PPN DTP Belum Optimal Dongkrak Penjualan Properti Ciputra Tahun Ini

Jumat, 03 Juli 2026 | 09:12:13 WIB
Ilustrasi PPN, Sumber: bizhare.

JAKARTA - PT Ciputra Development Tbk menilai perpanjangan insentif pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah belum efektif mendongkrak kinerja penjualan sepanjang tahun ini. Meskipun stimulus fiskal tersebut memberikan potongan harga pembelian properti hingga 11%, manajemen melihat animo belanja pasar terhadap produk real estat relatif belum terstimulasi secara masif.

“Hal ini tecermin dari presales Perseroan yang selama 3 bulan pertama tahun 2026 ini mengalami penurunan 23% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, mengindikasikan insentif tersebut belum dapat mengimbangi pelemahan permintaan di pasar properti,” tulis manajemen.

Sejalan dengan hal itu, koreksi penjualan yang terjadi dipandang sebagai bagian dari siklus penurunan yang wajar di industri properti nasional. Fase konsolidasi ini terjadi setelah sektor real estate melewati periode pertumbuhan yang sangat kuat sepanjang kurun waktu 2022 hingga 2024.

“Permintaan properti lebih dipengaruhi oleh faktor-faktor fundamental, di antaranya tingkat suku bunga KPR, daya beli masyarakat dan ketersediaan pembiayaan dari perbankan, disamping pengetatan likuiditas [liquidity crunch] yang dapat menekan permintaan secara tidak langsung,” imbuhnya.

Kendati efektivitasnya belum optimal mengerek penjualan saat ini, manajemen berharap pemerintah tetap melanjutkan kebijakan fiskal tersebut guna menjaga keterjangkauan harga rumah jangka panjang.

"Perseroan juga berharap pemerintah tetap melanjutkan kebijakan PPN DTP, mengingat kebijakan tersebut dapat menjaga keterjangkauan harga rumah mendukung permintaan sektor properti,” pungkasnya.

Sebelumnya, pendapatan dan laba bersih diproyeksikan mengalami penurunan hingga sekitar 10% pada 2026 dibandingkan dengan pada tahun lalu. Namun, target marketing sales tetap dipertahankan sebesar Rp9,5 triliun pada tahun ini.

Proyeksi penurunan tersebut bukan disebabkan memburuknya kinerja operasional saat ini, melainkan merupakan dampak dari melemahnya penjualan sepanjang 2025.

"Di perusahaan properti, pendapatan baru diakui ketika pembangunan selesai dan unit diserahterimakan. Jadi ketika pre-sales tahun 2025 turun, dampaknya memang baru terlihat pada pendapatan tahun 2026," ujarnya.

Terkini