KEDIRI - Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus berupaya mengendalikan tingkat inflasi melalui gerakan pasar murah yang baru saja digelar di Kota Kediri menjelang peringatan Iduladha 2026.
Pasar murah yang menjadi titik ke-69 itu disambut antusias oleh warga Kota Kediri demi mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga di bawah pasar.
Gubernur Jawa Timur menilai, tingginya antusiasme masyarakat menunjukkan pasar murah masih dibutuhkan untuk menjaga keterjangkauan harga pangan, menjelang hari besar keagamaan.
“Menjelang Iduladha, kita ingin masyarakat tenang karena stok bahan pokok tersedia, distribusi lancar, dan harga tetap terkendali,” ujarnya.
Sementara itu, komoditas yang dijual dalam program tersebut berada di bawah HET, di antaranya:
Beras premium Rp14.000 per kilogram Beras medium SPHP Rp11.000 per kilogram Minyak goreng Minyakita Rp13.000 per liter Gula pasir Rp14.000 per kilogram (kg) Telur ayam ras Rp22.000 per pack Daging ayam ras Rp30.000 per pack
Komoditas lain yang turut disediakan yakni:
Tepung terigu Rp10.000 per kg Bawang putih Rp6.000 per 250 gram Bawang merah Rp7.000 per 250 gram Paket cabai Rp5.000 per 200 gram
Gubernur Jatim menyebut, pasar murah menjadi salah satu instrumen efektif dalam menjaga inflasi karena menjual komoditas dengan harga subsidi.
“Kami ingin memastikan bahwa masyarakat tidak terbebani lonjakan harga di awal tahun. Pasar murah ini juga kita tempatkan di titik-titik yang tidak berdekatan dengan pasar tradisional agar tidak mengganggu pasar yang sudah ada,” katanya.
Penyelenggaraan pasar murah dilakukan secara berkelanjutan dan sejalan program serupa dari pemerintah kabupaten/kota di seluruh Jawa Timur.
“Tujuannya satu, yakni mendekatkan akses masyarakat terhadap kebutuhan pokok dengan harga terjangkau,” imbuhnya.
Di sisi lain, Pemprov Jatim juga memperkuat koordinasi dengan Bulog, pemerintah daerah, dan pelaku distribusi pangan guna menjaga kelancaran rantai pasok di seluruh wilayah.
“Yang paling penting, kebutuhan pokok harus mudah diakses masyarakat dan daya beli tetap terjaga,” katanya.
Ketersediaan bahan pangan di Jatim dalam kondisi aman. Namun, daya beli masyarakat perlu dijaga melalui berbagai program afirmatif seperti pasar murah.
“Yang kami jaga adalah keterjangkauan harganya agar masyarakat bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan baik,” tandasnya.