Gizi Anak Bermasalah, Sekolah Didorong Jadi Agen Perubahan

Selasa, 25 Agustus 2026 | 00:15:00 WIB

MEDIAKEUANGAN.ID — Persoalan gizi anak Indonesia tidak lagi semata soal kekurangan makanan. Sebagian pelajar justru menghadapi masalah kelebihan asupan yang tidak bergizi. Kondisi ini menjadi perhatian serius Kemendikdasmen yang mendorong sekolah mengambil peran nyata dalam perbaikan gizi siswa.

Dorongan tersebut mengemuka dalam perayaan satu dekade program Nutrition Goes to School (NGTS) di Jakarta, Minggu (23/8/2026). Program yang diinisiasi SEAMEO RECFON ini telah melibatkan sekitar 2.400 sekolah sebagai motor edukasi gizi.

Mengapa Sekolah Menjadi Kunci Perbaikan Gizi?

Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, menilai sekolah adalah garda terdepan yang bisa merespons langsung persoalan gizi di lapangan. Menurutnya, tantangan yang dihadapi saat ini bersifat ganda: ada anak yang kekurangan pangan, namun ada pula yang kelebihan konsumsi makanan tidak bergizi.

"Saya kira intinya adalah kita menyadari bahwa hal yang paling penting dalam konteks Indonesia saat ini terkait ada kekurangan gizi di anak-anak, juga ada yang berlebih dan sekaligus ada tantangan terkait kekurangan gizi. Jadi ini bagian penting yang ingin kita respon melalui sekolah sebagai agen perubahan," kata Tatang.

Ia menambahkan, pemenuhan gizi yang baik berdampak langsung pada kualitas belajar. Anak dengan status gizi optimal cenderung memiliki tingkat kehadiran lebih tinggi dan daya serap materi yang lebih baik.

"Mudah-mudahan kalau gizinya sudah oke, kemudian kesehatannya pasti akan lebih baik, angka absen sekolahnya akan makin rendah, artinya angka kehadiran sekolah makin tinggi, dan konsentrasi penyerapan untuk belajar juga akan lebih baik," ujarnya.

Praktik Nyata di Sekolah: Kebun Hingga Ternak Puyuh

Program NGTS tidak berhenti pada edukasi teori. Centre Director SEAMEO RECFON, Prof. Dr. dr. Rini Sekartini, SpA(K), mengungkapkan sejumlah sekolah telah mengimplementasikan praktik baik untuk menyokong asupan nutrisi siswa. Contohnya, SMPN 7 Cirebon yang memelihara burung puyuh sebagai sumber protein tambahan bagi para siswanya.

"Jadi gizi ini adalah fondasi utama untuk tumbuh pembangunan, menjadi investasi untuk masa depan, supaya anaknya sehat, kreatif," kata Rini.

Ekspansi Program ke Negara Asia Tenggara

Keberhasilan NGTS dalam satu dekade terakhir akan diperluas jangkauannya. Rini menyebut program ini tidak hanya menyasar sekolah-sekolah baru di Indonesia, tetapi juga merambah negara-negara Asia Tenggara lainnya.

"Dan diharapkan dekade berikutnya, ini 10 tahun ke-2, selain menjangkau daerah-daerah lain, sekolah lain di Indonesia, juga kita ke negara-negara lain di South East Asia. Sudah ada perwakilan dari Malaysia dan Laos, mungkin nanti akan kita perluas lagi, seperti New Zealand, Thailand, Filipina, dan lain-lain sesuai dengan konteks," jelas Rini.

Perluasan ini menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu pionir edukasi gizi berbasis sekolah di kawasan. Model yang dikembangkan melalui NGTS dinilai adaptif dan bisa diterapkan dengan penyesuaian konteks lokal di masing-masing negara.

Bagi orang tua, penguatan peran sekolah dalam urusan gizi ini bisa menjadi sinyal positif. Artinya, upaya memastikan anak tumbuh sehat tidak lagi berjalan sendiri-sendiri antara rumah dan sekolah, melainkan menjadi tanggung jawab bersama yang terstruktur.

Terkini