JAKARTA - Analis pasar keuangan memperkirakan nilai tukar rupiah akan cenderung melemah terhadap dolar Amerika Serikat seiring ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah antara negara tersebut dengan Iran yang kembali memanas.
“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah harga minyak yang kembali naik oleh tensi geopolitik di Timteng,” ucap seorang pengamat kepada kantor berita Antara di Jakarta.
Namun, pelemahan tersebut dinilai akan terbatas seiring mulai membaiknya berbagai sentimen domestik akhir-akhir ini.
Dari hasil rapat dewan gubernur bank sentral sebelumnya, kendati mempertahankan tingkat suku bunga, langkah otoritas moneter dalam memberikan insentif baru diharapkan mampu mendukung pergerakan rupiah.
Insentif tersebut mencakup pengurangan biaya transaksi lindung nilai valuta asing dengan bank sentral serta dorongan penggunaan mata uang selain dolar.
Sementara itu, kurs rupiah pada awal perdagangan sempat bergerak menguat tipis dibandingkan penutupan hari sebelumnya.
Otoritas moneter sendiri memilih menempuh jalur kebijakan pemberian insentif bagi investor melalui kenaikan dan perluasan keringanan premi guna merangsang arus masuk investasi portofolio asing alih-alih menaikkan suku bunga acuan.
Kebijakan tersebut diwujudkan melalui kenaikan insentif swap serta perluasan instrumen lindung nilai domestik.
Keputusan untuk menahan suku bunga dinilai sangat dapat dimengerti mengingat tekanan internal mereda meskipun sentimen dari luar negeri memburuk.
Apabila perkembangan situasi di kawasan konflik tidak menunjukkan perbaikan, bank sentral mungkin saja akan menaikkan kembali suku bunga pada pertemuan berikutnya.
Berdasarkan laporan media internasional, kekuatan militer adidaya tersebut telah mengerahkan kembali sejumlah pesawat tempur siluman generasi kelima dan jet tempur dari benua Eropa ke kawasan Timur Tengah.
Dalam sepekan terakhir, Washington juga dikabarkan mengerahkan pasukan khusus serta skuadron tambahan armada udara ke wilayah tersebut.
Sementara itu, armada pesawat pengebom jarak jauh yang ditempatkan di pangkalan Inggris dilaporkan telah berada dalam status siap siaga penuh untuk mengantisipasi kemungkinan operasi militer berskala besar.