MEDIAKEUANGAN.ID — Setelah berbulan-bulan dirumorkan, Garmin akhirnya memperkenalkan lini Fenix 9 secara global. Saya kebetulan berada di Chamonix untuk menyaksikan peluncurannya dan langsung menguji Fenix 9 Pro di jalur pendakian serta lari sejauh 12 kilometer untuk mencoba fitur-fitur terbarunya. Pendahulunya, Fenix 8, selama dua tahun terakhir dianggap sebagai jam tangan performa terbaik, bahkan andal diajak trekking 11 hari ke Base Camp Everest. Pertanyaannya sekarang, apa yang bisa ditingkatkan dari produk yang sudah nyaris sempurna?
Desain Lebih Tipis dan Layar Dua Kali Lebih Terang
Fenix 9 Pro yang saya uji hadir dengan bodi 43 mm dan warna strap Shell Pink. Ukuran ini menjadi kabar baik bagi pengguna dengan pergelangan tangan kecil, karena Fenix 8 Pro sebelumnya hanya tersedia dalam ukuran 47 mm dan 51 mm yang terlihat besar di tangan saya.
Dengan material titanium dan teknologi nano moulding, bodi jam ini terasa jauh lebih ringan dan ramping, sekitar 16 persen lebih tipis dari Fenix 8 di ukuran yang sama. Layar AMOLED-nya juga disebut dua kali lebih terang dari pendahulunya, dengan kecerahan hingga 3.000 NITS pada varian Pro. Saat dipakai di bawah sinar matahari Alpen maupun kondisi minim cahaya, layarnya tetap mudah dibaca tanpa perlu menyipitkan mata.
Fitur Garmin Epic: Menggabungkan Semua Aktivitas dalam Satu Narasi
Fitur paling menarik dari seri ini bernama Garmin Epic. Ini bukan sekadar jurnal petualangan, melainkan alat untuk menggabungkan beberapa aktivitas dan metrik dalam satu "epik" yang bisa berlangsung hingga 92 hari.
Saya langsung mencobanya dengan membagi pendakian menjadi dua mode: Rucking untuk pendakian 5 km dan Trail Running untuk turun. Setelah kedua aktivitas tersimpan, saya bisa melihat total jarak tempuh, elevasi, kalori, dan detak jantung dalam satu tampilan peta yang terintegrasi. Fitur ini ideal bagi pendaki multi-hari, pelari yang sedang dalam masa persiapan maraton, atau liburan aktif yang ingin melihat rekap performa harian secara menyeluruh.
Lampu Hijau untuk Visibilitas Malam yang Lebih Baik
Fitur LED torch kembali menjadi favorit, dan kini hadir dengan tambahan mode lampu hijau. Saya menguji mode ini setelah matahari terbenam dan hasilnya signifikan: lampu hijau jauh lebih baik dalam menerangi kontur medan dibandingkan lampu merah. Ini sangat membantu saat harus berjalan di sekitar area berkemah dalam gelap, sementara lampu putih tetap menjadi pilihan utama untuk navigasi kecepatan tinggi.
Navigasi Lebih Cepat dengan Mode Perspektif Baru
Rendering peta pada Fenix 9 diklaim 30 persen lebih cepat dari Fenix 8, dan 40 persen lebih cepat pada varian Pro. Dalam pengujian, hampir tidak ada jeda saat memperbesar atau memperkecil peta. Fitur Explore Nearby juga bekerja mulus, langsung menemukan hotel dan membuat rute pulang tanpa hambatan.
Saat berada di area kota yang ramai, saya mencoba mode orientasi peta baru bernama Perspective. Mode ini memiringkan tampilan peta sehingga lebih menyerupai pandangan ke depan, bukan sekadar tampilan dari atas. Ini membuat pembacaan tikungan dan jalur yang akan dilalui terasa lebih intuitif, terutama saat berlari dengan kecepatan tinggi.
Mode Rucking yang Lebih Canggih
Garmin juga menyempurnakan mode Rucking dengan kolaborasi bersama Go Ruck. Kini pengguna bisa mengubah berat beban di tengah aktivitas, mengatur target kalori, dan mengikuti program latihan khusus. Saya menguji pengaturan target 500 kalori dan pembaruan berat beban secara langsung, dan semuanya berjalan mulus. Fitur ini membantu menghitung selisih kalori antara aktivitas hiking biasa dengan beban tambahan yang dibawa, berguna untuk mengatur asupan energi saat perjalanan jauh.
Daya Tahan Baterai Jadi Catatan Utama
Meski varian 51 mm menawarkan daya tahan hingga 151 jam dalam mode Max Battery, pengalaman saya dengan bodi 43 mm berbeda. Jam yang saya uji memulai hari dengan baterai 83 persen, dan setelah dua jam di jalur, dayanya turun drastis ke 66 persen. Dengan laju konsumsi seperti ini, pendakian multi-hari akan membutuhkan pengisian daya setiap malam, yang terasa kontradiktif dengan positioning-nya sebagai jam tangan petualang.
Garmin masih perlu bekerja lebih keras untuk menghadirkan varian dengan bodi kecil namun tetap punya daya tahan baterai yang mumpuni. Beberapa fitur seperti rerouting dan pelacakan Stamina yang ditingkatkan juga belum bisa saya uji secara maksimal karena baru hari pertama, tetapi potensi besarnya sudah terlihat.
Kesimpulan
Fenix 9 Pro membawa peningkatan desain dan fitur yang relevan, terutama bagi pengguna yang selama ini mengeluhkan ukuran bodi Fenix 8. Layar yang lebih terang, mode peta baru, dan fitur Garmin Epic adalah tambahan yang berguna, bukan sekadar gimmick. Namun, keputusan pembelian untuk pasar Indonesia sebaiknya mempertimbangkan varian ukuran dengan cermat, terutama jika Anda sering melakukan ekspedisi panjang tanpa akses listrik. Bagi pengguna yang lebih sering melakukan aktivitas harian dan olahraga terstruktur, varian 43 mm tetap menjadi pilihan paling nyaman dipakai sepanjang hari.