Trump Keras ke Iran, Rupiah Diprediksi Melemah ke Rp17.430

Selasa, 12 Mei 2026 | 14:39:59 WIB
Ilustrasi Rupiah Diprediksi Melemah, Sumber (NET).

JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Selasa, 12 Mei 2026, diperkirakan akan bergerak fluktuatif. Meski demikian, mata uang garuda diprediksi ditutup melemah pada rentang Rp17.380 hingga Rp17.430 per dolar AS.

Berdasarkan data RTI Infokom pada Senin, 11 Mei 2026, nilai rupiah telah melemah 32 poin ke level Rp17.414 per dolar AS. Sebaliknya, indeks dolar AS terpantau menguat 0,09 persen ke posisi 97,98.

Kelesuan ini juga menjangkiti mayoritas mata uang di Asia. Yen Jepang tercatat melemah 0,28 persen, won Korea jatuh 0,37 persen, sementara baht Thailand dan dolar Hong Kong juga turun masing-masing 0,81 persen serta 0,01 persen.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa sikap tegas Presiden AS Donald Trump menjadi motor penguatan dolar. Trump menolak proposal perdamaian terbaru dari Iran dan menyebut jawaban Teheran tidak dapat diterima.

Ucapan tersebut mematahkan harapan pasar akan redanya tensi di wilayah Teluk. Situasi ini memicu kekhawatiran pelaku pasar global terhadap stabilitas ekonomi dan jalur distribusi energi di daerah itu.

“Komentar tersebut meningkatkan risiko geopolitik. Fokus pasar tetap tertuju pada Selat Hormuz yang sebagian besar masih tertutup sejak konflik dimulai,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Senin 11 Mei 2026.

Ibrahim menyebutkan bahwa pasar saat ini menanti rencana pertemuan Trump dengan Presiden Xi Jinping di Beijing akhir pekan ini. Pertemuan itu dijadwalkan guna membahas isu perdagangan hingga krisis di Iran.

Selain itu, investor tengah mengawasi rilis data inflasi AS periode April serta data penjualan ritel pekan ini. Padahal, jika melihat faktor internal, ada sentimen positif yang sebenarnya mendukung penguatan rupiah.

Bank Indonesia melaporkan Survei Konsumen April 2026 yang menunjukkan kenaikan Indeks Keyakinan Konsumen ke level 123,0. Angka ini lebih tinggi dibandingkan posisi Maret 2026 yang sebesar 122,9.

“Terjaganya keyakinan konsumen didorong oleh Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini [IKE] yang naik ke level 116,5, mencerminkan optimisme masyarakat terhadap ketersediaan lapangan kerja dan daya beli,” pungkas Ibrahim.

Ibrahim menilai walaupun data domestik menunjukkan perbaikan, tekanan geopolitik dari luar negeri tetap menjadi hambatan utama. Selain itu, kecemasan terkait kebijakan suku bunga The Fed masih terus membayangi posisi nilai tukar rupiah.

Terkini