Pergerakan IHSG Sesi I Tertahan Stagnan Pada Posisi Level 6.351 Poin

Kamis, 06 Agustus 2026 | 10:26:38 WIB
Ilustrasi Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) (FOTO: NET)

JAKARTA - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di posisi stagnan sepanjang sesi perdagangan Kamis (6/8/2026).

Merujuk data resmi Bursa Efek Indonesia (BEI), saat jeda siang perdagangan pertama jam 12.00 WIB IHSG parkir pada angka 6.351,22 alias tidak bergeser dari patokan penutupan kemarin.

Selama periode sesi awal, IHSG berfluktuasi pada kisaran terendah 6.324 serta sempat menggapai puncak tertinggi di kisaran 6.388.

Putaran nilai transaksi terpantau marak dengan membukukan akumulasi Rp 10,36 triliun dan volume jual beli mencapai 34,72 miliar lembar saham lewat 1,63 juta frekuensi transaksi.

Tercatat 274 saham berhasil merangkak naik, 333 saham mengalami penurunan, sedangkan 184 saham lainnya bergerak mendatar.

Tiga kelompok industri yang menorehkan lompatan tertinggi meliputi bidang utilitas, manufaktur industri, dan barang konsumsi primer.

Di sisi berlawanan, sektor pelayanan kesehatan, teknologi, properti, beserta keuangan harus rela mengalami pelemahan sesi ini.

Pergerakan datar IHSG ini berlangsung di tengah dinamika bursa kawasan Asia-Pasifik yang menunjukkan tren variatif.

Mengutip dari sumbernya, indeks Nikkei 225 Jepang mengawali perdagangan dengan penurunan sekitar 0,5%, sedangkan indeks Topix merayap tipis pada area hijau.

Untuk wilayah Korea Selatan, indeks Kospi menyusut 1,8%, namun indeks Kosdaq menguat sedikit.

Sementara itu, indeks acuan bursa Australia S&P/ASX 200 terangkat kurang lebih 0,1%.

Daya dorong pasar pada transaksi harian ini cenderung bernada positif berkat perpaduan dorongan dari dalam negeri maupun luar negeri.

Di tingkat lokal, keyakinan investor terangkat setelah laju pertumbuhan ekonomi Indonesia melesat 5,29% pada kuartal II-2026, melampaui proyeksi konsensus analis sebesar 5,12%.

Badan Pusat Statistik juga mengumumkan angka kemiskinan merosot ke tingkat terendah sejak kurun 1999 dan angka pengangguran menyentuh rekor terendah sepanjang tiga dasawarsa terakhir.

Pihak otoritas negara pun menyuntikkan insentif ekonomi tambahan di paruh kedua 2026, mencakup bantuan sosial, subsidi biaya transportasi, pengucuran dana SAL senilai Rp70 triliun ke perbankan BUMN guna menyokong likuiditas, hingga penangguhan pungutan pajak e-commerce untuk mengamankan konsumsi warga.

Di ranah mancanegara, spekulasi meredanya tensi konflik antara AS dan Iran konsisten menyokong selera risiko investor seiring progres positif pada perundingan pembukaan akses Selat Hormuz.

Prospek baik tersebut menahan pergerakan harga minyak dalam lajur penurunan sehingga berpotensi menekan gejolak inflasi dunia.

Di samping itu, indikator ketenagakerjaan AS yang merosot di bawah estimasi menguatkan peluang pemangkasan suku bunga oleh The Federal Reserve, walau aktivitas industri jasa AS masih mencatatkan pertumbuhan.

Rangkaian faktor pendorong ini diproyeksikan mampu kembali memperkokoh pergerakan instrumen berisiko, termasuk IHSG serta nilai tukar rupiah pada sesi transaksi hari ini.

Tags

Terkini