Fluktuasi Harga Emas di Tengah Konflik Global dan Sentimen Fed

Fluktuasi Harga Emas di Tengah Konflik Global dan Sentimen Fed
Ilustrasi Emas, Sumber; (NET).

JAKARTA - Pergerakan harga komoditas emas menutup pekan dengan kondisi yang berfluktuasi akibat adanya tarik-menarik sentimen di pasar global.

Permintaan terhadap aset aman atau safe haven yang dipicu oleh kembali memanasnya ketegangan di Timur Tengah berulang kali tertahan oleh penguatan mata uang dolar Amerika Serikat, tingginya tingkat imbal hasil obligasi pemerintah negara tersebut, serta kekhawatiran mengenai inflasi akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Berdasarkan laporan Kitco News pada Sabtu (30/5/2026), harga komoditas emas spot mengawali aktivitas perdagangan pekan ini di posisi US$4.508,30 per troy ounce lalu bergerak naik sebagai respons dari para pelaku pasar atas ketidakpastian kondisi geopolitik yang tengah terjadi.

Aset logam mulia ini juga dilaporkan sempat menguji kisaran batas resistensi pada angka US$4.580 per troy ounce.

Kenaikan harga tersebut mampu bertahan sampai Senin (25/5/2026), namun mulai kehilangan tenaga pada hari Selasa. Penguatan mata uang dolar Amerika Serikat serta fokus pelaku pasar terhadap rilis data inflasi utama negara tersebut pada pekan ini membuat komoditas emas gagal mempertahankan laju kenaikannya.

Tekanan jual terhadap logam mulia menjadi semakin kuat pada pertengahan pekan setelah serangan terbaru dari pihak Amerika Serikat ke wilayah Iran mendorong kenaikan harga minyak dunia, memicu kekhawatiran baru terkait inflasi, sekaligus memperkecil harapan akan tercapainya gencatan senjata yang permanen.

Harga komoditas emas sempat menembus level US$4.500 per troy ounce pada Rabu (27/5) sebelum akhirnya kembali melemah pada Kamis di saat para investor bersiap mengantisipasi rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures April serta revisi data produk domestik bruto kuartal I/2026 Amerika Serikat.

Emas spot akhirnya menyentuh titik paling rendah mingguan pada level US$4.365,85 per troy ounce tidak lama setelah tengah malam pada hari Kamis.

Meskipun demikian, aset berharga ini mulai bergerak pulih pada akhir perdagangan Kamis dan melanjutkan penguatannya di hari Jumat.

Sentimen positif berembus setelah munculnya laporan terkait kemajuan menuju potensi kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran, yang membantu menurunkan harga minyak dunia serta meredakan sebagian kekhawatiran inflasi di pasar.

Penurunan tingkat imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat juga ikut mendorong kenaikan harga komoditas emas. Logam mulia ini sempat mencapai level tertinggi mingguan di posisi US$4.594,92 per troy ounce pada hari Jumat sebelum akhirnya kembali kehilangan momentum. Pada penutupan akhir pekan, emas spot berada di level US$4.539,03 per troy ounce. 

Hasil survei mingguan terbaru menunjukkan bahwa para pelaku pasar di Wall Street kembali merasa optimistis terhadap prospek jangka pendek dari komoditas emas. Sebaliknya, sentimen dari para investor ritel atau Main Street justru bergeser ke arah yang kurang menguntungkan meskipun harga emas sempat pulih menjelang penutupan pekan.

Managing Director Bannockburn Global Forex Marc Chandler memaparkan bahwa harga komoditas emas bergerak pulih pada hari Kamis bersamaan dengan aset-aset berisiko lainnya seiring dengan meningkatnya harapan akan perpanjangan masa gencatan senjata di kawasan Timur Tengah.

"Emas pulih pada Kamis bersamaan dengan aset-aset berisiko di tengah harapan akan diperpanjangnya gencatan senjata di Timur Tengah," kata Chandler.

