Rupiah Diproyeksikan Fluktuatif Imbas Konflik AS dan Iran

Selasa, 14 Juli 2026 | 12:19:10 WIB
Ilustrasi Rupiah dan dolar AS, Sumber: insight.kontan.

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diproyeksikan bergerak fluktuatif, namun berisiko ditutup melemah di kisaran Rp18.100 hingga Rp18.150 per dolar AS.

Berdasarkan data analisis Doo Financial Futures, mata uang garuda melemah 0,24 persen atau 44 poin ke level Rp18.109 per dolar AS pada perdagangan sebelumnya. Sementara itu, indeks dolar AS terpantau stagnan di posisi 100,95.

Direktur Doo Financial Futures Ibrahim Assuaibi menuturkan bahwa penurunan nilai mata uang rupiah dipicu oleh kembali memanasnya konflik antara AS dan Iran. Kedua negara dikabarkan saling menyerang menggunakan rudal serta drone, bahkan Teheran kembali menutup Selat Hormuz.

Menurut Ibrahim, situasi tegang ini memicu keraguan pasar atas kelanjutan perjanjian damai yang baru disepakati bulan lalu. Padahal, kesepakatan tersebut awalnya diharapkan mampu mengakhiri konflik dan membuka kembali jalur pelayaran di kawasan tersebut.

"Serangan tersebut merupakan yang terbaru dalam siklus serangan. Serangan balasan Iran berupaya untuk menegaskan kendali atas pelayaran melalui Selat Hormuz," kata Ibrahim.

Ditutupnya Selat Hormuz juga dinilai berpotensi mengerek harga energi global. Ibrahim menilai lonjakan harga energi berisiko memicu kembali kekhawatiran atas inflasi yang dapat memengaruhi arah kebijakan moneter perbankan sentral.

Akibatnya, ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama kini kembali menguat. Pertemuan kebijakan moneter The Fed sendiri dijadwalkan berlangsung pada akhir Juli 2026.

"Risalah dari pertemuan Fed bulan Juni yang dirilis pekan lalu telah menunjukkan beberapa pembuat kebijakan percaya ada alasan untuk menaikkan suku bunga, sementara para pejabat secara umum menyatakan kekhawatiran yang lebih besar atas tekanan inflasi bahkan ketika kekhawatiran tentang pasar tenaga kerja mereda," ucap Ibrahim.

Selain faktor eksternal, pasar domestik juga merespons negatif isu dugaan kasus korupsi yang menyeret mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung. Persoalan hukum antaraparat penegak hukum tersebut berisiko mengganggu iklim investasi tanah air.

Ia menambahkan bahwa rendahnya kepastian hukum di suatu negara berpotensi menjadi penghambat bagi pertumbuhan ekonomi dan minat para investor.

"Dengan hukum yang hancur seperti ini, maka tidak ada lagi kepastian hukum dan secara otomatis kepercayaan investor jatuh. Ditambah kebijakan tidak pro pasar, yang menyebabkan terjadinya vote of no confidence yang akan menghambat perekonomian," ujar Ibrahim.

Ibrahim memproyeksikan rupiah masih berpotensi melanjutkan pelemahannya di kisaran Rp18.100 hingga Rp18.150 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Pada pembukaan pagi hari, rupiah tercatat melemah 0,24 persen ke level Rp18.109 per dolar AS seiring indeks dolar yang berada di posisi 101,24.

Terkini