Peluang IHSG Melanjut Tren Positif Di Tengah Menanti Pidato The Fed

Peluang IHSG Melanjut Tren Positif Di Tengah Menanti Pidato The Fed
Ilustrasi saham (FOTO: NET)

JAKARTA - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan memiliki kans memperpanjang tren kenaikan pada transaksi perdagangan Jumat (28/8/2026), usai pada hari sebelumnya melonjak 1,81 persen menuju level 6.521.

Kendati pergerakan bursa mulai membaik, para pelaku pasar diimbau tetap berhati-hati terhadap gejolak eksternal serta menantikan petunjuk arah moneter AS lewat pidato perwakilan The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole.

Dari sumbernya memaparkan secara teknikal laju IHSG berpeluang bergerak naik secara terbatas pada batas support 6.440 dan resistance 6.635.

“Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat IHSG berpotensi menguat terbatas dengan support dan resistance 6.440 – 6.635,” ujar dari sumbernya dalam risetnya, Jumat (28/8/2026).

Pada penutupan bursa Kamis (27/8/2026), IHSG ditutup menanjak 116,06 poin atau 1,81 persen menuju titik 6.521.

Lonjakan ini didorong utama oleh sektor manufaktur/industri yang melonjak 3,95 persen.

Dari sumbernya menjelaskan bahwa sentimen domestik dan global turut terdorong oleh perbaikan indikator tenaga kerja di AS.

Data US Initial Jobless Claims menyusut dari angka 207.000 menjadi 203.000, serta US Continuing Claims merosot dari 1,796 juta menjadi 1,778 juta.

Berdasarkan pandangannya, penyusutan angka klaim pengangguran tersebut memberikan ruang bernapas bagi Bank Sentral AS, sehingga perhatian dapat dialihkan pada dinamika inflasi yang masih alot diturunkan.

“US Initial Jobless Claims mengalami penurunan dari sebelumnya 207k menjadi 203k, sebuah level yang dekat dengan titik terendah sepanjang sejarah. Begitupun dengan US Continuing Claims yang mengalami penurunan dari sebelumnya 1.796k menjadi 1.778k, yang tentu saja ini merupakan sesuatu yang sangat positif,” katanya.

Walau begitu, dari sumbernya mengingatkan agar laporan tersebut tetap disikapi cermat lantaran berkurangnya klaim pengangguran bisa disebabkan oleh habisnya masa penerimaan tunjangan bagi sebagian warga pengangguran.

Pada aspek laju inflasi, pelaku bursa masih mewaspadai potensi kenaikan harga minyak mentah akibat gesekan antara AS dan Iran.

Dinamika geopolitik tersebut dianggap sanggup kembali menekan angka inflasi sekaligus memengaruhi keputusan bank sentral.

Perhatian pemodal juga tertuju pada relasi perdagangan antara Amerika Serikat dan Kanada yang masih memanas.

Dari sumbernya menilai memuncaknya perselisihan dagang kedua negara berisiko meluas serta memperbesar ketidakpastian bursa saham internasional.

Di samping itu, pidato Kevin Warsh di Jackson Hole bakal menjadi penggerak utama pada transaksi mendatang.

Para pelaku pasar akan mencermati proyeksi Warsh mengenai titik arah suku bunga acuan The Fed.

Dari sumbernya juga menyoroti pergerakan yield surat utang pemerintah Indonesia.

Meningkatnya yield US Treasury mendorong imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun kembali bergeser pada kisaran 7-7,10 persen.

Menurut analisisnya, peningkatan tersebut masih wajar usai yield SUN 10 tahun sebelumnya sempat terkoreksi lumayan dalam dari area 7,20-7,30 persen.

“Kami melihat potensi tersebut cukup besar. Namun mungkin akan bertahap, sama dengan kenaikkan IHSG. Kami melihat pasar mulai pulih, namun tetap hati-hati karena volatilitas masih cukup tinggi,” ujar dari sumbernya.

Dari ranah domestik, otoritas fiskal mematok target belanja negara 2027 mencapai Rp 4.097 triliun, naik 6,6 persen dibanding proyeksi 2026 sebesar Rp 3.842 triliun.

Pengeluaran pemerintah pusat dirancang menyentuh Rp 3.362 triliun, tumbuh 3,6 persen.

Pagu tersebut mencakup alokasi belanja kementerian/lembaga sebesar Rp 1.504,7 triliun dan belanja non-kementerian/lembaga Rp 1.857 triliun.

Beberapa sektor memperoleh porsi besar, meliputi anggaran pendidikan Rp 820,9 triliun, jaminan sosial Rp 549,9 triliun, sektor kesehatan Rp 244,9 triliun, dan ketahanan pangan Rp 195,3 triliun.

Dari sumbernya menganggap lonjakan belanja negara membuktikan pemerintah masih bertumpu pada stimulus fiskal guna memelihara laju ekonomi dan daya beli warga.

Akan tetapi, efektivitas penggunaan dana menjadi tantangan nyata sebab ekspansi anggaran mesti diimbangi manajemen yang produktif dan tepat sasaran.

Di saat bersamaan, dari sumbernya memaparkan penanjakan IHSG pada hari Kamis dibarengi dengan munculnya akumulasi volume pembelian.

IHSG pun terpantau konsisten bertahan di atas garis pergerakan rata-rata 20 hari (MA20).

“IHSG menguat 1,81 persen ke 6.521 dan disertai dengan munculnya volume pembelian. Pergerakannya pun masih mampu berada di atas MA20,” ujar dari sumbernya.

Kendati begitu, dari sumbernya memproyeksikan posisi IHSG saat ini masih menempati fase wave iv dari wave (c).

Para investor disarankan mengantisipasi potensi pelemahan pada area 6.290-6.394.

“Kami memperkirakan, posisi IHSG saat ini sedang berada pada bagian dari wave iv dari wave (c), cermati area koreksi IHSG yang dapat kami perkirakan berada pada rentang 6.290 - 6.394. Adapun area penguatan IHSG akan menguji area 6.666,” tegas dia.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index