JAKARTA - Investor ritel yang ingin memburu cuan di pasar saham dapat mencermati sembilan emiten pilihan analis.
Saham yang direkomendasikan dinilai punya potensi kenaikan harga pada paruh kedua 2026, seiring sinyal pulihnya Indeks Harga Saham Gabungan.
Kesembilan emiten terdiri dari; PT Pertamina Geothermal Energy Tbk, PT Bank Syariah Indonesia Tbk, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, PT Bumi Resources Tbk.
Lalu, PT Gudang Garam Tbk, PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk, PT Jasa Marga (Persero) Tbk, dan PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk.
Berdasarkan riset Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, sembilan saham yang direkomendasikan dipilih berdasarkan analisis fundamental dan teknikal dengan potensi kenaikan sebagai berikut daftarnya.
Pertama, PT Bank Syariah Indonesia Tbk.
Harga saham BRIS ditargetkan naik menjadi Rp 2.260 atau punya potensi kenaikan 29,14 persen.
Tantangan Ekonomi Berlanjut, Emiten Konsumen Putar Otak Jaga Margin Penjualan Artikel Kompas.id Saham ini menetapkan target harga bertahap, yakni Rp 1.780 sebagai target pertama, Rp 1.835 sebagai target kedua, dan Rp 2.260 sebagai target utama.
BRIS direkomendasikan accumulative buy.
Investor juga disarankan melakukan akumulasi terutama pada harga Rp 1.715 hingga Rp 1.765.
Secara fundamental, prospek BRIS didukung oleh pertumbuhan pembiayaan dan dana murah yang masih berpotensi berlanjut.
Perseroan dinilai masih memiliki ruang untuk meningkatkan pembiayaan pada segmen ritel, usaha mikro, kecil, dan menengah, konsumer, hingga wholesale syariah.
Seiring meningkatnya literasi dan inklusi keuangan syariah, pertumbuhan aset dan pembiayaan BRIS diperkirakan tetap berada di atas rata-rata industri.
Selain itu, karakteristik akad syariah yang berbasis margin dan bagi hasil membuat struktur biaya dana BRIS relatif lebih terkendali dibandingkan bank konvensional.
Ketika suku bunga acuan Bank Indonesia meningkat, dampak penyesuaian bunga terhadap BRIS dinilai lebih lambat sehingga margin bunga bersih tetap berpeluang tumbuh.
Segmen pembiayaan emas menjadi mesin pertumbuhan baru bagi BRIS.
Produk cicilan dan gadai emas mencatat pertumbuhan hingga sekitar 100 persen secara tahunan.
Bisnis tersebut menawarkan imbal hasil yang tinggi, mendorong peningkatan pendapatan berbasis komisi, sekaligus memiliki profil risiko yang relatif rendah.
Kedua, PT Bumi Resources Tbk.
BUMI direkomendasikan accumulative buy.
Saham emiten batu bara ini memiliki target harga Rp 194, yang mencerminkan potensi kenaikan 29,33 persen.
Mirae Asset menetapkan target harga bertahap, yakni Rp 155 sebagai target pertama, Rp 160 sebagai target kedua, dan Rp 194 sebagai target utama.
Adapun level support berada dalam ada Rp 145 dan Rp 136 sebagai area yang perlu diperhatikan investor dalam mengelola risiko.
Dari sisi fundamental, Nafan menilai masuknya Grup Salim sebagai pemegang saham pengendali bersama Grup Bakrie menjadi salah satu katalis utama bagi BUMI.
Kehadiran Salim Group dinilai meningkatkan kredibilitas perseroan, memperkuat tata kelola perusahaan, sekaligus membuka akses yang lebih luas terhadap jaringan bisnis dan pembiayaan.
Selain itu, BUMI masih mempertahankan posisinya sebagai salah satu produsen batu bara terbesar di Indonesia melalui anak usahanya, Kaltim Prima Coal dan Arutmin Indonesia.
Skala produksi yang besar memberikan keunggulan biaya, sehingga biaya produksi per ton tetap kompetitif dibandingkan pelaku industri lainnya.
Prospek BUMI juga ditopang oleh perbaikan struktur neraca keuangan setelah penyelesaian utang melalui skema private placement dalam beberapa tahun terakhir.
