Rupiah Pagi Ini Menguat 32 Poin ke Posisi Rp17.963 per Dolar AS

Rupiah Pagi Ini Menguat 32 Poin ke Posisi Rp17.963 per Dolar AS
Ilustrasi Rupiah, Sumber: pegadaian.

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dibuka menguat pada perdagangan pagi hari ini. Hingga pukul 09.50 WIB, mata uang Indonesia berada di posisi Rp17.963 per USD. Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 32 poin atau sekitar 0,18 persen dibandingkan posisi Rp17.995 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Pergerakan kurs hari ini diperkirakan akan berjalan fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah. Estimasi pergerakan berada dalam kisaran Rp17.990 per USD sampai dengan Rp18.050 per USD. Kondisi ini dipengaruhi oleh perkembangan positif dari pembicaraan tidak langsung antara Iran dan Amerika Serikat terkait wilayah Selat Hormuz.

Para negosiator dari kedua negara telah mengadakan pertemuan selama dua hari di Doha guna membahas kelancaran lalu lintas maritim serta pencairan dana. Kendati arus pelayaran mulai pulih, situasi sempat memanas akibat aksi saling serang terhadap kapal kargo pada akhir pekan lalu. Pihak Iran tetap berkomitmen untuk mengamankan pengakuan internasional atas kendali mereka terhadap jalur laut tersebut. Kebijakan pengenaan bea masuk bagi pengiriman barang juga direncanakan mulai berlaku pada pertengahan Agustus mendatang.

Di sisi lain, arus kapal tanker dilaporkan mulai kembali normal. Aliran minyak yang melewati jalur air tersebut dikabarkan sudah setara dengan tingkat sebelum konflik terjadi, meskipun jumlah pastinya tidak dipublikasikan. 

Sementara itu, pelaku pasar kini memprediksi adanya peluang sebesar 67 persen terkait kenaikan suku bunga pada pertemuan bulan September. Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil, emas biasanya memiliki kinerja yang cukup baik dalam situasi suku bunga rendah karena dapat memangkas biaya kepemilikan logam mulia.

Terkait indikator data ekonomi, sektor ketenagakerjaan swasta mencatatkan pertumbuhan penggajian sebanyak 98 ribu pada bulan Juni. Angka ini berada di bawah target pasar sebesar 113 ribu dan mengalami penurunan dibandingkan pencapaian bulan Mei yang berada di angka 122 ribu.

Selain itu, Indeks Manajer Pembelian Manufaktur terkoreksi ke posisi 53,3 pada bulan Juni dari sebelumnya 54,0 pada bulan Mei, sehingga tidak mencapai estimasi pasar. Kini fokus pelaku pasar tertuju pada publikasi data ketenagakerjaan nonpertanian komprehensif yang diproyeksikan tumbuh 110 ribu, sedangkan tingkat pengangguran diperkirakan bertahan di angka 4,3 persen.

Kondisi ekonomi domestik juga sedang menghadapi tantangan yang cukup berat memasuki kuartal kedua tahun ini. Beberapa faktor pemicunya meliputi kasus hukum sektor hukum tingkat tinggi, defisit pada neraca perdagangan bulan Mei, lonjakan inflasi, serta penundaan pengumuman klasifikasi pasar modal oleh penyedia indeks global.

Kesehatan sektor produksi barang di dalam negeri ikut menunjukkan perlambatan signifikan. Indeks manufaktur nasional merosot ke level 46,9 pada bulan Juni 2026, yang menjadi penurunan paling tajam dalam kurun waktu satu tahun terakhir. Penurunan volume output ini dipicu oleh merosotnya permintaan barang pabrikan serta penyusutan pesanan baru ke tingkat paling rendah sejak April 2025.

Selain tekanan pada sektor industri, kemampuan pembayaran eksternal Indonesia juga diproyeksikan mengalami penyusutan. Cadangan devisa nasional pada tahun 2026 diperkirakan hanya cukup untuk mendanai sekitar 4,9 bulan pembayaran luar negeri. Posisi ini berada sedikit di bawah rata-rata negara dengan peringkat sejenis yang umumnya mencapai 5 bulan.

Penurunan cadangan devisa tersebut utamanya disebabkan oleh pelemahan rasio perdagangan akibat kenaikan harga energi dunia, langkah intervensi di pasar valuta asing guna menjaga stabilitas mata uang, serta pemenuhan kewajiban utang luar negeri.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index