JAKARTA - Emiten perbankan milik negara meluncurkan program pembiayaan kepemilikan hunian bekas atau second dengan penawaran suku bunga mulai 5% yang bersifat tetap sepanjang lima tahun pertama.
Langkah strategis tersebut diterapkan untuk memperluas jangkauan masyarakat dalam memperoleh tempat tinggal, memicu aktivitas investasi di sektor properti, serta mendukung ketercapaian target pengadaan tiga juta hunian yang dicanangkan pemerintah.
Lembaga keuangan ini pun telah menyiapkan sekitar 10.000 unit properti second yang siap dipasarkan melalui mekanisme lelang berskala besar pada sepanjang periode tahun 2026 ini.
Seluruh aset properti yang disediakan tersebut dinilai memiliki harga jual yang sangat kompetitif, bahkan nominal anggarannya dapat menyentuh hingga 40% di bawah harga normal pasar saat ini.
"Program tersebut diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap hunian dengan harga lebih terjangkau sekaligus memperkuat ekosistem transaksi properti second yang lebih sehat dan transparan," ungkapnya pada hari Senin, 25 Mei 2026.
Pihak manajemen mematok target ketercapaian penjualan pada kisaran 35% sampai 45% dari keseluruhan total unit hunian yang dilelang pada periode tahun ini.
Realisasi dari target tersebut dianggap sudah cukup optimal untuk menggerakkan roda perekonomian sekaligus mempercepat langkah pemulihan portofolio aset yang dikelola oleh bank.
Untuk memberikan fasilitas pendukungan dana dalam transaksi pembelian aset lelang tersebut, perseroan menghadirkan produk kredit khusus dengan ketentuan uang muka mulai 1% serta tenor cicilan hingga 30 tahun.
Jenis properti bekas maupun aset hasil lelang belakangan ini kian diminati oleh masyarakat luas karena menawarkan nilai tebus yang jauh lebih ekonomis.
Di samping faktor harga yang terjangkau, lokasi geografis dari bangunan yang dipasarkan pada umumnya terletak di lingkungan yang sudah berkembang mapan dengan sarana pendukung yang lengkap.
Berdasarkan pemetaan wilayah geografisnya, objek properti lelang ini paling banyak berada di wilayah: Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan.
Wilayah Jawa Barat menjadi daerah dengan ketersediaan pasokan aset paling melimpah, sehingga dalam pengelolaannya harus dibagi menjadi dua zona lelang yang berbeda.
Sebagian besar kelompok konsumen yang melakukan transaksi pembelian terhadap aset lelang ini didominasi oleh masyarakat berusia di bawah 45 tahun atau kelompok generasi milenial.
Fenomena pergeseran pasar tersebut memperlihatkan adanya pergerakan tren yang positif terkait ketertarikan generasi muda untuk mulai berinvestasi di sektor properti.
Sektor pasar hunian residensial diproyeksikan memiliki peluang besar untuk segera bangkit dalam kurun waktu beberapa tahun ke depan seiring meningkatnya keterlibatan publik.
Sementara itu, jenis aset yang mencatatkan tingkat penawaran tertinggi dalam kegiatan lelang nasional secara umum masih dipimpin oleh komoditas tanah dan bangunan, kemudian diikuti oleh ruko serta lahan perkebunan.
Pada sepanjang periode tahun 2025 yang lalu, intensitas pelaksanaan aktivitas lelang di seluruh wilayah Indonesia dilaporkan menembus kisaran 1,5 juta kali transaksi.
Dari total keseluruhan volume kegiatan tersebut, tingkat keberhasilan penjualan aset properti tercatat berada di kisaran angka 30%.
Kehadiran stimulus berupa program suku bunga rendah sebesar 5% ini diperkirakan dapat membuka kesempatan yang lebih luas bagi publik untuk mulai menjadi investor properti, khususnya bagi para pemula.