Penurunan beban bunga pinjaman secara signifikan membuat struktur permodalan perseroan menjadi lebih sehat dan memberikan fleksibilitas untuk mengalokasikan arus kas operasional ke ekspansi bisnis maupun hilirisasi, bukan lagi untuk membayar bunga utang hasil restrukturisasi.
Ketiga, PT Gudang Garam Tbk.
GGRM direkomendasikan dengan status buy atau layak dibeli.
Saham emiten rokok ini memiliki target harga Rp 18.925 atau punya kenaikan 19,97 persen.
Mirae Asset menetapkan target harga bertahap, yakni Rp 16.450 sebagai target pertama, Rp 17.025 sebagai target kedua, dan Rp 18.925 sebagai target utama.
Sementara itu, area support berada Rp 14.925 hingga Rp 14.000, dengan area akumulasi yang disarankan pada kisaran Rp 14.925 hingga Rp 16.225.
Dari sisi fundamental, GGRM masih ditopang loyalitas konsumen yang kuat pada segmen Sigaret Kretek Mesin, khususnya produk Gudang Garam Merah dan International.
Kekuatan merek tersebut dinilai mampu menjaga pangsa pasar perseroan di tengah persaingan industri rokok domestik.
Selain bisnis inti, GGRM juga memiliki prospek jangka panjang melalui ekspansi ke sektor infrastruktur.
Perseroan mendanai pembangunan Bandara Dhoho Kediri serta terlibat dalam proyek Jalan Tol KediriāTulungagung.
Investasi ini dipandang sebagai mesin pertumbuhan baru yang dapat mengubah aset kas internal menjadi aset produktif dengan potensi imbal hasil jangka panjang.
Kondisi keuangan GGRM masih sangat solid.
Meski profitabilitas perseroan sempat tertekan akibat siklus industri dalam beberapa tahun terakhir, Gudang Garam tetap memiliki posisi kas yang kuat dengan rasio utang berbunga yang rendah.
Kondisi tersebut memberikan likuiditas yang memadai dan membuat perseroan dinilai lebih tangguh menghadapi gejolak makroekonomi.
Keempat, PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk.
INKP direkomendasikan add atau menambah kepemilikan saham.
Saham emiten ini diproyeksikan memiliki target harga Rp 9.250 atau potensi kenaikan 21,31 persen.
Mirae Asset menetapkan target harga bertahap, yakni Rp 7.900 sebagai target pertama, Rp 8.625 sebagai target kedua, dan Rp 9.250 sebagai target utama.
Sementara itu, level support berada di kisaran Rp 7.450 hingga Rp 6.875.
Dari sisi fundamental, Nafan menilai prospek INKP didukung mulai pulihnya siklus harga pulp global.
Kenaikan harga pulp diperkirakan akan mendorong peningkatan harga jual rata-rata produk pulp, kertas, dan kemasan, sehingga berdampak positif terhadap margin keuntungan perseroan.
Selain itu, permintaan terhadap produk kemasan masih dinilai prospektif.
Pertumbuhan industri perdagangan elektronik, makanan dan minuman, serta kebutuhan kemasan industri diperkirakan tetap menjadi penopang utama permintaan kertas kemasan.
Segmen ini dinilai lebih defensif dibandingkan kertas cetak dan tulis yang terus menghadapi tekanan akibat digitalisasi.
Nafan juga menilai valuasi INKP masih relatif murah.
Saham perseroan diperdagangkan pada rasio price to earnings ratio sekitar 3,9 kali, sehingga masih menawarkan margin of safety yang menarik bagi investor yang ingin memanfaatkan siklus pemulihan industri pulp dan kertas.
Kelima, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk.
JPFA direkomendasikan buy atau layak dibeli.
Saham ini memiliki target harga Rp 2.150, atau potensi kenaikan 14,36 persen.
Mirae Asset menetapkan target harga bertahap, yakni Rp 1.985 sebagai target pertama dan Rp 2.150 sebagai target utama.
Adapun level support berada di kisaran Rp 1.865 dan Rp 1.750 sebagai area yang perlu dicermati investor untuk mengelola risiko.
Dari sisi fundamental, Nafan menyebut prospek JPFA ditopang strategi hilirisasi yang semakin agresif.
Perseroan terus memperkuat bisnis hilir guna mengurangi ketergantungan terhadap fluktuasi harga ayam hidup dan anak ayam umur sehari.
