026), pergerakan saham BBCA kembali terangkat 25 poin atau kisaran 0,4% menuju Rp6.375 per saham, jika dibandingkan penutupan hari sebelumnya di level Rp6.350 per saham.
Laju penguatan saham BBCA turut ditopang oleh laporan keuangan perseroan yang konsisten kokoh sepanjang semester I 2026.
Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2026, BCA meraup laba bersih sejumlah Rp14,9 triliun pada kuartal II.
Bila dihitung secara kumulatif, perolehan laba bersih semester I 2026 menembus Rp29,5 triliun, atau naik sekitar 2% bila dibandingkan masa yang sama di tahun lalu.
Mengenai aspek penyaluran pembiayaan, kucuran kredit tumbuh 8% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp1.036 triliun.
Laju kenaikan tersebut berjalan beriringan dengan penambahan dana pihak ketiga (DPK) yang juga naik 8% menyentuh Rp1.284 triliun.
Postur pendanaan lembaga juga masih ditopang oleh alokasi dana murah atau current account savings account (CASA), dengan porsi menyentuh 85,2% dari keseluruhan DPK.
Di lain pihak, kualitas portofolio aset terus menunjukkan perbaikan.
Tingkat kredit bermasalah kotor (gross non-performing loan/NPL) mengalami penurunan ke angka 1,9% dari semula 2,2% pada kurun waktu yang sama di tahun sebelumnya.
Pada indikator profitabilitas, rasio net interest margin (NIM) tercatat sebesar 5,3%.
Pihak manajemen memprediksi NIM masih berpeluang melonjak ke rentang 5,4%-5,6% hingga penutupan tahun 2026, yang didorong oleh kenaikan tingkat imbal hasil kredit pasca penyesuaian suku bunga acuan Bank Indonesia.