JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terpantau terus berada di bawah tekanan hingga melewati level 17.000 per dolar AS. Kenaikan tajam ini menjadi fokus perhatian bagi masyarakat maupun para pelaku pasar.
Terdepresiasinya mata uang garuda ini disebabkan oleh beragam faktor eksternal, khususnya kebijakan moneter Amerika Serikat yang masih ketat.
Kondisi tersebut memicu dolar AS kian mendominasi di pasar global.
"Situasi ini tentu memberikan tekanan bagi perekonomian domestik, namun kami terus memantau pergerakan pasar secara hati-hati agar stabilitas tetap terjaga," ujar seorang analis pasar uang.
Pihak Pemerintah bersama Bank Indonesia diharapkan bisa segera menetapkan kebijakan strategis guna menekan fluktuasi nilai tukar ini. Upaya intervensi dianggap krusial demi memelihara kepercayaan para investor di dalam negeri.
Masyarakat pun diharapkan tetap tenang dalam merespons gejolak kurs yang sedang berlangsung. "Kami mengimbau agar pelaku usaha tidak panik dan tetap fokus pada fundamental ekonomi yang ada saat ini," tambahnya.
Sampai berakhirnya sesi perdagangan sore ini, laju nilai tukar rupiah terpantau masih fluktuatif dengan adanya tren pelemahan terhadap deretan mata uang asing lain di wilayah Asia.