Strategi tersebut dilakukan melalui penambahan kapasitas rumah potong ayam, pengembangan jaringan logistik pendingin, serta ekspansi produk makanan olahan bermerek seperti So Good dan So Nice.
Selain itu, JPFA bersama pesaing utamanya masih mendominasi pasar pakan ternak nasional.
Bisnis pakan dinilai menjadi penopang utama arus kas perusahaan karena memiliki fleksibilitas dalam meneruskan kenaikan harga bahan baku kepada konsumen, sehingga mampu menjaga profitabilitas di tengah volatilitas harga komoditas.
Valuasi saham JPFA masih tergolong murah.
Mengacu pada laba berjalan, saham JPFA diperdagangkan dengan rasio price to earnings ratio sekitar 3 hingga 4 kali, jauh di bawah rata-rata historis industri perunggasan yang berada di atas 11 kali.
Kondisi tersebut dinilai masih menawarkan ruang kenaikan yang menarik bagi investor.
Keenam, PT Jasa Marga (Persero) Tbk.
JSMR direkomendasikan dengan accumulative buy.
Saham emiten jalan tol pelat merah ini memiliki target harga Rp 3.240 atau potensi kenaikan 17,82 persen.
Investor disarankan melakukan akumulasi pada kisaran harga masuk Rp 2.670 hingga Rp 2.770.
Mirae Asset menetapkan target harga bertahap, yakni Rp 2.850 sebagai target pertama, Rp 2.930 sebagai target kedua, dan Rp 3.240 sebagai target utama.
Sementara itu, level support berada di kisaran Rp 2.670 dan Rp 2.600.
Dari sisi fundamental, Nafan mencatat Jasa Marga memiliki keunggulan melalui mekanisme penyesuaian tarif tol secara berkala yang diatur dalam regulasi.
Penyesuaian tarif setiap dua tahun sesuai tingkat inflasi di masing-masing wilayah memberikan perlindungan terhadap tekanan inflasi sekaligus menjaga stabilitas pertumbuhan pendapatan perusahaan tanpa harus sepenuhnya bergantung pada peningkatan volume kendaraan.
Selain itu, prospek JSMR juga ditopang peningkatan efisiensi keuangan.
Setelah menjalankan strategi pengurangan utang melalui monetisasi sejumlah aset pada periode sebelumnya, beban biaya keuangan perseroan diproyeksikan menurun signifikan sepanjang sisa tahun 2026.
Kondisi tersebut dinilai membuka ruang bagi peningkatan margin laba bersih.
Ia melihat adanya katalis dari pertumbuhan aktivitas logistik domestik.
Pada paruh kedua 2026, volume lalu lintas harian rata-rata diperkirakan meningkat seiring membaiknya aktivitas distribusi sektor manufaktur dan ritel menjelang akhir tahun.
Di sisi lain, sejumlah ruas tol baru yang mulai terintegrasi penuh diperkirakan mulai memberikan kontribusi terhadap pendapatan komersial perseroan.
Ketujuh, PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk.
PANI direkomendasikan dengan accumulative buy.
Saham emiten properti itu memiliki target harga Rp 7.350, yang mencerminkan potensi kenaikan 20 persen.
Investor disarankan melakukan akumulasi pada kisaran harga masuk Rp 5.925 hingga Rp 6.375.
Dari sisi fundamental, Nafan menilai prospek PANI ditopang oleh keberadaan Salim Group dan Agung Sedayu Group sebagai pemegang saham pengendali.
Sinergi kedua grup tersebut dinilai memberikan kredibilitas yang kuat bagi perseroan dalam memperoleh pendanaan strategis, mempercepat pengembangan proyek komersial, serta memastikan pengelolaan kawasan berjalan tanpa kendala likuiditas.
Selain itu, masuknya kawasan Pantai Indah Kapuk 2 ke dalam daftar Proyek Strategis Nasional menjadi katalis jangka panjang bagi perseroan.
Status Proyek Strategis Nasional dinilai mempercepat proses perizinan, meningkatkan konektivitas melalui pembangunan infrastruktur, serta menjaga nilai ekonomi dari cadangan lahan PANI yang mencapai ribuan hektare.
Ia memperkirakan kinerja operasional PANI akan tetap solid pada paruh kedua 2026.
Prospek ini didukung potensi perpanjangan insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah, percepatan pengembangan klaster residensial baru, serta penyelesaian serah terima unit komersial ber-margin tinggi yang diperkirakan mampu menjaga pertumbuhan profitabilitas perseroan.
