Prospek Pemulihan KPR Dipicu Potensi Penurunan Suku Bunga Perbankan

Jumat, 04 September 2026 | 12:10:29 WIB
Ilustrasi KPR (FOTO: NET)

JAKARTA - Kelesuan pada penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR) tidak serta-merta memupuskan prospek kebangkitan pasar pembiayaan hunian pada semester kedua tahun ini.

Laporan Bank Indonesia (BI) menunjukkan laju pertumbuhan KPR mengalami tren melambat sejak kurun Februari 2025.

Pergerakan tersebut sempat diwarnai lonjakan pada November 2025 serta April 2026, sebelum akhirnya kembali menurun di periode-periode berikutnya.

Per Juli 2026, persentase pertumbuhan KPR tertahan pada angka 4,3% secara tahunan (year on year/YoY), meneruskan pola penurunan dalam kurun beberapa bulan terakhir.

Kendati demikian, potensi penguatan laju KPR dinilai tetap terbuka seiring masuknya momentum perbaikan suku bunga.

Pihak dari sumbernya meyakini pembiayaan KPR bakal kembali bergairah mulai September 2026 berkat pelandain suku bunga simpanan perbankan.

Pihak dari sumbernya menerangkan, lambatnya laju KPR per Juli 2026 sangat dipengaruhi tingginya tingkat suku bunga dana.

Situasi itu memicu pembengkakan beban pendanaan perbankan sehingga kemampuan bank melepas kredit bersuku bunga murah menjadi terbatas.

Menurut penilaiannya, peta likuiditas perbankan sejatinya masih sangat dinamis.

Meski begitu, jajaran perbankan tetap mengantongi daya tahan untuk mengucurkan pinjaman.

Pihak dari sumbernya memprediksi situasi ini bakal membaik menyusul diberlakukannya penataan batas suku bunga pada penempatan dana Badan Layanan Umum (BLU) milik pemerintah.

Pihak dari sumbernya memaparkan, pemerintah via Kementerian Keuangan (Kemenkeu) telah menetapkan langkah pengaturan tingkat bunga dana BLU guna mencegah persaingan penawaran antarlembaga yang berlebihan.

Regulasi anyar tersebut diharapkan sanggup memangkas porsi beban dana yang mesti ditanggung perbankan.

“Yang kami cegah sekarang kan suku bunga dana mahal supaya tetap bisa kasih kredit murah. Nah itu kan berlaku per September ini, jadi kami tunggu aja,” kata dari sumbernya saat ditemui di Menara 2 BTN, Jakarta Selatan, dikutip pada Selasa (1/9/2026).

Seiring menyusutnya ongkos pendanaan, dari sumbernya meyakini ruang gerak bank dalam mengalirkan pembiayaan secara normal, termasuk KPR, akan makin longgar.

Pihak dari sumbernya memperkirakan imbas positif pemangkasan biaya dana tersebut bakal terasa nyata mulai September 2026.

“Once itu ada, saya sih optimis suku bunga akan turun dan kami tetap bisa menyalurkan kredit normal,” ujarnya.

Atas alasan itu, dari sumbernya mantap menilai kelesuan sektor KPR tidak bakal berlanjut hingga pengujung tahun.

Berdasarkan analisisnya, perbaikan suku bunga simpanan bakal menjadi pendorong utama kebangkitan performa KPR sejak September 2026.

“September ini,” ungkap dari sumbernya saat dikonfirmasi mengenai jadwal kebangkitan pertumbuhan KPR.

Walau demikian, efektifitas efisiensi biaya dana dalam memicu minat KPR publik masih perlu diuji.

Sebab, kebangkitan sektor KPR tidak cuma bergantung pada sisi ketersediaan kredit perbankan, melainkan juga tingkat keterjangkauan dan kepercayaan publik.

Pihak dari sumbernya mengemukakan, bila dilihat dari faktor ketersediaan, kondisi pasar sebetulnya amat mendukung.

Tingkat likuiditas industri bank masih longgar dengan rasio AL/DPK di kisaran 23,1% pada Juli 2026, didukung pula oleh insentif KLM dari BI untuk lini konstruksi dan perumahan.

