Rupiah Melemah ke Rp18.062 per Dolar AS Akibat Tekanan Geopolitik

Rupiah Melemah ke Rp18.062 per Dolar AS Akibat Tekanan Geopolitik
Ilustrasi Rupiah, Sumber: suarasurabaya.

JAKARTA - Nilai tukar rupiah diproyeksikan masih melanjutkan tren penurunan pada sesi perdagangan hari Jumat, 5 Juni 2026.

Pada penutupan perdagangan Kamis, 4 Juni 2026, mata uang rupiah terperosok jatuh 0,46 persen atau berkurang 82 poin ke posisi Rp18.049 per dolar AS, yang menjadi catatan paling rendah sepanjang sejarah.

Sementara itu, pergerakan indeks dolar AS justru terpantau ikut merosot sebesar 0,10 persen menuju posisi 99,42.

Pergerakan mata uang rupiah hari ini diprediksi masih akan bergerak dinamis namun cenderung ditutup melemah pada kisaran angka Rp18.050 hingga Rp18.120 per dolar AS.

Kondisi pasar keuangan saat ini sedang dipengaruhi oleh perkembangan konflik geopolitik tingkat global, di mana para pelaku pasar memilih bersikap waspada akibat ketegangan militer yang terus meningkat di kawasan Timur Tengah.

Meskipun sempat ada laporan mengenai kesepakatan gencatan senjata antara pihak Israel dan Lebanon pada Rabu malam, situasi tersebut tetap bergantung pada penghentian aksi permusuhan yang dilakukan oleh kelompok Hizbullah.

Selain persoalan konflik, sorotan para investor kini tertuju pada rilis data ekonomi dari Amerika Serikat, terutama mengenai laporan data tenaga kerja non-pertanian yang dijadwalkan keluar pada hari Jumat.

Sebelumnya, data dari sektor swasta AS menunjukkan adanya penambahan sebanyak 122.000 lapangan pekerjaan sepanjang bulan Mei, sebuah angka yang melampaui prediksi para ekonom serta lebih tinggi dari pencapaian bulan sebelumnya.

Dari dalam negeri, muncul kekhawatiran baru seiring melonjaknya harga minyak mentah dunia yang berpotensi melebarkan defisit anggaran negara hingga mendekati angka 3 persen.

Kondisi ini memicu kekhawatiran publik terkait potensi besarnya intervensi dari negara pada sektor komoditas, ditambah ketidakpastian mengenai keputusan peninjauan ulang klasifikasi pasar modal Indonesia oleh pihak MSCI.

Pada perdagangan pagi ini pukul 09.03 WIB, pergerakan mata uang garuda langsung dibuka melemah sebesar 0,07 persen atau mengalami penurunan 12 poin ke level Rp18.062 per dolar AS.

Anjloknya nilai tukar rupiah hingga menembus di atas angka Rp18.000 per dolar AS menjadi indikator kuat adanya tekanan struktural yang kian meningkat pada stabilitas posisi eksternal Indonesia.

Jika diakumulasikan sepanjang tahun berjalan ini, mata uang rupiah tercatat sudah mengalami depresiasi sekitar 8 persen.

Pelemahan tersebut disebabkan oleh masifnya aliran modal asing yang keluar akibat penyesuaian bobot indeks MSCI, menyusutnya surplus pada neraca perdagangan, hingga naiknya beban biaya impor energi akibat konflik di Timur Tengah.

Faktor lain yang memperparah keadaan adalah penurunan proyeksi outlook kredit terhadap lembaga Danantara serta peringkat utang Indonesia pada awal tahun ini, yang memperburuk penilaian risiko investor global.

Di sisi lain, kebijakan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam atau DHE SDA yang awalnya ditargetkan mampu menyuplai pasokan devisa hingga US$2 miliar setiap bulannya, dinilai belum memberikan dampak stabilisasi yang nyata.

Ketegangan geopolitik internasional yang ikut melibatkan militer Iran, Kuwait, dan Amerika Serikat juga turut menaikkan premi risiko harga minyak mentah dunia, sehingga makin membebani keuangan negara importir minyak seperti Indonesia.

Saat ini, pelaku pasar modal tengah menanti hasil peninjauan klasifikasi pasar yang akan diumumkan pada 18 Juni mendatang, lantaran adanya kekhawatiran penurunan status Indonesia bisa memicu aksi jual masif dana asing.

Kondisi pasar obligasi pemerintah saat ini juga mengalami inversi, di mana tingkat keuntungan atau yield untuk jangka pendek bergerak jauh lebih tinggi daripada tenor jangka panjang 10 tahun.

Fenomena inversi pada kurva imbal hasil ini biasanya mengindikasikan adanya ekspektasi pasar terhadap perlambatan laju pertumbuhan ekonomi nasional atau sinyal adanya pengetatan kebijakan moneter dalam waktu dekat.

Dalam analisis proyeksi tahun ini, skenario terbaik menempatkan nilai rupiah berada pada level Rp17.089 per dolar AS, yang didukung oleh langkah intervensi agresif dari Bank Indonesia, pengetatan moneter, serta disiplinnya postur APBN.

Sebaliknya, untuk skenario terburuk, mata uang rupiah diprediksi bisa semakin terpuruk hingga menyentuh level Rp17.834 per dolar AS.

"Skenario negatif untuk rupiah adalah adanya intervensi politik ke Bank Indonesia, melebarnya defisit transaksi berjalan, hawkish The Fed, konflik geopolitik, dan adanya capital outflow dari SBN atau pasar saham," kata Nafan.

"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp18.050 sampai Rp18.120 per dolar AS," kata Ibrahim, Kamis (4/6/2026).

"Pasukan Israel memperluas operasi militer di Lebanon selatan, menargetkan daerah yang dikuasai Hizbullah dalam beberapa hari terakhir," ujarnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index