Rupiah Menguat Tipis di Tengah Penolakan Trump atas Damai Iran

Senin, 11 Mei 2026 | 15:15:00 WIB
Ilustrasi Rupiah Menguat

JAKARTA - Kurs rupiah pada pasar Non-Deliverable Forward (NDF) terlihat bergerak defensif dengan kenaikan yang sangat minim saat pembukaan perdagangan awal minggu ini. Berdasarkan laporan Bloombergtechnoz, kondisi ini berlangsung di tengah fokus mendalam para investor terhadap kelanjutan draf perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Mata uang rupiah offshore mengawali transaksi dengan fluktuasi rendah 0,01 persen pada angka Rp17.386/US$ jika dibandingkan penutupan minggu lalu. Tidak lama kemudian, apresiasi mata uang Garuda sedikit meningkat menjadi 0,07 persen menuju level Rp17.374/US$ pada Senin, 11 Mei 2026.

Pergerakan rupiah yang cenderung stagnan dalam rentang kecil ini menunjukkan adanya sikap hati-hati dari para pelaku pasar. Keadaan tersebut merupakan imbas dari langkah Presiden AS Donald Trump yang secara resmi menolak usulan perdamaian terbaru dari pihak Iran.

Reaksi negatif pasar global segera terlihat pasca aksi saling tolak proposal tersebut. Indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama tercatat naik 0,14 persen ke level 98,03, sejalan dengan naiknya minat pasar pada aset aman atau safe haven.

Sektor energi turut mengalami gejolak, di mana harga minyak Brent meningkat 3,28 persen ke posisi US$104,6 per barel. Bahkan, harga minyak untuk kontrak Juni sempat mencapai US$120,34 per barel setelah pernyataan Trump muncul di media sosial.

"SAMA SEKALI TIDAK DAPAT DITERIMA."

Begitulah pernyataan Trump saat memberikan komentar terhadap proposal tersebut sebagaimana dikutip dari Bloombergtechnoz. Iran dalam laporannya menawarkan proses pengenceran sebagian uranium yang telah diperkaya tingkat tinggi serta mengirimkan sisanya ke negara ketiga.

Akan tetapi, Iran meminta jaminan agar uranium tersebut dikembalikan jika perundingan gagal dan tetap tidak mau membongkar fasilitas nuklirnya. Analis strategi Bank of New Zealand, Jason Wong, berpendapat bahwa penolakan Trump telah menarik pasar masuk ke mode risk-off.

"Penolakan Trump terhadap rencana perdamaian terbaru Iran membuat pekan ini dimulai dalam mode risk-off’, membalikkan sebagian pergerakan harga yang kami lihat minggu lalu," kata Jason Wong.

Wong memproyeksikan sentimen negatif ini berisiko mendominasi transaksi awal pekan. Efeknya sudah mulai nampak di Asia, di mana won Korea Selatan merosot 0,45 persen dan yen Jepang menyusut 0,15 persen.

Selain tekanan dari faktor eksternal, situasi domestik pun menjadi sorotan setelah angka pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 5,61 persen. Walaupun berada di atas ekspektasi, pengaruh pertumbuhan tersebut dinilai belum kuat merambah sektor riil sehingga memicu munculnya sentimen yang beragam.

Pemerintah melaporkan adanya defisit pada kuartal I-2026 sebesar Rp240 triliun. Sebagai langkah mitigasi serta upaya menaikkan pendapatan negara, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan usulan kenaikan tarif royalti pada sejumlah komoditas mineral.

Terkini