Kedelapan, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk.
PGEO direkomendasikan dengan accumulative buy.
Saham emiten panas bumi tersebut memiliki target harga Rp 1.350, atau potensi kenaikan 34,33 persen, tertinggi di antara seluruh saham rekomendasi Mirae Asset.
Investor disarankan melakukan akumulasi pada kisaran harga masuk Rp 960 hingga Rp 980.
Mirae Asset menetapkan target harga bertahap, yakni Rp 1.050 sebagai target pertama, Rp 1.105 sebagai target kedua, dan Rp 1.350 sebagai target utama.
Adapun level support berada di kisaran Rp 960 dan Rp 860.
Dari sisi fundamental, Nafan menilai PGEO memiliki keunggulan sebagai pemilik aset panas bumi terbesar di Indonesia dengan kapasitas pembangkit beban dasar.
Berbeda dengan pembangkit listrik tenaga surya atau angin yang bergantung pada kondisi cuaca, energi panas bumi mampu memasok listrik secara stabil selama 24 jam.
Perseroan juga mengelola wilayah kerja panas bumi dengan kapasitas terpasang terbesar di Indonesia, sehingga memiliki posisi strategis dalam mendukung ketahanan energi nasional.
Selain itu, pendapatan PGEO didukung kontrak jual beli listrik jangka panjang, baik melalui kontrak penjualan uap maupun kontrak penjualan listrik, yang sebagian besar dilakukan dengan PT PLN.
Skema kontrak tersebut memberikan visibilitas arus kas yang stabil dan menjadikan PGEO relatif defensif di tengah fluktuasi harga komoditas global.
PGEO sebagai salah satu emiten yang berpotensi memperoleh manfaat dari perkembangan ekosistem ekonomi hijau.
Perseroan dinilai memiliki peluang besar memperoleh pendanaan berbiaya rendah melalui skema pembiayaan hijau, termasuk penerbitan obligasi hijau global.
Dukungan pembiayaan tersebut diperkirakan dapat mempercepat ekspansi kapasitas pembangkit panas bumi hingga dua kali lipat dalam lima tahun mendatang.
Sembilan, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk.
TLKM direkomendasikan accumulative buy.
Saham emiten telekomunikasi pelat merah ini memiliki target harga Rp 3.030, atau potensi kenaikan 20,72 persen.
Investor disarankan melakukan akumulasi pada kisaran harga masuk Rp 2.420 hingga Rp 2.540.
Mirae Asset menetapkan target harga bertahap, yakni Rp 2.580 sebagai target pertama, Rp 2.800 sebagai target kedua, dan Rp 3.030 sebagai target utama.
Adapun level support berada di kisaran Rp 2.420 dan Rp 2.350.
Dari sisi fundamental, Nafan menilai TLKM masih memiliki posisi yang kuat sebagai pemimpin pasar telekomunikasi nasional dengan ekosistem digital yang terintegrasi.
Perseroan tidak hanya mengandalkan layanan seluler, tetapi juga didukung bisnis pita lebar tetap, layanan perusahaan, komputasi awan, pusat data, serta kepemilikan mayoritas di Telkomsel.
Diversifikasi bisnis tersebut dinilai membuat sumber pendapatan TLKM lebih stabil dibandingkan operator yang hanya bergantung pada layanan seluler.
Selain itu, pengembangan bisnis pusat data dipandang menjadi salah satu katalis utama pertumbuhan perseroan.
Meningkatnya kebutuhan terhadap layanan komputasi awan, kecerdasan buatan, dan digitalisasi perusahaan diperkirakan akan mendorong pertumbuhan bisnis pusat data.
Di sisi lain, rencana divestasi sebagian kepemilikan pusat data juga berpotensi menjadi katalis yang membuka nilai aset digital Telkom.
Nafan menambahkan, kontribusi bisnis perusahaan dan layanan digital diperkirakan akan terus meningkat.
Pertumbuhan layanan antarperusahaan seperti komputasi awan, keamanan siber, layanan terkelola, dan berbagai solusi digital diyakini menjadi pendorong utama transformasi TLKM dari perusahaan telekomunikasi konvensional menjadi penyedia infrastruktur digital, sekaligus menopang pertumbuhan kinerja perseroan dalam jangka panjang.