JAKARTA - Lembaga Kementerian Keuangan membukukan jumlah kewajiban utang pemerintah per 30 Juni 2026 melampaui Rp10.293,69 triliun, yang terbagi atas Surat Berharga Negara (SBN) bernilai Rp8.966,79 triliun (87,11%) beserta pinjaman sebesar Rp1.326,90 triliun (12,89%).
Pada paruh pertama tahun 2026, akumulasi kewajiban tersebut melambung Rp655,79 triliun, dipicu taktik penarikan pinjaman lebih awal (front loading) serta imbas dari merosotnya nilai tukar rupiah terhadap porsi utang dalam valuta asing (valas).
"Oleh karena posisi utang dinyatakan dalam rupiah, terdapat tambahan akibat pelemahan rupiah pada utang berdenominasi valuta asing (valas)," ujar Ekonom Bright Institute, Awalil Rizky, dalam risetnya, Kamis (13/8/2026).
Secara terperinci, pemenuhan dana utang APBN sampai penutupan Juni 2026 tertera Rp477,43 triliun guna menambal defisit APBN sebesar Rp196,5 triliun dan alokasi pembiayaan investasi bernilai Rp52,21 triliun.
Akan tetapi, taktik penarikan pinjaman di awal menjadikan jumlah pembiayaan jauh melampaui keperluan nyata defisit.
"Pembiayaan utang yang jauh melampaui defisit, disebabkan kebijakan berutang terlebih dahulu (front loading) untuk keperluan bulan-bulan berikutnya," ungkap Awalil.
Gambaran tersebut terlihat dari Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) yang berada di angka Rp255,5 triliun pada penutupan Juni 2026.
Pada momen bersamaan, faktor depresiasi nilai mata uang sepanjang enam bulan awal tahun ini mengkontribusikan pembengkakan beban utang sekeliling Rp154 triliun.
Merujuk catatan publikasi, SBN dengan mata uang rupiah berada di level Rp7.118,39 triliun, sementara SBN berdenominasi valas menyentuh Rp1.848,40 triliun.
Walaupun instrumen SBN rupiah naik Rp368,17 triliun ketimbang catatan pada akhir tahun 2025, porsi persentasenya dari total SBN justru terkikis dari 80,48% menjadi 79,39%.
Di sisi lain, SBN valas melesat Rp211,42 triliun yang memicu kenaikan porsinya dari 19,52% menjadi 20,61%.
Secara lebih detail, dinamika instrumen SBN valas sepanjang Semester I-2026 meliputi mata uang dolar AS hingga dolar Australia.
Dolar Amerika Serikat (USD) secara nominal mengalami penurunan dari USD82,46 miliar menjadi USD81,89 miliar.
Namun berkat adanya depresi rupiah (dari Rp16.720 menjadi Rp17.899 per USD), kalkulasi nilainya dalam mata uang rupiah membengkak dari Rp1.378,71 triliun menjadi Rp1.465,71 triliun.
Mata uang USD terus memimpin portofolio SBN valas dengan porsi menyentuh 73,34%.
Selanjutnya Euro (EUR) melonjak dari EUR9 miliar (Rp176,62 triliun) menjadi EUR12,95 miliar (Rp264,21 triliun), dengan porsi 18,41%.
Berikutnya Yen Jepang (JPY) merangkak dari JPY546,40 miliar (Rp58,35 triliun) menjadi JPY620,30 miliar (Rp68,43 triliun), dengan porsi 4,77%.