Rupiah Diprediksi Tertekan di Tengah Memanasnya Konflik Global Dan Minyak

Jumat, 24 Juli 2026 | 14:00:20 WIB
Ilustrasi Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) (FOTO: NET)

JAKARTA - Pengamat keuangan memperkirakan mata uang garuda akan cenderung mengalami pelemahan berhadapan dengan dolar Amerika Serikat seiring memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah.

“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah harga minyak yang kembali naik oleh tensi geopolitik di Timteng,” ucap analis dari sumbernya kepada media di Jakarta.

Kendati demikian, tekanan pelemahan tersebut diprediksi tidak akan terlalu dalam karena ditopang oleh perbaikan sentimen di dalam negeri.

Melalui hasil rapat berkala, bank sentral memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan sekaligus mengeluarkan insentif baru guna menekan biaya transaksi lindung nilai serta mempromosikan diversifikasi penggunaan mata uang asing.

Pada pembukaan perdagangan, kurs rupiah sempat tercatat bergerak menguat tipis dari penutupan sesi sebelumnya.

Pilihan kebijakan untuk memberikan insentif tambahan kepada para pelaku pasar melalui perluasan keringanan premi dinilai lebih efektif dalam menjaga portofolio asing ketimbang menaikkan suku bunga acuan secara langsung.

Langkah tersebut mencakup peningkatan porsi insentif pada instrumen swap dan transaksi lindung nilai domestik.

Para pengamat menilai keputusan menahan suku bunga merupakan langkah yang logis di tengah meredanya tekanan domestik meskipun kondisi eksternal sedang bergejolak.

Jika situasi keamanan di kawasan konflik terus memburuk tanpa ada tanda pemulihan, otoritas moneter diperkirakan bakal meninjau ulang kebijakan suku bunga pada pertemuan mendatang.

Di sisi lain, dinamika global kian memanas setelah salah satu negara besar kembali mengerahkan armada pesawat tempur canggih serta jet taktis dari pangkalan Eropa menuju kawasan Timur Tengah.

Pengerahan militer tersebut turut melibatkan pasukan khusus tambahan serta penempatan skuadron pesawat pengebom strategis di pangkalan sekutu dalam status siaga penuh guna mengantisipasi eskalasi lanjutan.

Terkini