Danantara Perlu Maksimalkan SEO dan GEO untuk Perkuat Narasi

Danantara Perlu Maksimalkan SEO dan GEO untuk Perkuat Narasi
Danantara dinilai perlu memperkuat komunikasi melalui media online dan sosial (Foto: Sumber.NET)

JAKARTA - Kini, Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara sudah memiliki cerita besar tentang investasi, aset negara, dan transformasi ekonomi. Namun, besarnya cerita tersebut belum sepenuhnya diikuti kemampuan mengemas dan menyebarkannya secara konsisten di berbagai kanal komunikasi, baik media online maupun media sosial.

Head of Growth Department PublikaLabs Fatma Kumala menilai Danantara sudah memiliki fondasi komunikasi yang cukup kuat. 

Narasi mengenai transformasi ekonomi, investasi strategis, dan optimalisasi aset negara mulai membentuk positioning Danantara di ruang publik.

“Danantara sudah berhasil membangun awareness sebagai institusi dengan mandat besar. Tantangannya sekarang bukan lagi sekadar membuat publik tahu, tetapi membuat publik benar-benar memahami apa yang dilakukan Danantara,” kata Fatma.

Menurut Fatma, tantangan berikutnya adalah menyederhanakan pesan. Istilah seperti investasi strategis, optimalisasi aset, atau transformasi ekonomi perlu diterjemahkan menjadi cerita yang lebih dekat dengan kehidupan publik—apa yang dilakukan, mengapa penting, dan apa dampaknya bagi Indonesia.

Head of Event and Partnership PublikaLabs Lufty Shintya melihat penguatan komunikasi juga perlu dilakukan dengan memanfaatkan seluruh ekosistem kanal secara lebih terintegrasi. Media online dan media sosial, menurut dia, memiliki fungsi yang berbeda tetapi saling melengkapi.

“Media online penting untuk membangun konteks, kredibilitas, dan kedalaman cerita. Sementara media sosial bisa membuat cerita itu lebih dekat, cepat, dan mudah dibicarakan publik,” ujar Lufty.

Karena itu, Danantara tidak cukup hanya hadir di media dengan engagement besar atau akun dengan jumlah pengikut tinggi. Kanal dengan engagement lebih kecil juga penting karena sering memiliki audiens yang lebih spesifik dan relevan dengan isu tertentu. Yang dibutuhkan adalah konsistensi pesan dan kemampuan menyesuaikan cara bercerita dengan karakter masing-masing platform. “Belum lagi penguatan pesan melalui SEO dan GEO di media online dan media sosial. Masih sangat lemah,” katanya.

Menurut Lufty, satu cerita juga tidak harus disampaikan dengan cara yang sama di semua kanal. Sebuah isu dapat dikembangkan menjadi berita di media online, kemudian diterjemahkan menjadi video pendek, infografis, atau percakapan di media sosial. Dengan begitu, komunikasi tidak berhenti pada publikasi, tetapi berkembang menjadi percakapan.

Di sisi lain, kehati-hatian Danantara dalam berkomunikasi dapat dipahami mengingat isu yang dibawanya berkaitan dengan aset dan investasi negara. Namun, komunikasi yang terlalu formal dan berhati-hati berisiko membuat pesan terasa jauh dari publik.

Karena itu, Fatma menyarankan agar standar governance dan kehati-hatian tetap dipertahankan, tetapi cara penyampaiannya dibuat lebih conversational. Substansinya tidak perlu berubah; cara berceritalah yang perlu diperkuat.

Ke depan, narasi besar mengenai transformasi ekonomi, kehadiran di media online, dan aktivitas di media sosial merupakan kekuatan yang perlu dilanjutkan. 

Yang perlu diperkuat adalah integrasi antarkanal, konsistensi pesan, storytelling yang lebih sederhana, serta kemampuan mengubah komunikasi satu arah menjadi percakapan.

Pada akhirnya, persoalan Danantara bukan kekurangan cerita, melainkan cara bercerita. Cerita besar membutuhkan banyak pintu untuk sampai kepada publik: media online untuk memberi konteks dan kedalaman, media sosial untuk membangun kedekatan dan engagement. Besar atau kecilnya sebuah kanal bukan satu-satunya ukuran; yang lebih penting adalah siapa audiensnya, seberapa relevan pesannya, dan bagaimana cerita tersebut terus dibangun dari satu platform ke platform lainnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index