Oleh sebab itu, bilamana ongkos dana berhasil ditekan lalu ditransmisikan menjadi penurunan bunga KPR, kemampuan finansial konsumen bakal terangkat dan memicu kenaikan permintaan dari pembeli rumah pertama.

Akan tetapi, respons pasar KPR atas suku bunga tetap amat terikat pada daya beli serta keyakinan ekonomi keluarga.

Pihak dari sumbernya membeberkan bahwa hunian merupakan komoditas bernilai tinggi berjangka panjang, sehingga keputusan mengambil KPR tidak cuma bertumpu pada cicilan awal melainkan kepastian kerja dan ketersediaan uang muka.

“Jadi, penurunan bunga akan lebih efektif apabila dibarengi dengan perbaikan daya beli dan confidence konsumen,” ungkap dari sumbernya kepada Bisnis, Selasa (1/9/2026).

Sikap senada turut disampaikan perwakilan perbankan nasional lainnya.

Pihak dari sumbernya menyatakan bahwa penurunan ongkos pendanaan memang membuka peluang revisi bunga KPR.

Namun demikian, kompetitifnya tingkat bunga bukan satu-satunya pertimbangan utama calon debitur dalam mengambil kredit.

“Bagi nasabah, faktor yang menjadi pertimbangan tidak hanya suku bunga yang kompetitif, tetapi juga biaya kepemilikan rumah yang terjangkau serta proses pengajuan yang mudah dan cepat,” ungkap dari sumbernya kepada Bisnis, Selasa (1/9/2026).

Di tengah kelesuan pasar nasional, entitas tersebut justru berhasil membukukan kenaikan performa.

Hal itu terlihat dari pencairan KPR semester I/2026 yang menyentuh angka Rp3,8 triliun atau tumbuh 3% (YoY).

Pencairan KPR di kuartal II/2026 pun melonjak 38% dibanding kuartal sebelumnya.

Demi menjaga laju positif ini, dari sumbernya menegaskan perseroan bakal fokus mempertahankan tingkat bunga yang menarik, mempererat kerja sama dengan pengembang, memanfaatkan saluran digital, dan menajamkan segmentasi konsumen.

“Seluruh inisiatif tersebut tetap dilakukan dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian dan menjaga kualitas aset,” tegasnya.

Di lain sisi, dari sumbernya menyoroti bahwa penyesuaian bunga kredit atas penurunan biaya dana kerap membutuhkan durasi dan berjalan tidak simetris.

Penurunan ongkos simpanan tidak serta-merta berimbas langsung pada pemangkasan bunga pinjaman.

Pihak dari sumbernya menerangkan, bank harus memperhitungkan komposisi DPK, jatuh tempo deposito, tingkat likuiditas, hingga marjin operasional.

Kecenderungan tersebut tecermin dari data sepanjang tahun ini.

Pihak dari sumbernya menjelaskan rata-rata suku bunga kredit memang mencatatkan penurunan dibanding periode tahun lalu.

Sesuai catatan OJK, bunga kredit bergeser dari 9,20% pada Maret 2025 menjadi 8,76% pada Maret 2026, meski transmisinya berlangsung bertahap.

Secara umum, dari sumbernya menilai dampak riil pada bunga KPR memerlukan rentang waktu satu hingga dua kuartal, sementara imbasnya pada total outstanding KPR butuh masa lebih panjang akibat jeda proses pengajuan hingga pencairan.

Terlebih lagi, BI Rate telah bertahan di level 5,75% sejak Juni 2026 setelah sebelumnya merangkak naik dari posisi 4,75% pada April 2026.

“Artinya, ruang penurunan lending rate dalam waktu dekat juga akan sangat tergantung pada apakah cost of fund bank benar-benar turun secara persisten,” katanya.

Lantaran itu, untuk paruh kedua 2026, pihaknya menilai tren KPR bakal bergerak menuju tahap stabilisasi dan pemulihan perlahan ketimbang lonjakan drastis.

Penurunan biaya dana akan membantu dari sisi harga, tetapi percepatan performa tetap memerlukan paduan suku bunga rendah, penguatan daya beli masyarakat, serta keyakinan konsumen yang solid.

Tags

Terkini