Harga Emas Melorot Dampak Kenaikan Yield Utang AS dan Krisis Energi

Harga Emas Melorot Dampak Kenaikan Yield Utang AS dan Krisis Energi
Ilustrasi Emas (FOTO: NET)

JAKARTA - Nilai tukar logam mulia merosot usai imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat melonjak ke level tertinggi selama kurun waktu beberapa dekade.

Lonjakan tarif energi sebagai konsekuensi atas memanasnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran turut memicu kecemasan inflasi sekaligus menekan komoditas emas yang tak memiliki imbal hasil bunga.

Berdasarkan data pasar finansial, nilai komoditas emas pada penutupan perdagangan Selasa kemarin terkoreksi sebesar 1,85% atau hampir 2% dalam waktu satu malam ke angka US$ 4333,33 per troy ons.

Penurunan tersebut sekaligus menghentikan tren kenaikan beruntun yang sempat berlangsung dalam dua hari sebelumnya.

Tren pelemahan tersebut tepergok masih berlanjut pada perdagangan hari ini.

Pada Rabu pagi, nilai logam mulia ini kembali tergerus sebesar 0,09% menuju level US$ 4329,05 per troy ons.

Seorang pakar pasar dari Zaner Metals menerangkan bahwa lonjakan tajam imbal hasil obligasi menjadi pengganjal utama bagi pergerakan emas.

Di samping itu, apresiasi harga minyak mentah juga ikut menjadi penekan pergerakan harga komoditas ini.

Meski nilai logam mulia tengah mengalami koreksi teknis, pihak spesialis tersebut mengeklaim tetap optimistis terhadap prospek jangka panjang komoditas ini.

"Meski harga emas saat ini mengalami koreksi, kami tetap bullish terhadap emas dan melihat masih ada potensi kenaikan. Namun, pasar mungkin perlu melewati periode konsolidasi terlebih dahulu sebelum minat beli kembali muncul." Tutur pakar dari sumbernya.

Sementara itu, analis dari lembaga perbankan global memperkirakan transaksi pembelian pemodal saat ini lebih selaras dengan nilai emas di rentang US$ 4.000 per troy ons ketimbang US$ 5.000.

Agar mampu menembus angka US$ 5.000, volume permintaan investasi komoditas ini dinilai wajib melonjak sekitar 21% secara tahunan.

"Aktivitas pembelian investor saat ini lebih konsisten dengan harga emas yang berada di kisaran US$4.000 per troy ounce dibandingkan US$5.000," ujarnya.

Dengan demikian, gairah pembelian dari para pelaku pasar wajib terakselerasi lebih cepat agar mampu mendorong harga melampaui level US$ 5.000 per troy ons.

Beban pinjaman tenor panjang di wilayah Amerika Serikat, Jepang, hingga Jerman meroket ke titik tertinggi dalam beberapa puluh tahun terakhir.

Dinamika ini makin menjepit emas berhubung aset komoditas tersebut tidak membagikan imbal hasil berbasis bunga.

Di saat bersamaan, harga komoditas minyak mentah konsisten menguat selama tiga sesi berturut-turut.

Peluang terciptanya kesepakatan damai antara pihak Washington dan Teheran juga kian pudar.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan pernyataan bahwa Teheran kemungkinan besar enggan memenuhi persyaratan guna menyetop perselisihan.

Otoritas Iran pun menegaskan bakal mengambil posisi militer yang sepenuhnya ofensif serta memastikan Selat Hormuz tetap ditutup sampai Washington mengabulkan sejumlah syarat dalam kesepakatan sementara.

Melambungnya harga energi memperkuat alasan bagi otoritas bank sentral untuk mempertahankan atau mengerek suku bunga demi meredam gejolak inflasi.

Kondisi tersebut tetap berlangsung meskipun rilis data ekonomi terkini dari Amerika Serikat memperlihatkan adanya penyusutan lapangan kerja secara tak terduga, inflasi di bawah estimasi, serta lesunya penjualan eceran periode Juli.

Kini para pelaku pasar menantikan rilis catatan resmi dari rapat kebijakan Federal Reserve demi mencari arah kebijakan suku bunga acuan Amerika Serikat berikutnya.

Selain emas, nilai komoditas perak juga ikut anjlok.

Berdasarkan data perdagangan Selasa, harga perak ditutup melemah signifikan sebesar 3,8% ke posisi US$ 63,3 per troy ons.

Pelemahan perak tercatat terus berlanjut pada Rabu dengan terkoreksi 0,16% menuju angka US$ 63,19 per troy ons.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index