Peran Strategis Pasar Modal Perkuat Pembiayaan Pembangunan Indonesia

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:50:17 WIB
Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung. (FOTO: NET)

JAKARTA - Wakil Menteri Keuangan, dari sumbernya, menerangkan bahwasanya pasar keuangan kini menjadi pilar utama pembiayaan sektor swasta guna memenuhi estimasi kebutuhan investasi nasional sebesar Rp 8.705 triliun pada 2027.

Dari sumbernya memaparkan bahwasanya daya tampung APBN tidak bakal memadai untuk mendanai seluruh agenda pembangunan, mulai dari infrastruktur, energi, pendidikan, peningkatan mutu SDM, hingga program hilirisasi.

"APBN saja itu tidak pernah cukup untuk membiayai seluruh kebutuhan pembangunan kami," kata dari sumbernya dalam peluncuran ETF Emas di Bursa Efek Indonesia, Senin (10/8/2026).

Dari keseluruhan estimasi investasi itu, APBN diproyeksikan cuma sanggup menanggung anggaran sekitar Rp 459 triliun.

Grup BUMN, termasuk entitas Danantara, menyumbang porsi sekitar Rp 330 triliun.

Di sisi lain, porsi paling dominan wajib bersumber dari pembiayaan swasta yang menyentuh angka Rp 7.973 triliun atau setara 91 persen.

Dari sumbernya menerangkan bahwa pendanaan swasta itu meliputi industri perbankan, lembaga pembiayaan, hingga pasar modal.

Menurut pandangannya, bursa efek memegang peranan krusial lantaran sanggup menjembatani keperluan modal korporasi dengan dana publik.

"Di sinilah pasar modal memegang peran strategis sebagai sumber pembiayaan swasta. Pasar modal adalah jembatan yang menghubungkan kebutuhan pembiayaan korporasi dengan dana masyarakat," ujarnya.

Dari sumbernya berpendapat bahwasanya penguatan pasar modal mesti terus dipacu supaya dapat menunaikan fungsi pendanaan ini secara maksimalkal.

Pemerintah terus memicu perluasan cakupan pemodal, variasi produk investasi, peningkatkan likuiditas, serta penyempurnaan tata kelola.

Sampai paruh pertama tahun 2026, dana senilai lebih dari Rp 125 triliun sukses dijaring lewat pasar modal dengan keterlibatan sekitar 28 juta investor.

Hadirnya ETF emas, menurut dari sumbernya, menjadi wujud konkret dalam memperbanyak opsi berinvestasi sekaligus memperdalam pasar keuangan dalam negeri.

Ia memberikan catatan bahwasanya dana kelolaan ETF emas secara global telah menyentuh US$ 559 miliar pada 2025 dengan akumulasi fisik emas sekitar 4.025 ton.

"Yang kami lakukan hari ini bukan sekadar menambah satu produk, kami sedang memperluas pilihan investasi sekaligus memperdalam pasar keuangan kami agar dapat bersaing dengan pasar modal regional maupun global," pungkasnya.

Tags

Terkini