JAKARTA - Setoran pajak negara berhasil menyentuh angka Rp646,3 triliun hingga akhir April 2026. Capaian ini tumbuh sebesar 16,1% jika disandingkan dengan perolehan pada periode yang sama di tahun sebelumnya yang berada di angka Rp556,9 triliun.
Peningkatan ini menjadi indikator bahwa aktivitas ekonomi domestik masih bergerak kuat. Kondisi positif tersebut tetap bertahan di tengah bayang-bayang gejolak ekonomi global serta pelemahan nilai tukar Rupiah.
Sektor Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) menjadi bukti nyata bahwa tingkat konsumsi serta daya beli masyarakat masih terjaga dengan baik.
Hingga 30 April 2026, setoran PPN dan PPnBM melonjak 40,2% menjadi Rp221,2 triliun, melaju melampaui pertumbuhan jenis pajak lainnya.
"Aktivitas ekonomi memang masih tinggi karena belanja dan segala macam masih tinggi, sehingga PPN-nya naik 40%. Ini semua mematahkan tuduhan bahwa ekonomi sedang melambat dengan signifikan, apalagi mereka bilang menuju krisis 1997-1998," kata Purbaya.
Selain PPN, penerimaan dari Pajak Penghasilan (PPh) Orang Pribadi serta PPh Pasal 21 juga terkerek naik 25,1% hingga mencapai Rp101,1 triliun.
Pencapaian ini langsung menepis kecemasan publik mengenai isu penurunan setoran pajak karyawan akibat melemahnya daya beli, sekaligus membuktikan bahwa pendapatan masyarakat masih kokoh.
Berikut adalah rincian perolehan pajak berdasarkan sektor dunia usaha:
Setoran dari PPh Badan dan deposit PPh Badan tercatat berada di angka Rp135,2 triliun, meningkat 5,1% secara tahunan (year-on-year), dan diproyeksikan masih berpotensi besar untuk terus meningkat.
Pos penerimaan dari PPh final, PPh Pasal 22, dan PPh Pasal 26 dilaporkan naik 9,8% dengan nilai Rp109,1 triliun.
Pos penerimaan pajak lainnya justru mencatatkan penurunan atau kontraksi sebesar 12% ke angka Rp79,7 triliun.
Jika ditinjau dari kontribusi tiap sektor, bidang perdagangan menjadi penggerak utama dengan menyumbang setoran neto senilai Rp161 triliun atau setara 24,9% dari keseluruhan total penerimaan pajak, yang disokong oleh perdagangan besar BBM dan aktivitas belanja daring.
Lalu, sektor industri pengolahan memberikan andil sebesar Rp145,3 triliun (22,5%) yang didorong oleh komoditas industri minyak kelapa sawit.
Sektor pertambangan menyumbang Rp56,7 triliun (8,8%) berkat subsektor minyak dan gas bumi, sedangkan bidang konstruksi dan real estat meraup penerimaan neto Rp24,2 triliun (3,7%).
Melihat perkembangan yang positif ini, optimisme tinggi pun disampaikan terkait target pendapatan negara ke depan.
"Pajak tumbuh 16,1% dan mungkin akan lebih tinggi lagi mendekati 20%. Kami akan usahakan ke arah sana. Prospeknya jelas lebih bagus dibandingkan tahun lalu," pungkasnya.