Dukungan Publik Menurun, Kekhawatiran Fiskal Jepang Mencapai 71 Persen

Dukungan Publik Menurun, Kekhawatiran Fiskal Jepang Mencapai 71 Persen
Ilustrasi Negara Jepang (FOTO: NET)

TOKYO - Hasil jajak pendapat Kyodo News yang dirilis pada akhir pekan ini menunjukkan angka 71 persen responden cemas terhadap kesehatan fiskal negara.

Kondisi tersebut mengemuka setelah Perdana Menteri Sanae Takaichi memutuskan untuk sementara menurunkan tarif pajak konsumsi atas bahan makanan demi meredam inflasi.

Survei terbaru itu turut mendapati tingkat persetujuan terhadap Kabinet Takaichi mengalami penurunan 3,5 poin persentase dari riset sebelumnya pada Juli menjadi 50,2 persen.

Angka itu mencatatkan tingkat terendah sejak sosok penguasa tersebut menjabat tahun lalu.

Di sisi lain, tingkat ketidaksetujuan publik justru mengalami kenaikan sebesar 0,2 poin hingga menyentuh angka 33,9 persen.

Penyelenggaraan jajak pendapat via telepon pada Sabtu dan Minggu ini memberikan bukti baru bahwa dukungan masyarakat terhadap kabinet Takaichi sedang dalam tren menurun, meski angkanya masih relatif tinggi.

Langkah kebijakan kunci telah dijalankan dengan mengurangi tarif pajak konsumsi makanan dan minuman menjadi 1 persen dari semula 8 persen demi membantu rumah tangga terdampak kenaikan harga barang harian.

Lonjakan harga tersebut dipicu oleh melemahnya mata uang yen serta berlanjutnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Walau begitu, sebanyak 71,7 persen responden menyatakan mereka khawatir atau memegang "beberapa kekhawatiran" terkait memburuknya kesehatan fiskal negara jika penurunan pajak dilaksanakan sesuai rencana.

Langkah penyerapan anggaran secara agresif untuk mendukung sektor strategis utama dan mendorong perekonomian telah menyebabkan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah serta melemahnya nilai tukar yen.

Sebagai catatan, kondisi kesehatan fiskal Jepang saat ini berada pada tingkatan terburuk di antara jajaran negara maju.

Di tengah kabar burung perombakan kabinet dan kepemimpinan partai penguasa, sebanyak 73,8 persen responden menolak pengangkatan anggota parlemen yang tersangkut skandal penggelapan dana ke posisi kunci.

Ketika publik diminta menanggapi penghilangan kata "penyesalan" dalam pidato peringatan kekalahan Perang Dunia II pada 15 Agustus, sebanyak 47,8 persen mendukung tindakan tersebut sedangkan 42,6 persen menolaknya.

Tokoh konservatif dengan pandangan garis keras pertahanan itu 'membedakan diri' dari pendahulunya Shigeru Ishiba, yang tahun lalu menjadi pemimpin Jepang pertama dalam 13 tahun dengan menyertakan kata "penyesalan" atas perang.

Kunjungan langsung ke Kuil Yasukuni yang kontroversial di Tokyo pada hari peringatan tersebut sengaja dihindari.

Kuil Shinto itu sendiri dipandang China dan Korea Selatan sebagai simbol masa lalu yang kelam karena menghormati penjahat perang yang sudah dihukum bersama para korban.

Meski tidak masuk, tindakan membungkuk dua kali, bertepuk tangan dua kali, dan membungkuk sekali ke arah Yasukuni dari luar lokasi upacara dilakukan sebagai simbol pemujaan Shinto.

Tindakan bahasa tubuh tersebut didukung oleh 44,0 persen responden, sementara 26,7 persen menilai kunjungan seharusnya dilakukan secara langsung, dan 22,1 persen menolak bentuk pemujaan walau dari jauh.

Sementara itu, Partai Demokrat Liberal (LDP) tetap menikmati basis dukungan kuat yang dibuktikan lewat kemenangan besar pada pemilihan Dewan Perwakilan Rakyat Februari lalu.

Kendati demikian, penanganan urusan parlemen oleh koalisi LDP dan Partai Inovasi Jepang (JIP) terus menuai kritik dari pihak oposisi.

LDP mencatatkan perolehan dukungan tertinggi sebesar 34,9 persen (turun dari 35,9 persen pada Juli), sedangkan JIP naik tipis menjadi 5,9 persen dari 5,8 persen.

Adapun rencana penggabungan Aliansi Reformis Sentris (CRA), Partai Demokrat Konstitusional Jepang (CDPJ), dan Komeito dinilai negatif oleh 51 persen responden yang menginginkan rencana itu "dibatalkan sepenuhnya."

CRA sendiri dibentuk tepat sebelum pemilihan Februari oleh anggota dewan bawah dari CDPJ dan Komeito, di mana pembicaraan tiga pihak masih berjalan untuk menentukan bentuk konsolidasi.

Tingkat dukungan untuk CRA tercatat turun menjadi 2,8 persen dari 4,6 persen bulan lalu, CDPJ naik menjadi 4,8 persen dari 3,8 persen, dan Komeito naik ke angka 2,5 persen dari 1,7 persen.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index