Rupiah Bergerak Defensif di Tengah Memanasnya Konflik AS dan Iran

Senin, 11 Mei 2026 | 13:42:29 WIB
Ilustrasi Rupiah Bergerak Defensif, ANTARA FOTO (NET).

JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) terpantau defensif dengan penguatan yang sangat terbatas pada pembukaan perdagangan awal pekan ini. Mengutip laporan Bloombergtechnoz, kondisi tersebut terjadi di tengah perhatian investor terhadap perkembangan usulan perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Pada awal perdagangan, rupiah offshore tercatat hanya berubah tipis 0,01 persen ke level Rp17.386/US$ dibandingkan penutupan pekan lalu. Tak lama berselang, mata uang Garuda menguat tipis menjadi 0,07 persen ke posisi Rp17.374/US$ pada Senin, 11 Mei 2026.

Sikap hati-hati atau wait and see dari pelaku pasar menyebabkan rupiah tertahan dalam rentang yang sempit. Hal ini merupakan dampak dari keputusan Presiden AS Donald Trump yang secara resmi menolak proposal perdamaian terbaru yang diajukan oleh Iran.

Ketegangan diplomatik tersebut memberikan dampak negatif pada pasar global. Indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama terpantau naik 0,14 persen ke level 98,03 seiring meningkatnya permintaan aset aman (safe haven).

Sektor energi pun ikut bergejolak dengan kenaikan harga minyak Brent sebesar 3,28 persen ke level US104,6perbarel,bahkanhargapengirimanJunisempatmenyentuhUS120,34 per barel setelah pernyataan Trump di media sosial.

"SAMA SEKALI TIDAK DAPAT DITERIMA."

Demikian pernyataan Trump terkait proposal tersebut seperti dikutip dari Bloombergtechnoz. Dalam laporannya, Iran menawarkan untuk mengencerkan sebagian uranium diperkaya tingkat tinggi dan mengirim sisanya ke negara ketiga. Namun, Iran meminta jaminan pengembalian uranium jika negosiasi gagal serta menolak membongkar fasilitas nuklirnya.

Analis strategi Bank of New Zealand, Jason Wong, menilai penolakan Trump telah menyeret pasar ke mode risk-off.

"Penolakan Trump terhadap rencana perdamaian terbaru Iran membuat pekan ini dimulai dalam mode risk-off’, membalikkan sebagian pergerakan harga yang kami lihat minggu lalu," kata Jason Wong.

Wong menambahkan bahwa sentimen negatif ini berpotensi berlanjut pada perdagangan awal pekan, yang sudah mulai terlihat di Asia dengan melemahnya won Korea Selatan sebesar 0,45 persen dan yen Jepang 0,15 persen.

Dari sisi domestik, pertumbuhan ekonomi Indonesia dilaporkan mencapai 5,61 persen. Meski melampaui ekspektasi, dampaknya dinilai belum signifikan ke sektor riil sehingga memicu sentimen yang beragam. Pemerintah juga mencatat defisit kuartal I-2026 sebesar Rp240 triliun.

Sebagai langkah mitigasi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengusulkan kenaikan tarif royalti pada beberapa komoditas mineral guna meningkatkan penerimaan negara.

Terkini