Menkeu Tegaskan Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,6 Persen & APBN Makin Solid

Menkeu Tegaskan Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,6 Persen & APBN Makin Solid
Menteri Keuangan Purbaya (FOTO: NET)

JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa situasi perekonomian nasional tetap terpelihara dengan tingkat ekspansi mencapai 5,6 persen.

Prospek positif itu selaras bersama performa Anggaran Pendapatan serta Belanja Negara sampai paruh pertama 2026 yang dianggap semakin kuat, disokong kenaikan pemasukan negara dan keadaan fiskal yang senantiasa sehat.

Dari Sumbernya mengutarakan keadaan ekonomi tak bisa dinilai cuma lewat gejala penutupan ataupun kepergian sejumlah korporasi dari tanah air.

"Jangan lihat soal exit perusahaan saja, jangan lihat satu sisi saja. Kita lihat data agregatnya 5,6 persen, artinya pertumbuhan ekonomi baik secara agregat. Pemerintah kasih macam-macam stimulus," ujar dari Sumbernya dalam konferensi pers APBN KiTa di Kementerian Keuangan, Selasa (21/7/2026).

Berdasarkan keterangan dari Sumbernya, pihak berwenang terus membagikan bermacam rangsangan demi mempertahankan momentum kemajuan ekonomi.

Oleh sebab itu menurut dari Sumbernya, khalayak diminta memandang situasi keuangan secara menyeluruh dengan mempertimbangkan beraneka parameter, bukan sekadar gejala yang muncul pada bidang atau perseroan tertentu.

Ia menuturkan, kondisi makroekonomi dan mikroekonomi saling berhubungan sehingga kurang tepat mengambil kesimpulan ekonomi makro bagus, tetapi ekonomi mikro secara keseluruhan buruk tanpa didukung indikator yang jelas.

"Makro (dan) mikro bukan hal yang lepas. Tidak mungkin makronya bagus terus mikronya jelek. Berapa penciptaan lapangan kerja baru dan pengangguran baru, di situ baru ketahuan angkanya," katanya.

Harapan baik tersebut terlihat pada pencapaian nyata APBN hingga 30 Juni 2026.

Pemasukan negara menggapai Rp 1.459,4 triliun atau 46,3 persen dari target APBN 2026, menanjak 21,4 persen jika dibandingkan kurun waktu serupa tahun lalu.

Hasil tersebut ditopang perolehan pajak senilai Rp 1.035,7 triliun, perolehan bea dan cukai Rp 152 triliun, serta penerimaan negara bukan pajak Rp 271 triliun.

Pada bagian pengeluaran, realisasi pengeluaran negara mencapai Rp 1.656 triliun atau 43,1 persen dari target APBN 2026, bertambah 17,8 persen dibandingkan kurun waktu serupa tahun lalu.

Belanja pemerintah pusat mencapai Rp 1.298,6 triliun, sementara transfer ke daerah terealisasi Rp 357,4 triliun atau 51,6 persen dari target APBN.

Walaupun pengeluaran bertambah, situasi fiskal tetap terjaga.

Kekurangan anggaran APBN tercatat sebesar 0,76 persen terhadap produk domestik bruto, sementara keseimbangan primer masih mencatat kelebihan Rp 85,1 triliun.

Pihak berwenang menilai pencapaian tersebut menggambarkan pengelolaan fiskal yang sehat sekaligus menjaga kesinambungan APBN di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Guna memperluas basis investor serta mendiversifikasi sumber pendanaan, pihak berwenang berencana mengeluarkan Panda Bond di pasaran Tiongkok pada 23 Juli 2026 dengan target awal setara 1 miliar dollar As, bergantung pada kondisi pasar.

Menjelang peluncuran itu, Indonesia mengantongi predikat AAA bersama outlook stabil dari Lianhe Rating Co., Ltd., yang merupakan predikat tertinggi di pasaran Tiongkok.

Selain itu, agen pemeringkat Standard & Poor's pun menjaga peringkat kredit Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek bersama outlook stabil.

Menurut pihak berwenang, keputusan tersebut merefleksikan kepercayaan internasional terhadap ketahanan ekonomi Indonesia, kredibilitas kebijakan fiskal dan moneter, serta kemampuan pihak berwenang menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index