Harga Emas dan Perak Babak Belur Akibat Konflik Timur Tengah

Harga Emas dan Perak Babak Belur Akibat Konflik Timur Tengah
Ilustrasi Emas dan Perak, Sumber: finansial.kontan.

JAKARTA - Harga emas merosot hampir 3 persen pada hari Senin pasca Presiden AS Donald Trump mengumumkan pemulihan blokade laut atas Iran. Kebijakan ini memicu kenaikan harga minyak, memicu kekhawatiran inflasi, dan memperbesar peluang suku bunga AS tetap tinggi lebih lama.

Berdasarkan data pasar keuangan, harga emas pada perdagangan Senin (13/7/2026) ditutup melemah 2,9 persen pada posisi US$ 4.000,65 per troy ons. Angka penutupan tersebut menjadi level terendah sejak tanggal 24 Juni 2026.

Pelemahan ini juga membuat nilai komoditas emas merosot hingga 3 persen dalam kurun waktu dua hari berturut-turut.

Pada hari Selasa (14/7/2026) pukul 06.39 WIB, harga komoditas ini bahkan turun lagi sebesar 0,16 persen ke posisi US$ 3.999,17 per troy ons. Hal ini menandakan nilai emas telah tergelincir ke kisaran tingkat US$ 3.900 per troy ons.

"Harga minyak melonjak akibat konflik di Timur Tengah, dan ada potensi pengetatan kebijakan oleh Federal Reserve. Ini merupakan kabar buruk bagi aset tanpa imbal hasil seperti emas," kata analis pasar Forex.com, Fawad Razaqzada.

Menurutnya, jika harga minyak terus mendaki, harga emas berpeluang jatuh ke bawah US$ 3.800 per troy ons dalam kurun waktu pendek. Bahkan, nilainya bisa terus merosot hingga menyentuh level US$ 3.500 apabila tekanan jual di pasar semakin menguat.

Trump mengumumkan bahwa AS kembali menerapkan blokade laut terhadap Iran serta memungut biaya sebesar 20 persen bagi semua kargo melewati Selat Hormuz. Langkah sepihak tersebut dilakukan setelah Teheran mengeklaim penutupan rute pelayaran strategis itu, yang langsung mengerek harga minyak hingga 5 persen.

Lonjakan harga minyak mentah ini dinilai sangat berpotensi memicu inflasi lantaran meningkatkan ongkos energi dan biaya transportasi.

Situasi demikian dapat memaksa bank sentral untuk mempertahankan suku bunga acuan di level tinggi lebih lama. Mereka bahkan bisa saja kembali menaikkannya guna meredam laju tekanan harga.

Mengacu pada data FedWatch Tool CME Group, para pelaku pasar saat ini memproyeksikan peluang sebesar 75 persen bahwa Federal Reserve bakal menaikkan suku bunga pada bulan September mendatang.

Selanjutnya pada hari Selasa, Ketua The Fed Kevin Warsh dijadwalkan memberikan testimoni pertamanya mengenai kebijakan moneter di hadapan Kongres AS. Para investor akan memantau ketat pernyataan tersebut guna memperoleh petunjuk mengenai arah suku bunga ke depan.

Di samping itu, pada pekan ini pemerintah AS juga bersiap merilis rangkaian data ekonomi penting seperti Indeks Harga Konsumen (IHK), Indeks Harga Produsen (IHP), data penjualan ritel Juni, dan klaim pengangguran mingguan.

Di sisi lain, harga perak terpantau ikut mengalami kejatuhan yang cukup dalam. Data pasar menunjukkan harga perak ditutup melemah 3,7 persen ke posisi US$ 57,65 per troy ons pada perdagangan Senin (13/7/2026), yang mengakumulasikan penurunan sebesar 4 persen dalam dua hari.

Hingga hari Selasa (14/7/2026) pukul 06.42 WIB, harga perak masih terus melemah sebesar 0,37 persen menuju ke level US$ 57,43 per troy ons.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index