JAKARTA - Ketidakstabilan kondisi finansial membuat banyak individu memilih untuk lebih berhati-hati dalam mengelola keuangan.
Namun demikian, tidak sedikit pula yang justru mengambil langkah bertolak belakang: semakin cemas membayangkan masa depan, makin kuat pula dorongan untuk membelanjakan uang.
Mulai dari membeli pakaian, perangkat elektronik, produk kecantikan, hingga memesan tiket liburan secara mendadak, pengeluaran tersebut umumnya dilakukan bukan demi pemenuhan kebutuhan dasar, melainkan untuk memperoleh kebahagiaan sejenak di tengah tekanan hidup.
Istilah bagi fenomena ini dikenal sebagai doom spending, sebuah topik yang belakangan gencar dibahas ahli ekonomi, psikolog, serta perencana keuangan seiring meningkatnya keresahan publik mengenai kenaikan harga barang, beban hidup, hingga situasi perekonomian global.
Berdasarkan paparan ahli psikologi dari sumbernya, yang dikutip pada Sabtu (8/8/2026), doom spending merupakan tindakan menguras dana secara impulsif sebagai respons atas rasa takut, gelisah, atau putus asa melihat masa depan.
Aktivitas berbelanja ini dimanfaatkan sebagai sarana pelarian emosional guna meredakan stres, walaupun keuntungannya cuma berlangsung sesaat.
"Doom spending adalah saat seseorang membelanjakan uang untuk mengatasi perasaan putus asa, kecemasan, atau ketakutan akan masa depan," kata dari sumbernya.
Perilaku ini kian menyita perhatian setelah merebaknya pandemi Covid-19, saat warga di berbagai belahan dunia mesti berhadapan dengan laju inflasi tinggi, lonjakan bunga bank, bayang-bayang resesi, serta ketidakpastian geopolitik yang mengguncang stabilitas ekonomi.
Bagi sejumlah orang, transaksi pembelian tak lagi sekadar untuk memenuhi keperluan, melainkan sarana mendongkrak suasana hati.
Lembaga psikologi dari sumbernya menyebutkan persoalan finansial merupakan salah satu pemicu tekanan jiwa terbesar bagi masyarakat.
Dalam keadaan tertekan, otak cenderung mencari pemuas instan melalui pelepasan zat dopamin, yang salah satunya bisa diperoleh lewat transaksi belanja.
Akan tetapi, efek kegembiraan itu umumnya berlangsung singkat.
Seusai rasa gembira memudar, timbul penyesalan saat mendapati saldo tabungan menipis atau tagihan kartu kredit melonjak.
Dampaknya, seseorang dapat terjebak pada rantai perilaku yang berulang: merasa panik, berbelanja untuk menenangkan diri, lalu kembali tertekan lantaran situasi keuangannya makin memburuk.
Menurut penjelasan dari sumbernya, perilaku tersebut sama sekali tidak menyelesaikan akar permasalahan utama.
"Berbelanja mungkin dapat mengurangi tekanan emosional untuk sementara waktu, namun tidak menyelesaikan masalah yang mendasarinya," ujar dari sumbernya.
Kecenderungan doom spending amat marak ditemui pada kelompok umur muda yang menghadapi tingginya biaya hidup serta gempuran informasi di media sosial.
Hasil riset dari sumbernya memperlihatkan 27 persen responden mengaku pernah mempraktikkan doom spending.
Persentase tersebut bahkan melambung pada kelompok generasi milenial mencapai 43 persen, sementara 35 persen responden dari generasi Z mengaku melakukan tindakan serupa.
Dalam riset yang sama, kurand lebih 96 persen responden menyatakan rasa cemas terhadap dinamika perekonomian.
Berdasarkan kajian dari sumbernya, perpaduan maraknya kabar negatif terkait inflasi, ancaman pemutusan hubungan kerja, konflik global, serta promosi produk yang terus bermunculan di jejaring sosial membuat sebagian orang memilih menikmati dana saat ini daripada memikirkan masa depan yang penuh ketidakpastian.
