Harga Emas Dunia Diproyeksi Melonjak 43 Persen walau Permintaan Turun

Harga Emas Dunia Diproyeksi Melonjak 43 Persen walau Permintaan Turun
Ilustrasi Emas Dunia, Sumber: ajaib.co.

JAKARTA - Permintaan emas di tingkat global diproyeksikan bakal merosot pada 2026 walaupun ketersediaan logam mulia tersebut di pasaran terus mengalami peningkatan.

Meski demikian, situasi tersebut dinilai tidak akan membuat nilai jual emas menjadi jatuh begitu saja.

Berdasarkan data pada Senin (8/6/2026), sebuah lembaga riset logam mulia memperkirakan bahwa nilai rata-rata emas dunia di sepanjang 2026 justru berpotensi melambung hingga 43 persen.

Angka ini diprediksi menembus rekor baru di level: 4.920 dollar AS per ounce troi

Perkiraan tersebut hadir seiring terjadinya pergeseran dalam struktur permintaan komoditas ini secara global.

Sektor investasi fisik kini digadang-gadang akan menjadi motor penggerak utama di dalam pasar.

Melalui laporan tahunan paling anyar, lembaga riset tersebut memproyeksikan keseluruhan permintaan emas secara global akan menyusut kisaran 2 persen pada tahun ini.

Langkah penurunan ini utamanya dipicu oleh lesunya minat terhadap perhiasan serta menurunnya volume pembelian dari pihak bank sentral.

Akan tetapi, kemerosotan tersebut diprediksi dapat terimbangi oleh melonjaknya ketertarikan para investor terhadap emas fisik, khususnya dalam wujud koin dan batangan.

Perubahan pada struktur permintaan ini dianggap sebagai salah satu momentum krusial di pasar dunia.

Investasi Fisik Menggeser Dominasi Perhiasan

Lembaga riset terkait memprediksi investasi emas dalam bentuk fisik bakal melewati sektor perhiasan sebagai kategori permintaan terbesar di dunia untuk pertama kalinya.

Fenomena ini berlangsung setelah tingkat konsumsi perhiasan merosot hingga dua digit, imbas dari tingginya nilai jual logam mulia dalam beberapa tahun ke belakang.

Diperkirakan, permintaan untuk investasi fisik akan merangkak naik 15 persen pada 2026, yang menjadi capaian tertinggi sejak 2013.

Tren kenaikan ini didominasi oleh motif para penanam modal yang berburu aset pelindung nilai (safe haven) di tengah situasi ekonomi serta geopolitik dunia yang penuh ketidakpastian.

Di sisi lain, pasar perhiasan terus tertekan karena harga bahan baku yang bertahan tinggi.

Mahalnya harga komoditas ini otomatis meningkatkan biaya perolehan perhiasan, sehingga memicu sebagian pembeli untuk menangguhkan transaksi atau beralih mencari produk berkadar karat lebih rendah.

Adanya pergeseran pada perilaku pasar ini mengakibatkan struktur permintaan komoditas logam mulia mengalami transformasi yang sangat kentara jika dibandingkan dengan pola-pola konvensional sebelumnya.

Pasokan Emas Mengalami Peningkatan

Melihat dari aspek ketersediaan, lembaga riset memperkirakan produksi emas di kancah dunia bakal tumbuh secara moderat pada 2026.

Sektor pasokan ini bersumber dari dua lini utama, yaitu:

Hasil produksi pertambangan

Hasil pengolahan daur ulang

Walaupun begitu, perolehan pasokan tambahan tersebut dirasa belum mampu membalikkan arah proyeksi harga emas secara umum.

Peningkatan produksi dinilai berjalan secara bertahap dan belum sebanding dengan lonjakan nilai jual yang terjadi beberapa tahun terakhir.

Data riset turut menunjukkan adanya proyeksi peningkatan penjualan emas oleh Rusia pada tahun ini.

Pada periode yang sama, kegiatan daur ulang komoditas ini diperkirakan meningkat lantaran tingginya nilai pasar memotivasi para pemilik untuk menjual simpanan mereka.

Kendati jumlah barang di pasar bertambah, pengaruhnya tetap teredam oleh kuatnya arus minat investasi yang dianggap masih sangat sanggup mempertahankan stabilitas serta keseimbangan pasar.

