JAKARTA - Pasar saham di Bursa Efek Indonesia diperkirakan masih mengalami tekanan besar pada perdagangan hari ini, Senin, 18 Mei 2026.
Meski dibayangi oleh koreksi, peluang memperoleh keuntungan bagi para pelaku pasar dinilai tetap terbuka di tengah situasi tersebut.
Indeks Harga Saham Gabungan diproyeksikan melanjutkan tren penurunan akibat pengaruh dari sentimen global maupun domestik yang belum mereda.
Pada penutupan perdagangan Rabu, 13 Mei 2026, indeks saham domestik ini melemah sebesar 1,98 persen menuju level 6.723,32.
Penurunan tersebut terjadi akibat perpaduan faktor eksternal serta maraknya aksi jual oleh para pemodal internasional.
Akumulasi pelemahan indeks saham utama Indonesia ini bahkan telah mencapai 910,68 poin atau anjlok sekitar 11,93 persen dalam rentang waktu 30 hari terakhir.
Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengamati bahwa pergerakan indeks saham domestik masih dibayangi oleh sentimen negatif dan rentan melemah dalam jangka pendek.
“IHSG kami perkirakan masih rawan melanjutkan koreksinya dengan support di 6.682 dan resistance di 6.789,” ujar Herditya.
Menurut penjelasan Herditya, beberapa faktor luar negeri yang membebani laju indeks meliputi ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Selain itu, ada tekanan jual akibat penataan ulang bobot portofolio indeks MSCI serta fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Pandangan serupa disampaikan oleh Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, yang menyebutkan bahwa penurunan indeks juga dipicu oleh hasil tinjauan berkala dari indeks MSCI.
“IHSG kembali melemah akibat pengumuman review kuartalan indeks MSCI, di mana sejumlah saham dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index dan MSCI Global Small Cap Index,” jelas Alrich.
Walau demikian, Alrich menilai arus modal asing yang keluar dari pasar modal dalam negeri ternyata tidak sedalam dari apa yang ditakutkan oleh pelaku pasar sebelumnya.
Status Indonesia yang bertahan sebagai pasar berkembang turut menopang kepercayaan investor.
“Perkiraan foreign outflow tidak sebesar proyeksi awal, dan sebagian arus dana keluar sebelumnya sudah mengantisipasi langkah MSCI tersebut,” tambahnya.
Secara teknikal, indikator pergerakan pasar saham masih memperlihatkan potensi pelemahan lanjutan.
Hal ini terlihat dari melebarnya grafik histogram negatif pada MACD yang dibarengi pergerakan indikator stochastic RSI menuju area jenuh jual.
Melihat parameter teknis tersebut, indeks saham diprediksi akan menguji level batas bawah baru pada kisaran angka 6.700 hingga 6.650 di awal pekan perdagangan.
Terkait strategi pemilihan instrumen investasi, Herditya merekomendasikan para pemodal untuk memantau pergerakan saham DEWA pada area harga Rp540 hingga Rp595.
Pilihan lain yang disarankan adalah INDY pada koridor Rp3.160 sampai Rp3.440, serta WIFI di batas Rp2.460 hingga Rp2.710.
Para pelaku pasar diharapkan tetap waspada memonitor perkembangan berita global, fluktuasi mata uang rupiah, serta dinamika keluar masuknya dana asing yang memicu volatilitas tinggi.