Kondisi Ekonomi Indonesia Masih Terjaga Serta Kinerja APBN Tetap Solid

Kamis, 23 Juli 2026 | 12:35:28 WIB
Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa (FOTO: NET)

JAKARTA - Pejabat Kementerian Keuangan mengemukakan situasi perekonomian nusantara masih terpelihara dengan tingkat ekspansi mencapai 5,6 persen.

Optimisme tersebut seirama bersama kinerja Anggaran Pendapatan serta Belanja Negara hingga semester pertama 2026 yang dinilai semakin kuat, didukung kenaikan pemasukan negara dan keadaan fiskal yang tetap sehat.

Dari Sumbernya menyatakan situasi ekonomi tidak bisa diukur semata-mata dari peristiwa penutupan atau hengkangnya beberapa korporasi dari Indonesia.

"Jangan lihat soal exit perusahaan saja, jangan lihat satu sisi saja. Kita lihat data agregatnya 5,6 persen, artinya pertumbuhan ekonomi baik secara agregat. Pemerintah kasih macam-macam stimulus," ujar dari Sumbernya dalam konferensi pers APBN KiTa di Kementerian Keuangan, Selasa (21/7/2026).

Menurut dari Sumbernya, pihak berwenang konsisten menyuplai beragam rangsangan demi merawat momentum kemajuan ekonomi.

Oleh karena itu kata dari Sumbernya, masyarakat diminta meninjau situasi finansial secara komprehensif dengan menimbang berbagai indikator, bukan semata fenomena yang berlangsung pada sektor atau badan usaha tertentu.

Ia menambahkan, keadaan ekonomi makro dan mikro saling berkaitan sehingga tidak tepat menyimpulkan ekonomi makro baik, namun ekonomi mikro secara keseluruhan buruk tanpa didukung indikator yang jelas.

"Makro (dan) mikro bukan hal yang lepas. Tidak mungkin makronya bagus terus mikronya jelek. Berapa penciptaan lapangan kerja baru dan pengangguran baru, di situ baru ketahuan angkanya," katanya.

Harapan positif tersebut terefleksi pada realisasi APBN hingga 30 Juni 2026.

Pemasukan negara menembus Rp 1.459,4 triliun atau 46,3 persen dari target APBN 2026, melesat 21,4 persen dibandingkan rentang waktu yang sama tahun lalu.

Capaian tersebut ditopang perolehan pajak sebesar Rp 1.035,7 triliun, perolehan kepabeanan serta cukai Rp 152 triliun, serta penerimaan negara bukan pajak senilai Rp 271 triliun.

Pada sisi belanja, realisasi pengeluaran negara mencapai Rp 1.656 triliun atau 43,1 persen dari target APBN 2026, meningkat 17,8 persen dibandingkan rentang waktu yang sama tahun lalu.

Belanja pemerintah pusat mencapai Rp 1.298,6 triliun, sedangkan transfer ke daerah terealisasi Rp 357,4 triliun atau 51,6 persen dari target APBN.

Meskipun pengeluaran meningkat, situasi fiskal tetap terjaga.

Defisit APBN tercatat sebesar 0,76 persen terhadap produk domestik bruto, sementara keseimbangan primer masih mencatat kelebihan Rp 85,1 triliun.

Pihak berwenang menilai pencapaian tersebut merefleksikan pengelolaan fiskal yang sehat sekaligus menjaga kesinambungan APBN di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Demi memperluas basis investor dan mendiversifikasi sumber pembiayaan, pihak berwenang berencana menerbitkan Panda Bond di pasaran Tiongkok pada 23 Juli 2026 dengan target awal setara 1 miliar dollar As, bergantung pada kondisi pasar.

Menjelang penerbitan itu, Indonesia memperoleh predikat AAA bersama outlook stabil dari Lianhe Rating Co., Ltd., yang merupakan predikat tertinggi di pasaran Tiongkok.

Selain itu, agen pemeringkat Standard & Poor's juga mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek bersama outlook stabil.

Menurut pihak berwenang, keputusan tersebut mencerminkan kepercayaan internasional terhadap ketahanan ekonomi Indonesia, kredibilitas kebijakan fiskal serta moneter, dan kapabilitas pihak berwenang menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global.

Terkini