Industri Penerbangan Hadapi Tekanan Kurs Dolar serta Kenaikan Avtur

Minggu, 06 September 2026 | 12:35:07 WIB
Ilustrasi Lion Air (FOTO: NET)

JAKARTA - Sektor angkutan udara dalam negeri mulai menanggung beban berat dampak dari penurunan kurs rupiah beserta melambungnya ongkos avtur.

NIlai tukar rupiah terperosok hingga 7,78%, pengeluaran perusahaan penerbangan semakin melambung.

Penyelenggara jasa penerbangan mulai memangkas rute perjalanan lokal maupun mancanegara.

Komponen biaya tambahan bahan bakar melonjak 40%, sehingga tarif penerbangan diproyeksikan bakal naik sekitar 8%.

Dari sumbernya menjelaskan bahwa pemotongan jadwal terbang merupakan langkah yang tidak terelakkan bagi badan usaha guna menekan tingkat beban keuangan.

“Mau tidak mau seperti itu untuk melakukan efisiensi operasional perusahaan,” katanya.

Tidak cuma gejolak nilai tukar yang menyulitkan operasional maskapai.

Lonjakan tarif bahan bakar pesawat turut menjadi pemicu beban pengeluaran paling dominan.

Dari sumbernya mengungkapkan ada dua pendorong dominan yang saat ini membebani struktur anggaran maskapai, yaitu harga bahan bakar serta penguatan dolar AS.

“Faktor pertama avtur, kedua dollar AS.”

Langkah penghematan yang diterapkan yakni lewat pemangkasan kuota jadwal penerbangan.

Metode penyesuaian ini memfasilitasi pihak maskapai dalam menyelaraskan keterisian dengan dinamika pasar sembari memangkas beban biaya pada trayek tertentu.

Tags

Terkini