Laporan Keuangan Cemerlang Mendongkrak Kenaikan Bursa Saham Amerika Serikat

Rabu, 22 Juli 2026 | 11:23:29 WIB
Ilustrasi bursa saham New York Stock Exchange (NYSE) atau Wall Street (FOTO: NET)

NEW YORK - Bursa saham Amerika Serikat alias Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Selasa waktu setempat, didorong penguatan saham-saham produsen semikonduktor.

Di tengah meningkatnya ketegangan konflik Iran, perhatian investor mulai beralih ke musim laporan keuangan emiten yang sejauh ini menunjukkan hasil lebih baik dari perkiraan pasar.

Mengutip CNBC internasional, Rabu, indeks Dow Jones Industrial Average naik 385,38 poin atau 0,74 persen menjadi 52.224,64.

Sementara, S&P 500 menguat 0,89 persen ke level 7.509,20 dan Nasdaq Composite melonjak 1,29 persen ke posisi 25.837,21.

Ketiga indeks utama tersebut sekaligus mengakhiri tren pelemahan selama tiga sesi perdagangan berturut-turut.

Saham 3M melonjak lebih dari 7 persen setelah perusahaan industri ini membukukan laba kuartal II-2026 yang melampaui ekspektasi pasar.

Sementara itu, General Motors juga mencatatkan kinerja yang lebih baik dari perkiraan dengan membukukan pendapatan dan laba di atas ekspektasi pada kuartal II-2026.

Hasil tersebut mendorong harga saham produsen otomotif tersebut menguat hampir 5 persen.

Musim laporan keuangan sejauh ini berlangsung positif.

Berdasarkan data FactSet, dari sekitar 66 perusahaan anggota S&P 500 yang telah merilis laporan keuangan, hampir 88 persen berhasil membukukan laba yang melampaui estimasi analis.

Sejumlah perusahaan teknologi besar dijadwalkan merilis laporan keuangan dalam beberapa hari ke depan, di antaranya Alphabet, IBM, dan Tesla.

Analis Investasi Amerika Serikat eToro, Bret Kenwell, mengatakan dari Sumbernya bahwa dua pekan ke depan akan menjadi periode yang sangat menentukan bagi musim laporan keuangan, bukan hanya untuk perusahaan teknologi.

“Dua pekan ke depan akan menjadi periode yang menentukan bagi musim laporan keuangan, dan bukan hanya bagi sektor teknologi. Pesan yang mulai terlihat sudah cukup jelas, yakni perusahaan yang gagal memenuhi ekspektasi tinggi Wall Street akan menerima hukuman dari pasar,” ujar Kenwell.

Ia menambahkan, kondisi tersebut sangat berbeda dibandingkan kuartal sebelumnya, ketika ketidakpastian membuat ekspektasi pasar lebih rendah dan investor hanya mencari kepastian bahwa gejolak geopolitik tidak mengganggu kinerja korporasi di Amerika Serikat.

“Kini, setelah pasar mencetak rekor tertinggi, hasil yang baik belum tentu dianggap cukup baik oleh investor,” lanjutnya.

Penguatan pasar juga didukung oleh reli saham-saham semikonduktor.

VanEck Semiconductor ETF naik lebih dari 4 persen.

Saham Marvell Technology melonjak lebih dari 6 persen, sementara Astera Labs menguat 3 persen.

Di sisi lain, Micron Technology melesat 12 persen dan Intel naik 8 persen.

Penguatan Wall Street pada Selasa terjadi setelah pasar ditutup melemah sehari sebelumnya akibat meningkatnya kekhawatiran investor terhadap eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Komando Pusat Militer Amerika Serikat telah melancarkan serangan ke Iran selama 10 malam berturut-turut setelah Presiden Donald Trump menyatakan gencatan senjata telah berakhir.

Sementara itu, Iran dilaporkan menyerang sejumlah aset militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah dan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Teheran mengumumkan embargo maritim terhadap Arab Saudi.

Di sisi lain, harga minyak dunia bergerak fluktuatif pada Selasa karena pelaku pasar mencermati kembali upaya diplomatik untuk memediasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Sejumlah laporan menyebutkan para mediator mengusulkan gencatan senjata selama 10 hari antara kedua negara.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate naik 2 persen menjadi 84,91 dollar AS per barel, sedangkan minyak mentah Brent menguat 2 persen ke level 91,01 dollar AS per barel.

Sebelumnya, pada perdagangan Senin, harga minyak melonjak setelah Presiden Donald Trump menulis di media sosial Truth Social bahwa Teheran akan membayar mahal atas kematian tiga personel militer Amerika Serikat.

Kenaikan harga energi tersebut sempat menekan pergerakan indeks-indeks utama Wall Street pada perdagangan Senin, meskipun saham-saham semikonduktor mulai pulih dari koreksi tajam yang terjadi pada pekan sebelumnya.

Terkini