Kondisi ini makin diperparah oleh munculnya rasa takut tertinggal tren (FOMO), di mana seseorang merasa harus mengekor gaya hidup agar tidak teralienasi dari lingkungannya.
Perkembangan teknologi digital kian mempermudah terjadinya doom spending.
Kehadiran dompet digital, kartu kredit, hingga fasilitas pembiayaan pascabayar mengurangi kendala psikologis saat seseorang hendak bertransaksi.
Pakar psikologi konsumen dari sumbernya menerangkan semakin praktis proses pembayaran, kian minim pula rasa kehilangan uang yang dialami saat bertransaksi.
Dalam laporannya, lembaga psikologi dari sumbernya memaparkan bahwa mekanisme pembayaran digital membuat proses belanja berjalan tanpa hambatan, sehingga keputusan membeli lebih sering dikuasai emosi ketimbang rasio.
Implikasinya, masyarakat menjadi sangat rentan membeli barang-barang yang sebetulnya tidak diperlukan.
Dalam jangka panjang, kebiasaan ini sanggup menumpuk utang konsumtif, menguras dana cadangan, menghambat investasi, hingga memicu gangguan kesehatan jiwa akibat beban finansial.
Sejumlah pakar menilai penanganan doom spending tak cukup hanya mengandalkan penyusunan anggaran, melainkan wajib memahami pemicu emosional di balik perilaku tersebut.
Dari sumbernya menyarankan agar masyarakat mengenali lebih dahulu faktor pemicu yang membangkitkan hasrat berbelanja.
Apakah dipicu oleh beban kerja, kecemasan pada kondisi ekonomi, rasa kesepian, atau sekadar bosan usai menjelajah media sosial.
Setelah faktor pemicunya teridentifikasi, dorongan tersebut dapat dialihkan pada aktivitas lain yang lebih positif, seperti berolahraga, berjalan santai, membaca, memasak, atau berkumpul bersama keluarga.
Di samping itu, merancang alokasi anggaran bulanan menjadi langkah vital.
Satu di antara metode populer adalah skema 50/30/20, yakni mengalokasikan 50 persen pendapatan untuk kebutuhan primer, 30 persen bagi keinginan, dan 20 persen disisihkan untuk tabungan maupun investasi.
Langkah mudah lainnya adalah memberlakukan jeda 24 jam sebelum memutuskan membeli barang yang tidak ada dalam rencana awal.
Dengan memberikan tenggat waktu, emosi yang memuncak biasanya bakal melandai sehingga keputusan berbelanja menjadi lebih rasional.
Membatasi paparan iklan digital juga terbukti efektif.
Para ahli menyarankan untuk mematikan notifikasi aplikasi belanja, memutus ikutan pada akun media sosial penyebar gaya konsumtif, serta menghapus data pembayaran tersimpan di aplikasi e-commerce agar transaksi tak terlalu mudah dilakukan.
Apabila kebiasaan ini mulai mengganggu stabilitas keuangan maupun kesehatan mental, berkonsultasi dengan penasihat keuangan atau psikolog dapat menjadi opsi terbaik.
Menurut lembaga dari sumbernya, hubungan seseorang dengan dana simpanannya tidak cuma dipengaruhi oleh besaran penghasilan, melainkan juga faktor psikologis, rekam jejak kehidupan, serta kecakapan mengelola beban stres.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, rasa cemas memang sukar dihindari.
Namun, para pakar mengingatkan bahwa menjadikan belanja sebagai pelarian hanya memberikan ketenangan bersifat semu.
Sebaliknya, mengintegrasikan pola keuangan yang sehat, memupuk simpanan darurat, serta memahami keterkaitan antara emosi dan keputusan finansial akan menghadirkan rasa aman yang jauh lebih bertahan lama ketimbang kepuasan sesaat seusai menyelesaikan transaksi belanja.