MEDIAKEUANGAN.ID — Penghargaan diserahkan langsung kepada Direktur Utama Bank Jakarta, Agus H. Widodo, dalam puncak acara Hari Indonesia Menabung dan Bulan Literasi Keuangan 2026 di Sekolah Rakyat Menengah Atas 13 Bekasi, Jumat (28/8). Agus menyatakan penghargaan ini menjadi motivasi bagi perseroan untuk terus memperluas akses dan pemahaman keuangan sejak usia dini.
Kategori yang dimenangkan Bank Jakarta adalah Bank Implementasi KEJAR Terbaik untuk kelompok Bank Pembangunan Daerah (BPD). Selain itu, bank tersebut juga masuk finalis untuk kategori Bank Teraktif dalam pelaksanaan Bank Goes to School, sebuah program edukasi perbankan langsung ke sekolah-sekolah.
Peran Strategis Tabungan SimPel
Upaya edukasi tersebut diwujudkan melalui Tabungan SimPel (Simpanan Pelajar), produk yang dirancang khusus untuk membangun budaya menabung dan mengajarkan pengelolaan keuangan dasar kepada pelajar. Produk ini menjadi ujung tombak Bank Jakarta dalam menjangkau generasi muda yang belum tersentuh layanan perbankan formal.
Sekretaris Perusahaan Bank Jakarta, Arie Rinaldi, menekankan bahwa program ini tidak hanya berhenti pada kepemilikan rekening semata.
"Bagi Bank Jakarta, Program KEJAR bukan hanya mengenai kepemilikan rekening, tetapi juga bagaimana membangun kebiasaan menabung serta meningkatkan pemahaman pelajar terhadap pentingnya pengelolaan keuangan sejak dini," ujar Arie dalam keterangan resmi, Selasa (1/9).
Kolaborasi Pemprov DKI dan Sekolah
Pencapaian ini tak lepas dari sinergi dengan pemerintah daerah. Pada kesempatan yang sama, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga meraih penghargaan sebagai Wilayah Implementasi KEJAR Terbaik Tingkat Provinsi Regional Jawa-Bali. Sementara itu, SLBN 02 Jakarta, yang merupakan mitra sekolah Bank Jakarta, berhasil menjadi finalis pada kategori Satuan Pendidikan Sekolah Luar Biasa.
Ke depan, Bank Jakarta berkomitmen memperkuat kolaborasi dengan pemangku kepentingan — mulai dari pemerintah daerah, OJK, hingga satuan pendidikan — untuk memperluas pemanfaatan layanan keuangan bagi pelajar. Langkah ini sejalan dengan agenda nasional untuk mengejar ketertinggalan indeks inklusi keuangan Indonesia dibanding negara tetangga, khususnya di segmen pelajar.