Sedekah Sampah di Bantul: Saat Nilai Spiritual Ubah Cara Pandang Warga pada Lingkungan

Sedekah Sampah di Bantul: Saat Nilai Spiritual Ubah Cara Pandang Warga pada Lingkungan

MEDIAKEUANGAN.ID — Krisis lingkungan sering kali disajikan dalam bentuk angka: tonase sampah, kadar polusi, atau luas hutan yang hilang. Namun di balik data-data itu, ada akar persoalan yang lebih mendasar—perilaku manusia terhadap alam. Gagasan "Tobat Ekologis" yang kini digaungkan Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) mencoba menyentuh lapisan paling dasar tersebut: kesadaran individu.

Gerakan Pertobatan Ekologis Nasional yang diluncurkan pada peringatan Hari Lingkungan Hidup 2026 mengajak masyarakat mengubah cara pandang terhadap alam. Esensinya sederhana: menyadari kesalahan, berkomitmen memperbaiki, dan konsisten melakukan pemulihan.

Dari Halaman Masjid, Sampah Jadi Berkah

Salah satu praktik yang mencerminkan semangat itu lahir di Kampung Brajan, Bantul. Ananto Isworo merintis Gerakan Sedekah Sampah pada 2013, bermula dari lingkungan Masjid Al-Muharram. Warga diajak mengumpulkan dan memilah sampah, lalu hasilnya dikelola untuk kebutuhan sosial.

Yang menarik, perubahan ini tidak dimulai dari bahasa teknis lingkungan seperti daur ulang atau ekonomi sirkular. Justru nilai spiritual yang dekat dengan keseharian warga menjadi pintu masuknya. Sampah tidak lagi sekadar barang buangan—ia menjadi media sedekah dan sarana membangun kepedulian.

Pengalaman Ananto menunjukkan bahwa masyarakat bisa bergerak ketika persoalan lingkungan dihubungkan dengan nilai yang mereka pegang. Manfaat ekologis pun bertemu dengan manfaat sosial dalam satu praktik yang sama.

Mencari Praktik, Bukan Sekadar Istilah

Jika dibaca sebagai proses Tobat Ekologis, gerakan di Brajan memperlihatkan alur yang utuh: kesadaran terhadap masalah sampah, perubahan cara pandang, komitmen, tindakan nyata, hingga menjadi kebiasaan komunitas. Keberlanjutan terjadi ketika praktik itu mengakar dalam rutinitas warga.

Di berbagai tempat, praktik serupa tumbuh tanpa selalu menggunakan istilah "Tobat Ekologis". Ada masjid yang mengurangi sampah, pesantren yang mengubah perilaku santri, komunitas yang memulihkan sungai, desa yang menghentikan pembakaran sampah, hingga anak muda yang membangun ekonomi sirkular.

Semangatnya sama: menyadari, berkomitmen, berubah, bertindak, dan merawat keberlanjutan.

Dari Cerita Menjadi Pengetahuan

Persoalannya, praktik-praktik baik ini sering berhenti sebagai cerita inspiratif di media sosial. Padahal, jika didokumentasikan dengan baik, ia bisa menjadi pembelajaran bagi komunitas lain.

Gagasan yang mengemuka adalah membangun Bank Praktik Tobat Ekologis Masyarakat—bukan sekadar database kegiatan, melainkan dokumentasi proses perubahan. Data yang dihimpun bisa mencakup persoalan ekologis, aktor, nilai yang mendorong perubahan, bentuk aksi, dampak sosial-ekologis, hingga potensi replikasi di daerah lain.

Dengan cara ini, praktik baik di Bantul tidak hanya menjadi milik warga Brajan. Ia bisa menginspirasi komunitas di tempat lain untuk memulai langkah serupa—dari cerita, menjadi data, lalu bergerak bersama.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index