Indonesia Emas 2045: Dompet Rakyat Makin Tebal, Ketimpangan Berkurang

Indonesia Emas 2045: Dompet Rakyat Makin Tebal, Ketimpangan Berkurang

MEDIAKEUANGAN.ID — Pemerintah memproyeksikan rakyat Indonesia akan menikmati pendapatan lebih tinggi dan ketimpangan yang menyempit saat visi Indonesia Emas 2045 terwujud. Dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata 6%, Indonesia diprediksi keluar dari status negara pendapatan menengah pada 2041, atau lebih cepat sebelum 2040 jika pertumbuhan mencapai 7%.

Deputi Bidang Perencanaan Makro Pembangunan Kementerian PPN/Bappenas, Eka Chandra Buana, menegaskan bahwa target menjadi negara maju bukan sekadar capaian simbolik. Menurutnya, hasil akhirnya akan terasa langsung di kantong masyarakat.

Dia memaparkan tiga perubahan utama yang akan dirasakan rakyat ketika Indonesia resmi berstatus negara maju. Perubahan pertama menyangkut pendapatan dan pemerataan kekayaan.

Pendapatan Naik, Jurang Ketimpangan Menyempit

Eka menyatakan bahwa pendapatan masyarakat akan meningkat seiring berkurangnya ketimpangan. Jarak kesejahteraan antara wilayah barat dan timur Indonesia yang saat ini masih lebar juga diproyeksikan menghilang.

"Nanti kondisi masyarakat di timur itu akan lebih sejahtera. Kemudian pendapatan hanya 10% orang teratas itu pendapatannya jauh jomplang gitu kan. Nah itu akan berkurang," tutur Eka kepada CNBC Indonesia di Menara Bappenas, Jakarta, Rabu (16/9/2026).

Dia menambahkan, kesenjangan antara golongan terkaya dan lapisan bawah yang saat ini masih tajam akan terkikis secara bertahap. Pemerataan ini menjadi salah satu tolok ukur utama keberhasilan visi Indonesia Emas.

Skor PISA Jadi Ukuran Kualitas SDM

Perubahan ketiga menyangkut indeks modal manusia. Eka menyoroti skor Program Penilaian Pelajar Internasional (PISA) Indonesia yang saat ini masih tertinggal dan berharap ada lonjakan signifikan di masa depan.

Mengutip hasil PISA 2025 yang dirilis Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) di Paris, skor Indonesia tercatat 389 untuk sains, 364 untuk matematika, dan 365 untuk membaca. Skor CPS berada di 427.

Posisi itu menempatkan Indonesia di peringkat keenam Asia Tenggara. Indonesia masih kalah dari Singapura yang ada di posisi pertama, disusul Vietnam, Brunei Darussalam, Thailand, dan Malaysia.

PISA sendiri merupakan asesmen internasional berskala besar yang digelar OECD setiap tiga tahun. Penilaian ini mengukur kompetensi dasar siswa usia 15 tahun dalam literasi membaca, matematika, dan sains. Pada PISA 2025, penilaian juga mencakup computational

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index