Komdigi Sebut APBN Bisa Terbebani jika Harga Pertamax Tidak Naik

Komdigi Sebut APBN Bisa Terbebani jika Harga Pertamax Tidak Naik
Ilustrasi Mengisi Bensin, Sumber: x.com

JAKARTA - Kementerian Komunikasi dan Digital menyatakan bahwa mempertahankan harga jual Pertamax di bawah nilai keekonomian berisiko memberikan beban tambahan bagi anggaran negara.

Alokasi dana yang semestinya didistribusikan untuk beragam program publik dikhawatirkan habis terpakai demi menutupi selisih harga komoditas bahan bakar minyak tersebut.

Langkah penyesuaian harga Pertamax ini tidak terlepas dari fluktuasi harga minyak mentah dunia yang didorong oleh tensi geopolitik serta hambatan pasokan energi secara global.

"Banyak yang bertanya mengapa harga Pertamax naik? Karena Indonesia tidak hidup sendirian. Harga minyak dunia naik akibat ketegangan geopolitik dan gangguan pasokan energi global. Sebagai BBM non-subsidi, Pertamax memang mengikuti harga pasar," kata Fifi.

Jika nilai jual Pertamax terus dipaksakan berada di bawah harga pasar, pemerintah wajib menyiapkan pos anggaran yang jauh lebih besar demi menyubsidi selisihnya.

Padahal, dana pendapatan negara sangat krusial untuk menopang sektor pendidikan, pelayanan kesehatan, jaminan bantuan sosial, hingga proyek pembangunan infrastruktur.

"Jika harga Pertamax terus ditahan di bawah harga keekonomian, negara harus mengeluarkan anggaran yang semakin besar. Artinya, uang yang seharusnya bisa digunakan untuk sekolah, rumah sakit, bantuan sosial maupun pembangunan lainnya, akhirnya habis untuk menutup selisih harga BBM," kata Fifi.

Ditambahkan pula bahwa nilai jual Pertamax di dalam negeri sejatinya masih terpantau lebih terjangkau apabila disandingkan dengan beberapa negara tetangga di Asia Tenggara.

Berdasarkan data, bahan bakar dengan spesifikasi setara RON 92 di Filipina menyentuh angka Rp22.000 per liter, Laos di atas Rp31.000 per liter, Thailand berkisar Rp29.000 per liter, Myanmar berada di angka Rp25.000 per liter, dan Singapura menembus Rp43.000 per liter.

Di sisi lain, kebijakan untuk tidak menaikkan tarif komoditas BBM bersubsidi tetap dipertahankan oleh pemerintah. Saat ini, harga untuk varian Pertalite masih tertahan di angka Rp10.000 per liter dan produk biosolar tetap dijual senilai Rp6.800 per liter.

"Yang juga penting, pemerintah tidak menaikkan BBM subsidi. Pertalite tetap Rp10.000 dan biosolar tetap Rp6.800 per liter. Perlindungan kepada masyarakat yang paling membutuhkan tetap dijaga. Kepentingan warga selalu menjadi dasar pengambilan kebijakan," ujarnya.

Oleh karena itu, pengawasan serta regulasi mengenai penyaluran subsidi yang tepat sasaran dinilai kian krusial agar stimulus dari pemerintah benar-benar dinikmati oleh kelompok masyarakat yang berhak.

Sebagai informasi, dalam skema penyesuaian tarif terbaru, harga jual Pertamax mengalami kenaikan dari yang sebelumnya Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter, sementara untuk varian Pertamax Green 95 bergerak naik dari Rp12.900 per liter menjadi Rp17.000 per liter.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index