Harga Emas Diproyeksikan Memecahkan Rekor Baru

Walaupun akumulasi permintaan menyusut dan jumlah pasokan menanjak, lembaga analis tetap meyakini nilai rata-rata tahunan komoditas ini akan mencetak rekor baru.

Angka rata-rata di sepanjang 2026 diproyeksikan bertengger pada level: 4.920 dollar AS per ounce troi (atau naik sekitar 43 persen dari rata-rata tahun lalu)

Estimasi ini mengemuka setelah pergerakan harga sempat menyentuh angka tertinggi di kisaran 5.595 dollar AS per ounce troi pada Januari 2026, sebelum akhirnya mengalami penurunan koreksi sekitar 20 persen.

Biarpun sempat terkoreksi, para analis melihat komoditas ini masih mempunyai peluang besar untuk merangkak naik pada paruh kedua tahun ini.

Nilai jualnya berpotensi kembali menembus rekor tertinggi baru jika tensi geopolitik mereda dan gairah pemodal menguat.

Pihak analis bahkan menekankan bahwa situasi perdagangan komoditas ini sekarang tidak berada dalam fase gelembung harga (bubble).

Mereka berargumen bahwa lonjakan nilai yang terjadi saat ini sepenuhnya disokong oleh faktor fundamental yang kokoh.

Aktivitas Pembelian oleh Bank Sentral Mengalami Perlambatan

Unsur utama yang diprediksi menahan laju total permintaan tahun ini yaitu melambatnya aksi beli dari bank-bank sentral.

Volume pembelian bersih oleh institusi keuangan negara tersebut diperkirakan tidak sepadan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Sejumlah negara dilaporkan tengah memodifikasi kebijakan cadangan devisa mereka akibat adanya tekanan penurunan nilai mata uang yang disebabkan oleh mahalnya harga energi.

Namun demikian, institusi tersebut tetap berdiri sebagai salah satu pilar pembeli terbesar.

Pada periode terdahulu, aksi beli oleh bank sentral menjadi penyokong utama kenaikan beruntun nilai komoditas ini.

Kendati demikian, memasuki 2026, sumbangsih dari sektor ini diproyeksikan tidak akan sedominan masa lalu.

Tiongkok Diprediksi Menjadi Penggerak Utama Investasi

Peran Tiongkok dalam perdagangan global turut mendapat perhatian khusus.

Negara tirai bambu tersebut diperkirakan memegang peranan vital sebagai penggerak utama dalam naiknya angka investasi fisik pada tahun ini.

Animo warga Tiongkok terhadap kepemilikan komoditas ini diproyeksikan tetap tinggi demi melakukan diversifikasi kekayaan di tengah situasi ekonomi yang tidak menentu.

Penyerapan investasi dari pasar tersebut diyakini mampu menambal penurunan dari lini perhiasan.

Keadaan ini mempertegas fakta bahwa fungsi komoditas tersebut sebagai alat investasi kini jauh lebih menonjol mengungguli kegunaan konvensionalnya sebagai bahan baku pembuatan perhiasan.

Kondisi Pasar Masih Diselimuti Faktor Ketidakpastian

Terlepas dari masalah pasokan dan permintaan, fluktuasi nilai komoditas ini masih sangat bergantung pada dinamika global.

Isu geopolitik, kebijakan suku bunga perbankan, hingga iklim ekonomi makro tetap menjadi variabel penentu sepanjang tahun berjalan.

Dalam kurun beberapa waktu ke belakang, dinamika pasar menunjukkan tingkat volatilitas yang cukup tinggi.

Usai menembus angka tertinggi pada awal tahun, grafik sempat melorot kisaran 20 persen sebelum akhirnya memperlihatkan sinyal pemulihan kembali.

Para pelaku pasar dipandang masih memosisikan logam mulia ini sebagai instrumen pelindung kekayaan paling utama saat guncangan ekonomi melanda.

Oleh sebab itu, walau total permintaan menyusut dan suplai meningkat, nilai rata-rata di sepanjang 2026 diproyeksikan tetap mengukir sejarah tertinggi baru.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index