Menurut pandangannya, komoditas emas sempat diperdagangkan di bawah rata-rata pergerakan 200 hari untuk pertama kalinya dalam periode dua tahun terakhir sebelum akhirnya pulih dan melanjutkan penguatan menjelang akhir pekan.

Logam mulia ini bahkan mampu menyentuh level tertinggi dalam tiga hari di atas US$4.543 per troy ounce.

Marc Chandler memberikan penjelasan bahwa perpanjangan masa gencatan senjata dinilai sebagai hal yang positif bagi komoditas emas karena mampu mengurangi potensi kebutuhan likuiditas, baik dari negara-negara pengekspor minyak maupun negara-negara importir minyak tertentu.

"Perpanjangan gencatan senjata dipahami sebagai sentimen positif bagi emas karena menghilangkan salah satu potensi sumber likuidasi, yakni negara-negara pengekspor minyak, serta mengurangi kebutuhan likuiditas dari sebagian negara pengimpor minyak," ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa apabila harga emas mampu melewati level US$4.585 per troy ounce, maka prospek teknikal dari komoditas ini akan menjadi semakin kuat.

Pada kesempatan lain, Senior Market Strategist StoneX Bob Haberkorn tetap menjaga pandangan yang optimistis terhadap prospek pergerakan emas dalam jangka menengah hingga jangka panjang.

"Saya masih sangat bullish terhadap emas," ujarnya.

Bob Haberkorn tidak menampik bahwa sempat muncul kekhawatiran terkait langkah beberapa bank sentral yang menjual cadangan emas mereka demi memenuhi kebutuhan likuiditas, termasuk yang dilakukan oleh pihak Turki dan Rusia. Walau demikian, ia menilai pergerakan harga emas dan perak masih memiliki landasan yang cukup kuat.

"Untuk saat ini, emas dan perak kemungkinan akan bergerak mendatar hingga cenderung melemah. Namun, yang menarik adalah keduanya tetap mendapat dukungan kuat. Harganya memang turun ke level tertentu, tetapi tetap mampu bertahan di atas level tersebut," katanya.

Bob Haberkorn menganggap bahwa tanggal 17 Juni mendatang akan menjadi sebuah momen yang sangat krusial bagi pasar komoditas emas maupun pasar keuangan global secara keseluruhan.

"Saya ingin melihat hasil pertemuan pertama The Fed di bawah Warsh untuk mengetahui nada kebijakan yang akan diambil. Apakah mereka akan bersikap dovish atau hawkish terhadap suku bunga?" ujarnya.

Menurut analisisnya, secara historis tingkat suku bunga semestinya mengalami kenaikan dalam situasi saat ini guna meredam laju inflasi. Namun, tingginya beban pembayaran utang dari pemerintah membuat ruang bagi bank sentral untuk menaikkan suku bunga menjadi sangat terbatas.

"Menaikkan suku bunga akan memberikan tekanan besar terhadap berbagai sektor. Mungkin langkah itu membantu mengendalikan inflasi dalam jangka pendek, tetapi dalam jangka panjang saya pikir justru dapat menimbulkan kerusakan yang lebih besar," katanya.

Bob Haberkorn juga melihat adanya peluang bagi pihak The Fed untuk mengambil pendekatan kebijakan yang jauh lebih longgar demi mendorong aspek pertumbuhan ekonomi.

"Saya bertanya-tanya apakah Warsh akan bersikap hati-hati dan menyampaikan hal tersebut secara tidak langsung. Dia memang pilihan Trump, dan pekan lalu Trump berbicara tentang suku bunga yang seharusnya jauh lebih rendah dari level saat ini," ujarnya.

Sesuai dengan pandangan Bob Haberkorn, kondisi utang pemerintah membuat pihak The Fed cenderung enggan untuk menaikkan tingkat suku bunga dan berpotensi lebih memilih pendekatan pertumbuhan ekonomi melalui kebijakan pelonggaran kuantitatif atau quantitative easing.

"Pada 17 Juni nanti kami akan memperoleh lebih banyak informasi mengenai posisi Warsh dan arah kebijakan The Fed di bawah ketua yang baru," katanya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index